Saturday, June 14, 2014

Detective Nina

Aku bingung.
Bagaimana bisa cintaku terpaut padamu?
Apakah ini ujian hati? Atau ini hanya lelucon Tuhan?
Sungguh aku belum siap jika ini hanya lelucon Tuhan.

Nina membuang puisi itu kedalam tong sampah. Entah ini sudah yang keberapa kalinya ia mendapati hal yang sama setiap hari. Seperti tak ada bosannya, sosok misterius itu selalu mengirimkan sepucuk surat kepadanya. Nina sendiri bingung. Siapa yang mengirim ini? Apa tujuannya? Sampai kapan dia mengirim surat seperti ini? Ribuan pertanyaan membanjiri pikirannya, namun tetap tak ada jawaban sedikitpun.

“ Ini siapa sih yang ngirimin aku puisi tiap hari?”
“Ciee dapet puisi lagi. Liat dong, Nin...” Goda Dion, teman satu kelasnya yang berperawakan kurus.
“Sudah aku buang. Kalo mau baca besok aja, pasti puisinya datang lagi kok” Jawab Nina ketus.
“Kamu enak tiap hari ada yang ngirimin puisi. Lah aku? Sekalipun nggak pernah” Sambar Citra yang merupakan sahabat baik Nina. Dia ingin seperti Nina, ada yang mengiriminya puisi, memberi perhatian walaupun kecil. Namun harapannya belum terwujud.
“Kamu aku kirimin surat Yasin aja. Mau nggak?” Ucap Dion yang disambut gelak tawa Nina.

Keesokan harinya, Nina sengaja berangkat sekolah pagi-pagi. Waktu itu pukul 6:30, ia sudah ada di sekolah. Harapannya ia bisa mengetahui siapa sosok misterius yang selalu meletakkan puisi diatas mejanya itu. Tapi harapan tak sesuai kenyataan. Pagi itu Nina mendapati sebuah puisi sudah terletak diatas mejanya. Lagi-lagi ia kalah cepat dengan si pengirim puisi itu. Dengan sedikit kesal, Perlahan Nina membuka puisi yang kertasnya bermotif hati itu dan kemudian membacanya.

Bersama surat yang aku kirimkan, semoga jiwamu selalu damai.
Pagi ini aku menerka lagi, mengapa cinta belum mampu menyatukan kita? Apakah ini hanya impian semu yang takkan menjadi nyata?semoga surat ini membuatmu tersenyum, karena disini, aku menantikan senyum indahmu

Sial! Batinnya.

Siapa sebenarnya orang ini? Jangan-jangan yang mengirim puisi ini adalah pak Darmo penjaga sekolah? Nina terus berasumsi. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi sekarang. semua cara yang dilakukannya untuk dapat mengetahui siapa sosok misterius ini selalu saja gagal. Dia—sang pengirim puisi—masih terlalu hebat menyembunyikan identitasnya.

Waktu terus saja berlalu. Tak terasa sudah sebulan lebih Nina selalu mendapatkan puisi diatas mejanya. Nina sudah mulai terbiasa  menikmati setiap puisi yang ditulis oleh sosok misterius itu. Ia juga tak membuang puisi itu kedalam tempat sampah lagi. Selain  mendapatkan kiriman puisi setiap hari, terkadang Nina juga mendapatkan sms-sms dari sosok yang sama. Tapi siapa?

“Ehh, Nin. Kamu masih sering dapet kiriman puisi-puisi?” Tanya Citra memecah hening.
“Masih dong” Jawab Nina singkat sembari mengunyah mie ayam kesukaannya.
“Wahh nggak ada nyerahnya ya itu orang. Salut deh!”
“Bilang aja kamu iri. Iya kan? Pake salut-salut segala hahaha” ucap Dion seolah mengejek Citra.
“Dion apaan sih. Nggak jelas banget wooo” Ucap Citra kesal. “Ehh kalian aku tinggal ke kelas dulu ya. Sebentar aja kok, byee..”

Citra pergi melengos ke kelasnya. Tak ada yang menghiraukan. Nina masih sibuk mengunyah mie ayamnya, sementara Dion baru saja menyelesaikan suapan terakhir baksonya.

“Jadi, sampai kapan kamu mau ngirimin aku puisi terus?” Tanya Nina sejurus kemudian. Ia tampak serius. Matanya menatap Dion dengan tajam. Ia seolah seperti polisi yang sedang menginterogasi seorang tersangka. Celakanya, Dion adalah ‘tersangkanya’ disini.
“Nggg.... maksud kamu, Nin? Aku nggak paham deh” Jawab Dion terbata-bata. Ia tampak gugup.
“Udah nggak usah bohong. Aku udah tau yang sebenarnya. Kamu kan yang ngirimin aku puisi sebulan lebih ini?”

Dion terdiam. Kepalanya tertunduk lesu, lidahnya pun seolah kaku. Dion tak menyangka akhirnya Nina tau yang sebenarnya.

“Nggg... iii..iyaa, Nin. Aku orang yang selama ini ngirimin puisi ke kamu. Maafin aku yaa. Kamu nggak marah kan?” Dion mengaku dengan lantang.
“Tuh kan bener. Hahahaaa. Nggak apa-apa kok, santai aja”
“Tapi darimana kamu tau, Nin?” Dion yang malu mulai penasaran.
“Kamu ceroboh, Dion. Kamu lupa kalo kita sudah satu kelas selama tiga tahun? Aku sudah hafal gaya tulisan kamu. Lain kali kalo mau ngirim puisi ke aku suruh orang lain deh yang nulisnya. Selain itu, aku juga dapet banyak info dari penjaga sekolah kita, Pak Darmo. Waktu itu aku nyuruh dia buat memantau siapa orang yang datang pertama di kelas kita. Menurut laporan beliau, kamulah orang yang setiap hari datengnya cepat terus. Dia juga sering liat kok kalo kamu meletakkan puisi itu diatas meja aku. Nah selesai kamu meletakkan puisi itu, kamu pergi ke warung nasi uduk di depan sekolah kita buat sarapan. Iya kan? Terus pas udah agak siang baru deh kamu ke sekolah. Seolah-olah datangnya siang. Ohh  iya satu lagi. Kemarin aku minjem hp kamu kan? Nah pas aku minjem, aku sengaja liat isi sent box kamu. Dan disana aku liat tiap pesan yang kamu kirim ke aku, mulai dari selamat malam, Nina, selamat tidur, Nina, selamat belajar, Nina, macam-macam deh. Kamu lupa hapus ya? Hahaha” jelas Nina panjang lebar. Lagi-lagi Dion hanya bisa terdiam. Apa yang diucapkan Nina itu semuanya benar. Dion seolah-olah ‘ditelanjangi’. Ia merasa sangat malu.

“Jadi, apa benar isi puisi itu?” Tanya Nina bertubi-tubi. Belum selesai Dion dibuatnya salah tingkah, ia semakin membuat Dion tak berkutik di depannya.
“Isi puisi yang mana?” jawab Dion lirih.
“Semuanya. Apa benar kalau kamu cinta sama aku?”

DEEGGG!

Dion semakin tak bermuka. Ia seperti ditantang habis-habisan oleh Nina. Selama ini Dion cuma berani mengungkapkan perasaannya lewat suratnya yang berisi puisi, tapi sekarang ia benar-benar berhadapan dengan orang yang ia kagumi. Dion mencoba menenangkan diri sembari mengumpulkan keberanian. Sejenak ia menutup matanya dan mengambil nafas panjang. Kemudian....

“Iya, aku cinta sama kamu. Maaf kalau selama ini aku cuma bisa bilang lewat puisi-puisi itu. Nina, maukah kamu...”
“Kamu terlambat” Nina memotong ucapan Dion “Aku sudah pacaran dengan orang lain. Memang dia tak pandai merangkai kata-kata seperti kamu, dia tak bisa membuat aku kagum dengan puisi-puisi seperti kamu. Tapi dia melakukan hal yang membuat aku tau kalau dia cinta dengan aku. Berbeda dengan kamu, Dion. Kamu memang melakukan segala cara untuk membuat aku bahagia, membuat aku kagum dengan kata-katamu. Tapi kamu tidak melakukan satu hal pun yang membuat aku tau kalau kamu cinta sama aku. Maaf”

Nina melangkah pergi. Ia meninggalkan Dion dengan pasti. Disatu sisi Nina lega bisa mengetahui siapa pengirim puisi itu, tapi disisi lain dia juga tak tega telah menghancurkan hati temannya sendiri. Sedikit banyak hal itu membuat Nina tidak tenang. Namun Nina tetap melangkah meninggalkan Dion. Belum terlalu jauh ia melangkah, tiba-tiba seseorang memanggil Nina. Ia kaget dan kemudian menghentikan langkah kakinya, lalu melihat kebelakang, kearah sumber suara.

“Hey Nak, bayar dulu Mie ayamnya. Main pergi aja..” Kata si penjual Mie ayam.


Ternyata Nina lupa membayar mie ayam yang sudah dilahapnya.
Share:

Thursday, June 5, 2014

Ikhlaskanlah

Pukul 2:30 sore, seorang siswa laki-laki mendatangi perempuan yang sedang duduk sendirian di dalam kelasnya. Perempuan itu tampak menangis tersedu-sedu. Wajahnya seolah layu pertanda sarat akan kesedihan.

“Kamu kenapa menangis? Apa yang membuatmu bersedih?” Lelaki itu memecah keheningan.

“Kenapa seseorang tega melepaskan orang yang sangat mencintainnya?” Sang perempuan menjawab sembari menyeka air matanya.

“Tidak ada satupun orang di dunia ini yang tega melepaskan cinta. Jika itu ada, mungkin itu karena melepaskan memang salah satu jalan yang terbaik. Percuma saja jika raga terus bersama namun hati dengan gagah ingin melepaskan”

“Tapi aku belum bisa melepaskannya. Aku sangat mencintai dia”

“Kamu seharusnya bersyukur. Dengan dia yang tega melepaskanmu, berarti dia mengizinkanmu untuk mencari orang yang lebih baik lagi dari dia. Bukankah kamu lebih baik sakit hati di awal daripada nanti setelah sekian lama bersama kamu baru disakiti? Ikhlaskanlah. Perempuan secantikmu tak pantas menangisi orang yang menyakitimu”

“Kamu tidak mengerti. Apa yang akan kamu lakukan jika berada diposisiku? Ketika cinta yang kamu harapkan menjadi penyempurna hati, ia malah menghancurkan hatimu”

“Aku akan tersenyum. Aku akan membiarkan cinta yang tidak pantas aku miliki untuk meninggalkanku. Kemudian aku akan segera bangkit dan melupakannya. Setidaknya ia memberikan pelajaran bahwa cinta sungguh bukan mainan. Ia butuh ketulusan, keikhlasan, dan kekuatan untuk saling menguatkan atau saling melepaskan”

“Aku tidak bisa melupakannya. Dia adalah manusia terbaik yang aku cintai”

“Apa yang menurutmu baik belum tentu baik menurut Tuhan. Kadang, Tuhan mengujimu melalui orang yang kamu cintai. Setelah itu, Tuhan pasti memberikanmu kebahagiaan yang berlebih. Jangan menangis. Ini yang terbaik”

“Bagaimana bisa aku tidak menangis? Sementara orang yang sedang aku tangisi kini memberikanku wejangan untuk melupakan. Mengapa kamu tega meninggalkanku?”


Perempuan itu pergi meninggalkan lelaki yang melukai hatinya.
Share:

Thursday, May 29, 2014

Sebuah Pesan

Kita tertawa lepas disenja itu. Diujung cakrawala sana burung-burung berterbangan seolah cemburu melihat kita memadu kasih. Sesekali sapuan ombak sampai diujung kaki kita. Aku mendengarkan dengan baik setiap cerita yang keluar dari bibirmu waktu itu, sebelum akhirnya aku terbangun dan menyadari bahwa semuannya hanya mimpi.

Sejak kapan mimpi jadi penghapus rindu? Sejak aku kehilangan dirimu.

Lagi-lagi aku memimpikan kamu, Nona. Sejak pertemuan terakhir itu engkau selalu hadir menghiasi tidurku. Entah apa arti dari semua ini. Apa hanya dengan cara ini aku bisa melihatmu lagi? Apa hanya dengan cara ini aku bisa berbicara denganmu lagi? Atau ini jawaban dari Tuhan atas doa-doaku yang selalu meminta untuk dipertemukan denganmu kembali? Entahlah. Aku hanya bisa menikmati setiap mimpiku tentangmu.  Tapi konon katanya jika kita memimpikan seseorang maka orang itu juga memimpikan kita. Benarkah itu, Nona? Apa kamu juga memimpikan aku? Ahh tidak tidak. Aku tidak akan berharap sejauh itu. Jika kamu masih mengingatku saja itu sudah cukup.

Boleh aku bercerita? Sejak kita mulai menjauh satu sama lain, aku mulai merasakan betapa berharganya waktu yang kubuang percuma kala itu. Menyadari betapa bodohnya aku saat mengabaikanmu. Kini yang tersisa hanya sesal. Aku seolah berjalan sendiri di dalam labirin penyesalan, berusaha mencari jalan keluar tapi yang kudapat hanyalah kebuntuan.

Sekarang kita sudah lama tak bertatap mata, alih-alih waktu akan menghapus kamu dari ingatanku, ia malah membawa rindu yang kian dahsyat merasuk kalbu.

Aku disini sekarang, disuatu tempat dimana aku pernah mengenalmu, tempat dimana aku pernah melihatmu tertawa, dan tempat dimana aku pernah melihat senyuman seorang bidadari.


Nona, jangan pernah lelah hadir di dalam mimpiku ya.
Share:

Saturday, May 10, 2014

Dare To Dream

“Emak! Pokoknya Asep mau ke Inggris. TITIK!”
“Ke Inggris mata lo! Beli beras aje susah. Udah pergi sono bantuin Babe lo di sawah”

Asep terdiam. Dia hanya menuruti perintah Emaknya. Namun di hatinya yang paling dalam, Asep tetap ingin menggapai mimpinya yaitu pergi ke Inggris. Tapi bagaimana caranya?

Nah itu tadi cuma secuil pembukaan aja. Cuma fiktif belaka kok. Tapi yang jelas Asep dan saya mempunyai mimpi yang sama? Apa itu? Yap! pergi ke INGGRIS.

Entah kenapa dari dulu saya sangat tertarik sama negeri satu ini. Mungkin ini akibat pelajaran Bahasa Inggris. Iya, mungkin kalo pas SD dulu diajarkan bahasa Jerman, bisa saja saya lebih tertarik ke Jerman. Ahh sudahlah.

Ohiya, saya ada hadiah sedikit nih. Karena mau foto langsung kesana belum kesampaian, jadinya iseng edit-edit foto gini. hehehee
Ini ceritanya selfie di depan Big Ben :D
yang ini abis nelpon foto dulu :D

Nahh jadi sebenarnya kenapa saya sangat ingin ke Inggris? Pertama karena saya suka sepakbolanya. Hehehe. Sebagai salah satu pecinta sepakbola, sangat sangat mengagumi sepakbola di Inggris. Terutama Liga Inggris yang – katanya – sebagai Liga terbaik di dunia. Nggak usah dibandingin deh sama yang di Indonesia. Kalah jauhhhhhhh. Semoga nanti saya bisa duduk di salah satu tribun penonton di stadion Wembley. Amin..

Alasan kedua adalah karena saya terinspirasi dari buku nya Ahmad Fuadi. Yap, setelah saya membaca novel trilogi Negeri 5 Menara beliau, saya sadar bahwa tidak ada alasan untuk tidak mempunyai mimpi yang besar. Beliau yang dulunya bisa dikatakan (maaf) orang yang tidak punya, bisa mewujudkan mimpinya untuk kuliah di Amerika. Nahh saya tertantang. Saya juga bukan berasal dari keluarga yang kaya. Tapi saya tidak takut bermimpi untuk ke Inggris. Siapa tau bisa sama seperti bang Ahmad Fuadi, tinggal di luar negeri bersama wanita tercinta. Iya, itu kamu, ****. hahahahaaa

Alasan ketiga sebenarnya sangat simple, yaitu karena saya ingin merasakan salju. Hahaha agak absurd ya. Tapi memang ini kenyataannya. Dari dulu saya sangat penasaran bagaimana rasanya memegang salju, merasakan dinginnya salju yang menempel di lidah, dan lempar-lemparan bola salju. Liat orang Eropa pas musim salju mulutnnya kalo ngomong ngeluarin asap gitu kesannya keren banget. Hahahaa.

Bicara kapan target kesana, saya sudah menghitungnya jauh-jauh hari. Beruntungnya saya masih muda sekarang. Umur 18 tahun ini kan saya bakal lulus SMA nih (AMINNN), dan terus kuliah yang saya targetkan paling lama 5 tahun. Jadi saat lulus kuliah umur saya masih 23 tahunan lah. Saat itulah masa produktifnya mencari duit. Kerja-gajian-tabung, kerja-gajian-tabung-dst.... Setelah duitnya terasa cukup, tanggal 7 Januari 2025 saya HARUS berangkat ke Inggris. InsyaAllah. Masih lama ya? Yahh nggak apa-apa deh. Daripada cepet-cepet terus pas nyampe di Inggris duitnya capet abis juga karna belum cukup. Heheheee.

Untuk menggapai mimpi saya itu,  tentunya saya tidak boleh berdiam diri dan cuma berharap dong. Apa yang harus dilakukan? Usaha, berdoa, dan jangan lupa minta doa orangtua. Yap, point terakhir itu sangat penting. Ingat yaa, dibalik orang yang sukses meraih mimpinya, pasti ada doa orang tua yang menyertai. Selain itu, mungkin sepotong quote ini akan terus menjadi pembakar semangat saya.

“ Bermimpilah setinggi langit, bahkan lebih tinggi lagi. Dan jika seandainya engkau terjatuh, maka engkau akan terjatuh diantara taburan bintang-bintang”

Tapi jika pada akhirnya usaha saya tidak membuahkan hasil dan saya tidak jadi pergi ke Inggris, tentunya saya akan sangat kecewa, sedih, dan marah. Marah kepada siapa? Kepada diri saya sendiri tentunya. Kenapa saya bisa gagal mewujudkan mimpi sementara orang lain tidak? Tapi semoga usaha saya untuk mewujudkan mimpi tidak gagal :)

Btw, lagu The Changcuters yang berjudul London jadi lagu favorit saya loh. Itung-itung nyanyi berbonus doa. Hehehee J

“London....London... ingin ku kesana....”



“I DECLARE, I WILL ACCOMPLISH MY DREAMS”
Share:

Thursday, May 8, 2014

CARA MUDAH MEMAHAMI SOAL TPA PENARIKAN KESIMPULAN

Soal Tes Potensi Akademik (TPA) merupakan salah satu soal yang diujikan dalam Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau SBMPTN. Soal TPA juga sering diujikan dalam Seleksi Masuk Pascasarjana di berbagai Perguruan Tinggi. Dalam Soal TPA juga terdiri dari berbagai jenis soal, yakni Soal Numerik, Tes Verbal, Soal Sinonim atau Antonim, Soal Analogi, Soal Deret Bilangan, Tes Verbal, dan juga yang tidak kalah penting ialah Soal Penalaran.

Khusus untuk Soal Penalaran dalam TPA juga terdiri dari penalaran geometris, penalaran aritmatika, dan juga penalaran penarikan kesimpulan. Untuk soal penarikan kesimpulan memang telah dipelajari dalam kajian Matematika kelas X dulu, akan tetapi hanya sebatas pada Modus Tollens, Silogisme, dan Modus Ponen, namun untuk Soal TPA SBMPTN maupun TPA Seleksi Pascasarjana, ketiga model penrikan kesimpulan digabungkan.

Dalam Soal TPA Penarikan Kesimpulan ada beberapa metode yang sering keluar. Untuk mengerjakan soal TPA secara cepat kita harus tahu terlebih dahulu bagaimana metode dan cara mudah mengerjakannya. Adapun metode yang sering keluar ialah sebagai berikut:

METODE PERTAMA


Contoh Soal:



Semua Laki-laki di Kelas XII IPA 2 berambut Cepak
Sebagian yang berambut Cepak ialah pemain basket
Sebagian pemain basket merupakan idola para wanita
Kesimpulannya?

Cara mudah untuk memahami Soal TPA ialah MENCORET PREMIS YANG SAMA, misalnya seperti dibawah ini:

Pembahasan:
Ingat metode pertama diatas, kita dapat mencoret premis yang sama.
Pernyataan 1: Semua laki-laki di Kelas XII IPA 2 berambut cepak
Pernyataan 2: Sebagian yang berambut Cepak ialah pemain basket
Premis yang sama ialah Berambut Cepak maka kita dapat mencoretnya, maka pernyataannya menjadi:
Semua laki-laki di Kelas XII IPA 2 ialah pemain basket

Pernyataan 3: Sebagian pemain basket merupakan idola para wanita
Premis yang sama ialah Pemain Basket, maka pernyataannya menjadi:

Sebagian laki-laki di Kelas XII IPA 2 merupakan idola para wanita

Untuk Pernyataan SEMUA... bertemu dengan SEBAGIAN... , maka kesimpulannya menjadi SEBAGIAN


METODE KEDUA




Contoh Soal:


Semua Murid XII IPS 4 pandai Ekonomi
Semua yang pandai Ekonomi juga pandai Akuntansi
Narto ialah Murid XII IPS 4                                    
Kesimpulannya?

Pembahasan:

Sama seperti Metode Pertama, kita cari dulu premis yang sama, lalu kita coret. lalu kita ambil sisa pernyataannya tersebut, maka kesimpulannya ialah:
Narto Pandai Akuntansi.

METODE KETIGA





Contoh Soal:


Semua Mahasiswa Sastra Jepang fasih berbahasa Jepang
Orang fasih berbahasa Jepang juga fasih berbahasa Inggris
Orang fasih berbahasa Inggris juga pintar berpidato                 
Kesimpulannya?

Pembahasan:

METODE KEEMPAT




Contoh Soal:


Semua Mahasiswa Manajemen paham Manajemen Pemasaran

Sebagian Mahasiswa Universitas Bogor merupakan Mahasiswa Manajemen      
Kesimpulannya?


METODE KELIMA




Contoh Soal:


Mahasiswa Teknik Komputer ahli dalam merakit komputer dan Membuat Program
Sebagian Mahasiswa Universitas Bogor bukan Mahasiswa Teknik Komputer    
Kesimpulannya?

METODE KEENAM




Contoh Soal:


Ani ialah Murid SMK Panca Indera
Sebagian Murid kelas XII bukan Murid SMK Panca Indera
Kesimpulannya?

METODE KETUJUH




Contoh Soal:


Semua Siswa XII TKJ ahli Merancang Jaringan
Sebagian Siswa kelas XII TKJ ahli dalam Program Javascript
Kesimpulannya?

  METODE KEDELAPAN




Contoh Soal:


Tidak ada Murid XII Akuntansi yang fasih berbahasa Jerman
Semua Mahasiswa Akuntansi merupakan Murid XII Akuntansi
Kesimpulannya?


Dari metode diatasmemang tidak semua ada di soal TPA, namun terkadang juga soal TPA menggunakan metode-metode seperti diatas, oleh karena itu kita harus paham bagaimana metode penarikan kesimpulan yang diterapkan dalam TPA. Selain itu yang lebih terpenting ialah JANGAN SEKALI-KALI MENGHAFAL METODE DIATAS, karena hal ini dpaat menghambat kita dalam mengerjakan soal TPA nantinya, akan lebih baik apabila kita paham mengenai metode tersebut.

Sekian tulisan tentang Cara Mudah Memahami Soal TPA Penarikan Kesimpulan, mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penyajian materi, mohon kritiknya apabila ada kekurangan.

Terimakasih telah berkunjung, semoga membantu dan semoga LULUS SBMPTN.


Source: ikubarunovryan.blogspot.com/2014/03/cara-mudah-memahami-soal-tpa-penarikan.html
Share:

Tuesday, May 6, 2014

Hujan

Hujan hari ini membawaku rindu kepada satu nama.

Menyusup lembut ke fikiran membawa berjuta kenangan yang kian memburam.

Melengkungkan senyum tipis di bibir ketika mengingatnya kembali.

Aku disini, duduk termangu mengeja kata ditemani rintik hujan yang membawa dingin. Menuangkan segala emosiku kedalam secarik kertas.

Aku disini, berharap hujan yang membawa sejuk dapat menemaniku mengabadikan namumu lewat sajak-sajak nan indah.

Apa kabar kamu? Masihkah engkau menyukai hujan?

Aku ingat ketika dahulu kita berjalan di bibir pantai. Menikmati sapuhan lembut buih-buih ombak yang menampar kaki kita. Saat itu awan senja yang menguning tiba-tiba berubah menjadi hitam pekat yang kemudian memuntahkan butiran hujan. Aku segera menarik tanganmu untuk mencari tempat berteduh, namun sambil tersenyum engkau menolaknya. Engkau malah mengajakku bermain bersama bulir hujan. Menikmati tetesan air hujan yang menimpa wajah ketika kepala kita mendongak keatas.

Sekarang semua kenangan itu kembali. Terseok-seok pelan namun dengan pasti membawa kerinduan. Perih mengingatnya lagi namun hati yang tanpa letih tetap meletakkan harapan. 
Akankah tanganku merangkulmu lagi, Nona?

Apa kabar kamu? Masihkah engkau menyukai hujan?

Izinkanlah aku menjadi hujan, menyejukkan jiwamu saat amarah menguasai batinmu.

Izinkanlah aku menjadi hujan, membasahi hatimu yang kering kerontang dengan butiran kasih sayang yang akan kutetesi tanpa henti.

Izinkanlah aku menjadi hujan, menemanimu dikala mengadu sendu, kemudian menghadirkan pelangi untukmu.


Apa kabar kamu? Masihkan engkau menyukai hujan tapi tidak dengan gemuruhnya?
Share:

Thursday, May 1, 2014

666

“Tolong cari kepalaku...”

Nia segera menghapus pesan singkat itu. Sekarang sekujur tubuhnya gemetaran, teriakannya tertahan di tenggorokan,  kakinya susah untuk melangkah seolah dirantai, membuatnya seakan ‘lumpuh’ untuk sesaat. Entah sudah berapa banyak dia menerima pesan singkat yang isinya selalu seperti itu.

Nia dan keluarganya baru saja pindah rumah. Sebuah rumah di pinggiran kota menjadi tempat baru mereka saat ini. Rumah bertingkat dua dengan pagar berwarna biru itu semakin terlihat elegan dengan pohon cemara mengapit di sisi kiri dan kanannya. Namun keelokan rumah itu berbanding terbalik dengan kejadian-kejadian aneh yang sering terjadi disana. Iya, terutama Nia, dia adalah orang yang paling sering diganggu oleh sosok-sosok misterius rumah itu.

Kejadiannya bermula saat Nia mendapatkan sebuah pesan singkat dari nomor yang sangat aneh, yaitu 666. Pesan tersebut berisi:

“Saya adalah korban mutilasi dari paman saya sendiri. Tubuh saya saat ini belum ditemukan seutuhnya. Tolong bantu saya mencari keberadaan kepala saya”

Awalnya Nia tidak percaya dengan pesan singkat ini. Ahh paling hoax, batinnya. Namun melihat sumber pengirim pesan tersebut, Nia seakan dibuatnya percaya. 666 memang terkenal sebagai simbol setan. Mungkinkah ini cuma hoax?

Sore itu Nia baru saja pulang sekolah. Pulang sore hari adalah rutinitas bagi anak kelas 9 smp seperti Nia. Hari ini hanya Nia sendirian dirumah, kedua orang tuanya pulang agak larut karena lembur. Singkat cerita, untuk melepaskan lelahnya, Nia memutuskan menonton tv sejenak. Lepas beberapa menit ia menonton tv, ponsel Nia berbunyi menandakan ada pesan masuk. Ia segera mengambil ponselnya yang terletak tepat disebelahnya.

“Tolong cari kepalaku sekarang...”

Jantung Nia berdegup sekerasnya seolah hendak lepas. Bulu kuduknya berdiri hebat. Wajahnya yang merah merona seketika berubah pucat pasi. Itu adalah pesan singkat dari nomor 666. Lagi-lagi dia memberi teror kepada Nia. Walaupun setiap hari mendapatkan pesan singkat itu, tetap saja Nia dibuatnya merinding. Apalagi sekarang Nia sendirian dirumahnya.

Nia belum beranjak dari tempat duduknya. Ia mencoba menenangkan diri dengan menarik nafas panjang-panjang dan berharap tak terjadi hal-hal yang mistis.

DAAARRRR!!!

Suara benturan keras dari arah kamar Nia membuatnya kaget bukan kepalang. Ketakutannya semakin menjadi. Teriakannya meminta tolong kepada kedua orangtuanya seolah tak berarti. Nia benar-benar sendirian. Temannya hanyalah rasa takutnya.

Ia sempat bimbang harus berbuat apa, kemudian dengan sedikit sisa keberanian Nia memberanikan diri untuk melihat kamarnya. Selangkah demi selangkah ia jalan hingga sampai di depan pintu kamarnya yang tertutup. Dibukanya perlahan pintu itu dannn alangkah terkejutnya Nia ketika melihat isi kamarnya saat itu. Tepat disamping tempat tidurnya ada seseorang dengan pakaian serba putih namun tanpa kepala. Sosok itu hanya terdiam kaku. Lalu tangannya yang berlumuran darah menunjuk kearah Nia dan mengisyaratkan dia untuk mendekat. Tentu saja Nia tak berani. Melihatnya dari jauh saja sudah menakutkan. Tanpa pikir panjang, sembari teriak memanggil kedua orang tuanya, Nia dengan cepat berlari menuju kearah dapur.

Nia masih shock. Kejadian tersebut benar-benar membuatnya ketakutan. Ia tak tahu harus berbuat apa. Kakinya gemetaran saat ia berdiri di sudut dapur. Mulutnya terus merapalkan doa, sembari berharap kedua orangtuanya cepat pulang. Tuhan lindungi aku. Ucap gadis berusia 15 tahun ini.
Tiba-tiba....

DAARRRR!!!

Sebuah kepala manusia jatuh di depan Nia. Kepala itu berlumuran darah. Mulutnya yang menganga juga mengeluarkan darah kental yang mengotori lantai. Matanya yang besar menatap tajam kearah Nia. Nia hanya memicingkan matanya. Ia mencoba menyingkir dari tempat itu hingga kemudian berhasil dan dia lari sekencangnya mencari pintu keluar. Namun naasnya, belum lagi sampai di dekat pintu keluar, Nia tersandung oleh kakinya sendiri hingga menyebabkan ia terjatuh. Kepalanya membentur lantai dengan keras. Nia terkejut dan seketika bangun dari tidurnya.

Ahh mimpi buruk lagi. Ucap Nia sembari mengelap keningnya yang penuh dengan peluh. Ternyata Nia hanya mimpi. Ia terlelap saat menonton tv tadi. Entah kenapa sejak pindah ke rumah ini, Nia memang sering mengalami mimpi buruk. Anehnya lagi setiap mimpi buruk, sosok hantu tanpa kepala itu pasti selalu ada. Doa tidur yang ia bacakan seolah tak mampu untuk menghalang sosok itu masuk ke mimpinya.

Tak lama kemudian ponsel Nia bervibrasi menandakan ada pesan yang masuk. Diambilnya ponsel yang berwarna hitam yang berada tepat disampingnya. Dengan perlahan ia membaca teks pesan tersebut.

“Tolong cari kepalaku sekarang...”

Pesan itu berasal dari nomor 666!


DEEEGGGG!!!
Share: