Monday, October 17, 2016

Perempuan, Kopi, dan Barista

Ia datang tepat pukul dua siang. Perempuan dengan rambut sebahu itu memilih duduk di sudut kedai kopi yang ia datangi. Beberapa lelaki yang ada di dalam kedai kopi melihatnya dengan kagum. Perempuan itu seolah memiliki daya magisnya sendiri. Siapapun lelaki yang melihatnya pastilah akan jatuh cinta. Dari speaker yang ada di kedai kopi itu, Ben Harper sedang menyanyikan lagu Diamonds On the Inside dengan semangat. Perempuan itu tak menghiraukan keadaan sekitarnya. Sejak datang, matanya yang berwarna sedikit kecoklatan menatap kosong ke arah depan. Kearah seorang barista yang sedang membuat secangkir Cafe Mocha pesanannya.

 “Terimakasih atas kopinya” Ucap perempuan itu saat kopi pesanannya tiba.

“Sudah tugas saya membuatkan kopi terbaik, Nona” Jawab sang barista. “Kau sedang menunggu seseorang?” Lanjutnya.

Perempuan itu tersenyum getir. Ia menarik nafas panjang sebelum mengucapkan sesuatu.

“Ken” Jawabnya singkat. Sang barista segera meninggalkan perempuan itu.

Satu jam lebih berlalu. Kopi yang dipesan perempuan itu sudah mendingin sejak lama. Ia menjadi pecandu kopi yang hilang selera untuk menyesap kopi saat itu. Tatapnya masih tertuju pada sesosok barista di ujung kedai kopi. Pada barista yang bernama Ken. Kemanapun Ken melangkahkan kakinya, mata perempuan yang bernama Julia tersebut selalu mengikutinya.

Ken tahu ia diawasi oleh perempuan itu sejak pertama kali ia datang. Entah harus berbuat apa, tapi tatapan perempuan itu sangat mengganggu pikiran dan fokusnya dalam bekerja. Karena kejadian itu, hari ini Ken sudah mendapatkan dua kali teguran dari pelanggan kopinya. Pertama karena ia terlalu banyak memasukkan gula ke dalam kopi yang dipesan tidak terlalu manis. Kedua karena ia salah meracik kopi yang dipesan pelanggan. Semua itu karena pikiran Ken terganggu dengan perempuan yang selalu menatapnya.

Hari semakin sore. Julia masih saja menatap Ken diujung sana. Ia hanya menatap kearah Ken tanpa ada isyarat lain. Membuat Ken semakin risih karena terus diawasi. Kopi yang ia pesan sudah habis bersamaan dengan hujan yang juga habis dimuntahkan oleh langit. Tiba-tiba, entah karena Ken sudah lelah diawasi, ia kemudian berbalik menatap mata perempuan yang sedari tadi mengawasinya. Tatapan mereka berdua beradu. Julia yang sejak tadi menatap kearah ken menangkap basah bahwa Ken kemudian melihat kearahnya. Dari tatap yang terjadi itu, ada pesan yang disampaikan oleh mata Julia dengan sangat kuat kepada Ken. Ken mengerti tatap itu. Ia akhirnya melangkahkan kaki menuju tempat Julia duduk.

“Ken” sapa Julia sesaat setelah Ken duduk persis dihadapannya. Ken masih tertunduk. Ia tahu bahwa ia belum mampu menatap mata Julia sedekat ini. Jantungnya berdetak cepat melebihi kecepatan cahaya.

“Aku sudah muak dengan janjimu” lanjut Julia.

“Maaf, Julia. Belum sekarang” jawab Ken pelan. Suaranya seolah hilang ditelan getir.

“Lalu kapan? Apalagi alasanmu?” Julia berbicara lebih keras. Beberapa pengunjung kedai kopi melihat kearah mereka.

“Aku akan berusaha secepatnya, Julia. Beri aku waktu”

“Waktu katamu? Apakah 11 bulan selama ini bukan waktu? Aku sudah kehabisa waktu untukmu, Ken”

“Aku tahu kau marah. Tapi setidaknya aku tak pernah menghilang saat kau cari, Julia. Aku butuh waktu yang lebih lagi”

“Ken, hutang kamu kepadaku 200 juta! Itu bukan uang kecil. Kamu tahu kan aku berjuang mati-matian untuk mendapatkan uang itu?! Sekarang aku lagi butuh uangnya, Ken, untuk biaya hidupku selama merantau!” bentak Julia.

“Aku mengerti, Julia. Tapi kamu juga harus mengerti bahwa usaha aku saat ini bangkrut. Aku tak punya banyak uang lagi. Gaji dari menjadi barista di kedap kopi ini tak pernah sampai ke akhir bulan” Ken sedikit curhat demi melunakkan hati Julia.

“Baiklah. Aku beri kamu waktu satu bulan lagi. Jika kamu tidak membayar hutang-hutangmu juga, maka maaf, Ken. Aku terpaksa membawa permasalahan ini ke ranah hukum” Julia kemudian beranjak pergi meninggalkan Ken.

“Julia...” panggil Ken. Julia tak peduli. Ia tetap berjalan meninggalkan Ken.

Ken bingung menghadapi semuanya. Ia belum menemukan jalan keluar untuk membayar hutangnya kepada Julia. 200 juta bukan mudah untuk dicari, apalagi oleh seorang barista yang hanya bekerja di kedai kopi seperti Ken. Dalam hati Ken bergumam, “Julia, kalo hutangnya aku bayar pakai uang monopoli mau nggak?”
Share:

Tuesday, August 23, 2016

Tentang Kemarin

Kemarin, saat pagi baru saja menyapa, bayangmu lebih dulu hadir daripada mentari.
Lebih hangat dari kopi yang baru kuseduh.
Juga lebih sejuk dari embun di atas daun talas.
Aku – seperti biasa – mengingatmu lagi. Menjadi perindu di pagi hari adalah rutinitas baruku.

Aku rindu tawa bahagiamu.
Kita pernah tertawa bersama saat menyaksikan film komedi di bioskop pusat kota. Namun yang paling kuingat saat itu bukan bagaimana alur cerita film yang kita tonton, bukan juga siapa aktor yang bermain disana. Yang paling kuingat adalah tawa bahagiamu. Bagiku, tawamu adalah candu. Candu yang tercipta tanpa penawar.
Ahh cinta begitu ajaib bukan? Dengan tawa saja bisa membuat seseorang jatuh cinta.

Aku rindu senyum setelah marahmu.
Aku ingat dulu kamu pernah marah bersebab waktu. Aku yang berjanji menemuimu pukul 3 sore malah datang pada pukul 4 sore waktu itu. Saat tiba, tak ada senyum dari raut wajahmu. Sapamu juga membisu. Langit mengelam. Matahari yang bersinar seolah menjadi temaram. Lalu dengan sabar aku menjelaskan kenapa aku terlambat menemuimu. Perlahan amarahmu mulai mereda. Senyum di bibirmu juga kembali ada. Sejak saat itu, aku berjanji untuk tidak membuatmu marah lagi.
Ahh cinta juga misteri bukan? Karena waktu cinta bisa tumbuh, tapi karena waktu juga cinta bisa runtuh.

Begitulah kemudian aku. Selalu disesaki ingatan tentangmu dimanapun dan sedang apapun aku.
Sebab aku berharap menjadi bumi untukmu, agar kamu tinggal dan menetap disana.
Sebab aku berharap menjadi rumah bagimu, agar kelak setelah engkau lelah melangkah jauh, kepada rumahlah engkau kembali.
Sebab aku berharap menjadi bayangmu, agar saat engkau tak mampu menguatkan tegak, aku akan menjadi penopang bagi sendimu.
Bagitulah kemudian aku. Kemarin dan hari ini terus mencintaimu. Lalu bagaimana dengan esok?

Kasih, tentang kemarin, hari ini, esok dan juga seterusnya, akan tetap memiliki cerita yang sama. Aku akan tetap mencintaimu.
Share:

Tuesday, August 2, 2016

Lion Air Sang Raja Delay

Jadi gini, gaes. Mau cerita aja nih tentang maskapai Lion Air yang beberapa hari lalu lagi banyak diberitakan di televisi. Memang sebelumnya Lion Air sudah terkenal dengan kasus-kasus delay nya. Bukan cuma delay sih, tapi banyak juga yang lain. Sudah ditegur Menteri, eh tetap aja gak ngaruh. Dan kemarin, tepatnya hari minggu, Lion Air kembali berulah. Dan sialnya, saya adalah salah satu korban dari Lion Air.

Mohon maaf aja nih kalo di tulisan ini menyinggung pihak Lion Air. Bukan bermaksud apa-apa, biar yang lain tahu aja gimana “seru”nya pengalaman kemarin. Terlalu rugi kalau disimpan sendiri.

Singkat cerita aja, saya adalah penumpang Lion Air dengan tujuan kota Bengkulu yang seharusnya berangkat pukul 16.25 sore. Dan pukul 1 siang, saya udah berada di bandara Soekarno-Hatta. Kurang tepat-waktu-tingkat-tinggi gimana lagi coba. Karena waktu berangkat yang masih lama, jadi kerjaan saya selama menunggu diluar cuma duduk, main pokemon, jalan mondar-mandir, duduk lagi, lirik bule cantik, lalu kita saling tatap mata, kenalan, jatuh cinta, lalu hidup bahagia berdua. Hmm terlalu ftv sepertinya. Terus, waktu membuat perut saya jadi lapar. Berhubung di bandara nggak ada warteg, jadi saya makan di salah satu tempat yang menawarkan wifi gratis.

Gaes, asal kalian tahu, semua makanan yang dijual di bandara harganya menjadi sejuta kali lipat dari biasanya. Saya yang makan sop buntut dan segelas kopi hitam harus bayar uang yang harganya setara dengan berkali-kali kalo saya makan di kosan. Sumpah demi apapun ini mengagetkan dan menyakitkan.

Lalu, kurang lebih pukul 3.30 sore, saya mulai check-in. Setelah antri cukup panjang, saya akhirnya dapat boarding pass dan langsung menuju ruang tunggu. Di ruang tunggu kerjaan saya masih sama. Cuma bedanya di ruang tunggu nggak ada pokemon satupun.

Pukul 4.20 sore, suara announcer yang keluar dari speaker ngasih pemberitahuan kalau penerbangan menuju Bengkulu ditunda selama 90 menit. Oke nggak masalah lah. Masih sabar. Lalu 90 menit kemudian, announcer nya bilang penerbangan ke Bengkulu delay lagi selama 90 menit. Saat itu, pikiran mulai tak tenang, perasaan tak enak, dan hati tetap saja kosong. Bukan hanya ke Bengkulu, penerbangan Lion Air menuju Balik Papan dan Surabaya juga delay. Kita ditelantarkan. Sampai pukul 10 malam, belum ada kejelasan juga dari pihak Lion Air. Akhirnya kita –aku dan kamu – ehh maksudanya penumpang tujuan Bengkulu, Surabaya, dan Balik Papan bersatu padu membentuk satu kekuatan untuk kemudian bersama-sama “demo” ke costumer service Lion Air yang ada di ruang check-in. Disana suasana mulai panas. Penumpang marah-marah sampai muka dari petugas Lion Air lebih pucat dari anak SMP yang ditilang polisi karena bonceng tiga. Karena tidak juga ada kejelasan dan manager dari Lion Air juga tidak bisa ditemui, kita para penumpang Lion Air memutuskan untuk turun ke landasan pacu udara. Sumpah ini seru banget. Sebagai mahasiswa, saya merasa seperti aktivis 98 yang menuntut keadilan pada saat itu. Gagah cuy!

Sebenarnya, kita juga sempat dihalangan oleh pihak keamanan bandara. Tapi karena jumlah mereka sedikit dan jumlah kita ratusan, mereka tidak bisa apa-apa. Sesampainya di landasan pacu, kita sempat ingin memboikot pesawat Lion Air yang ingin terbang. Beberapa orang berusaha menaiki tangga pesawat hingga akhirnya terjadi keributan antara penumpang, pihak keamanan, tentara, dan polisi militer. Bahkan seorang polisi militer yang saat itu sok jago, hampir dikeroyok oleh penumpang yang kesal. Kasian juga sih liatnya. Dari awalnya sok marahin penumpang hingga hampir dikeroyok ratusan penumpang. Pesan moralnya, jangan karena pakai seragam, anda terlihat lebih berkuasa.

Singkat cerita lagi, akhirnya ada seorang yang mengaku sebagai asisten manager dari Lion Air menemui kita para penumpang. Setelah berbicara dengan beberapa orang perwakilan, kita akhirnya diberi refund dan dijanjikan berangkat besok pagi. Itu artinya, semua penumpang yang keberangkatannya delay – termasuk saya – harus bermalam di bandara. Pengalaman baru!

Jam menunjukkan pukul 2 pagi. Penumpang-penumpang yang jadi korban delay Lion Air sebagian tidur di lantai, di masjid ruang tunggu, dan di kursi-kursi. Saya yang sedikitpun tidak ngantuk waktu itu bingung mau ngapain. Mau makan, tempat makannya udah pada tutup. Mau duduk, pinggang udah sakit karena kebanyakan duduk. Mau pacaran, nggak punya pacar. Tapi untungnya disana ada sebuah ruangan yang bercahaya, yang menawarkan surga kala itu bagi perut yang mulai lapar. Yap! Ada indomaret yang tetap setia buka. Saya lalu beli makanan, pop mie, dan tentunya kopi hangat. Mantap sudah perbekalan melawan bosan selama menunggu.

Hari mulai pagi. Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Janji yang diberikan Lion Air untuk berangkat belum juga ada kejelasan. Penumpang mulai marah-marah lagi. Ruang check-in juga penuh dengan hawa panas. Sebenarnya, kalau semua penumpangnya masih muda seperti saya, atau orang dewasa berumur 30 sampai 40 tahun, mungkin tidak terlalu masalah untuk menunggu sampai tidur di bandara. Masalahnya, kasihan dengan penumpang yang sudah tua, perempuan, dan juga anak kecil. Saya kasihan liat ibu-ibu yang tidur di lantai dengan anaknya, juga orangtua yang tidur kedinginan. Tidak masalah juga mungkin dengan penumpang yang seperti saya, yang pulang untuk berlibur ke rumah. Masalahnya, bagaimana dengan penumpang yang mungkin saat itu ada kegiatan penting? Bagaimana dengan penumpang yang mungkin saat itu sedang terjadi musibah dengan keluarganya di kota tujuan? Kan kasihan mereka semua. Kasihan juga dengan bule-bule yang waktu itu jadi penumpang Lion Air. Mau protes nggak ngerti, mau dengerin penjelasan dari pihak Lion Air waktu itu juga nggak ngerti, mau nangis mungkin mereka malu. Jadinya mereka cuma bengong aja saat kita marah-marah ke pihak Lion Air. Yang sabar aja ya, bul. Kalo kata orang-orang mah, welcome to Indonesia!

Pukul 9 pagi, penumpang masih terlantar, polisi dan tentara mulai banyak berdatangan mengamankan bandara yang keadaannya makin kacau, saya sekuat tenaga menahan mata yang perih karena tidak tidur sedikitpun dan juga menahan lapar. Kita, penumpang tujuan Bengkulu berkumpul di pintu keberangkatan A4. Masih belum ada kejelasan juga kapan akan diberangkatkan. Bahkan sempat terjadi dorong-mendorong antara penumpang dan pihak keamanan di pintu A4. Petugas Lion Air panik dan bingung. Hasrat penumpang yang ingin menonjok petugas Lion Air sedikit tertahan karena ada tentara dan polisi disana. Penumpang juga mulai muak dengan janji dari Lion Air yang ingin memberangkatkan kita. Hingga akhirnya, kurang lebih pukul 9.45 pagi, setelah perjuangan panjang, kita akhirnya diberangkatkan menuju Bengkulu. Iya, itu artinya pesawat Lion Air delay selama 17 jam lebih. Hebat bukan?

Tanpa mengurangi rasa hormat atau tanpa ingin menjatuhkan nama baik, kebodohan pihak Lion Air sepertinya sudah kelewat batas. Delay selama lebih dari 17 jam dan delay nya bukan cuma ke satu tujuan. Mungkin sudah waktunya sang singa terbang ini ditutup. Pertanyaannya, Kemenhub berani nggak memberi tindakan tegas ke Lion Air?

Udah dulu yaa bhay!!
Share:

Sunday, May 29, 2016

Filosofi Tahu Bulat

Belakangan ini, sebuah jajanan enak dan murah mendadak ramai dibicarakan. Bukan karena jajanan itu mengandung racun, bukan juga karena makana itu hasil dari fermentasi sianida. Tapi karena cara penjualannya yang unik.

Kalian yang tinggal di Jawa Barat atau Jabodetabek pasti udah kenal sama tahu bulat. Nah uniknya, kalo dulu tahu bulat itu di jualnya di gerobak-gerobak biasa, sekarang tahu bulat dijualnya pake mobil! Keren kan? Penjual tahu bulat aja udah bisa beli mobil. Uniknya lagi, mobil tahu bulat ini datang dengan jingle nya yang khas. Bahkan Adam Levine juga sempat menyanyikan lagu tahu bulat di instagramnya.

Tahu bulat... / Digoreng / dimobil / dina katel dadakan.. / Lima ratusan.. / gurih gurih enyoyyyy...

Coba cermati lirik tahu bulat yang hits diatas. Sederhana, simple, namun penuh godaan. Bayangin aja, dengan lirik yang seperti itu, penjual menawarkan sebuah tahu bulat yang gurih kepada pembeli karena tahunya masih fresh dari wajan. Beda dengan tahu bulat yang dijual di gerobak-gerobak yang tahunya udah digoreng duluan.

Pas pertama kali dengar suara khas tahu bulat, jujur saya kira itu suara orang pengajian. Sumpah. Jadi kan waktu itu lagi nonton tv di kosan, tiba-tiba ada suara tahu bulat. Kan saya yang baru pertama kali dengar masih cuek aja. Kirain itu suara dari toa masjid. Ehh tapi pas didengarin baik-baik, kok ada suara gurih gurih enyoy gitu. Karena penasaran, saya cek keluar. Eh ternyata itu penjual tahu bulat. Saya syok.

Dari pengamatan saya mengenai tahu bulat yang selalu muncul siang dan malam ini, saya mendapatkan bahwa tahu bulat tidak hanya jajanan yang enak, tapi dibalik itu semua ada filosofi di dalamnya. Bahwa dengan tahu bulat, kita dapat memahami kehidupan. Mau tau?

Pertama, di dalam jingle tahu bulat, terdapat lirik Digoreng Dimobil. Apa maksud dari kata tersebut? Maksudnya, meskipun tahu bulat ini digoreng di mobil, harga tahu bulat ini nggak serta merta melonjak mahal. Tetap sama dengan tahu bulat yang digoreng di gerobak-gerobak yaitu 500 rupiah per buah. Meskipun tahu bulat yang digoreng dimobil lebih keren, tapi ia tetap merendah. Istilahnya mah down to earth. Nah begitulah seharusnya kehidupan manusia. Meskipun telah mencapai kedudukan tinggi, punya nama besar, terpandang, dan terhormat, hendaknya manusia tetap tidak menyombongkan diri. Tetaplah menjadi pribadi yang sederhana. Dengan menjadi orang yang sederhana, kalian akan tetap disukai banyak orang. Tahu bulat contohnya. Maka, kalo ada orang yang sombong padahal dia nya biasa aja, suruh orang itu berkaca pada tahu bulat.

Selanjutnya filosofi yang didapat dari tahu bulat masih dari lirik jingle nya yaitu Dadakan. Apa maksud Dadakan? Jadi gini, meskipun tahu bulat ini digorengnya dadakan, tapi tahu bulat tetap menjadi bulat sempurna. Nggak gepeng, nggak juga berubah bentuk. Tahu bulat selalu siap menjadi bentuk terbaiknya meskipun digoreng dadakan. Begitupun seharusnya manusia. Kadang kala kita diberi ujian secara dadakan oleh Tuhan. Misalnya lagi buru-buru pergi, tiba-tiba ban motor pecah, atau lagi mau setrika baju, tiba-tiba listiknya mati, atau yang paling ekstrem, pas lagi nyantai di kosan, tiba-tiba ibu kos datang nagih duit. Itu ujian banget. Walaupun kita diberi ujian secara dadakan, sebaiknya kita tetap menenangkan diri kita. Tetap berpikir positif dan ambil hikmah dari tiap ujian yang dadakan itu. Supaya apa? Supaya kita tetap enyoy seperti tahu bulat yang digoreng dadakan.

Lalu filosofi yang terakhir. Coba perhatikan, kenapa tahu bulat yang digoreng di mobil lebih booming dibandingkan dengan tahu bulat gerobak? Padahal kan lebih dulu tahu bulat gerobak yang muncul. Jawabannya adalah karena tahu bulat yang digoreng di mobil memberikan inovasi baru. Anti mainstream kalo kata anak muda sekarang. Dengan dijual dimobil, keuntungan pasti lebih banyak. Begitu juga seharusnya manusia. Ide boleh sama, pemikiran juga boleh sama, tapi yang terpenting adalah eksekusi nya yang harus beda. Pilih jalan kalian sendiri dan jangan ikut-ikutan. Kalau misal gagal, kalian tidak menyalahkan orang lain, dan kalau berhasil, kalian berhasil dengan jalan yang kalian ciptakan sendiri. Keren bukan? Makanya harus beda, harus out of the box seperti tahu bulat yang digoreng di mobil. Biar hasilnya juga beda.

Udahan ah. Pesan saya kalo mau makan tahu bulat yang baru masak, jangan lupa di tiup dulu. Panas soalnya.
Share:

Friday, May 27, 2016

Kamu Bagiku

Kamu bagiku adalah puisi. Puisi yang tercipta dari aksara yang tak kenal akhir. Puisi yang tercipta dengan bait penuh cinta. Maka bagiku, senyummu adalah nyawa dari setiap puisiku. Yang menggambarkan keindahan yang tak fana. Senyummu adalah inspirasi yang tak pernah bertepi. Serupa ada eros disana.

Kamu bagiku adalah senja. Senja yang selalu merona diwaktu petang dengan jingganya. Senja yang meninggalkan kenangan meski telah digantikan malam. Maka bagiku, senja terbaik ada di matamu. Berwarna tak jingga tapi bercahaya. Tak pernah tenggelam meski hari telah kelam. Senja dimatamu yang berbinar, membuat rindu di kalbuku dikala kita tak bertemu. Aku tenggelam, di kedalaman matamu.

Kamu bagiku adalah hujan. Hujan yang datang memeluk bumi yang gersang. Hujan yang meredakan dahaga kaktus yang haus. Maka bagiku, pelukmu adalah hujan. Menyejukkan jiwa yang kadang amarah, menenangkan jiwa yang kadang goyah. Aku hanyut di arus pelukmu, lalu bermuara dihatimu.

Kamu bagiku adalah langit. Langit yang tinggi dan bersahaja tapi sedikitpun tak pernah angkuh. Langit yang selalu menjadi sahabat bagi matahari. Langit juga yang memeluk bulan dikala ia sendiri tanpa ditemani bintang. Maka bagiku, hatimu adalah langit. Luas dan lapang, tempatku menyandarkan segala angan. Dihatimu, aku menemukan kenyamanan. Maka, dihatimulah aku bertempat.

Lalu, siapa aku bagimu?
Share:

Monday, April 4, 2016

Apa Kabar Hatimu?

“Jangan pernah mempermainkan hati seseorang” Katamu. Kemudian kamu pergi dengan angkuh. Membawa benci dan prasangka yang hari ini menjadi penyesalanmu sendiri.

Pesan yang kau tinggalkan disaat sore pukul 4 itu masih terekam jelas dikepala. Saat itu kita berpisah. Aku – dan juga hatiku – kau tinggalkan bersama gerimis. Kesedihanku menggenang bersama air yang dimuntahkan oleh awan pekat. Terpikir untuk menyerah. Berharap hujan segera menenggelamkanku sore itu. Tapi kemudian aku sadar. Aku harus tetap kuat. Bahkan harus lebih kuat agar gemuruh tak membuatku semakin hancur.

Waktu berlalu meninggalkan masa itu dengan cepat. Kita – atau lebih tepatnya aku – mulai terbiasa hidup tanpa satu sama lain. Tak ada marah, pun tak ada sesal. Aku telah melupakan kamu beserta hatimu. Tapi ketahuilah, Kasih. Hal yang paling berat dalam hidupku adalah bukan untuk terbiasa hidup tanpamu, melainkan untuk melupakan setiap kenangan kita di banyak sudut di kota ini. Kasih, kamu sudah terlalu banyak memberi kenangan. Hingga menggenang di pikiran. Enggan pergi meski dengan tertatih.

Bersebab kenangan itu, maka aku ingin bertanya, apa kabar hatimu?
Masihkah ia terluka karena prasangka yang buta? Coba saja dulu engkau memberikan kesempatan untukku membenarkan semuanya, aku yakin hatimu akan tetap merona. Prasangkamu terhadapku adalah kesalahan, Kasih. Aku tak punya banyak waktu untuk mempermainkan hatimu. Bagiku, mendapatkan hatimu adalah sebuah anugrah. Pantaskah aku mempermainkannya hingga terluka?

Bersebab cinta yang dulu ada, maka aku ingin bertanya, apa kabar hatimu?
Masihkah hatimu kau bohongi? Aku mengetahuinya, Kasih. Kau tak pernah benar-benar ingin kita berpisah. Hatimu menolak, tapi egomu lantang menentang. Kau kalah mempertahankan apa yang seharusnya kau pertahankan. Kau lebih memilih mengikuti egomu, bukan mengikuti hati nuranimu. Kasih, aku mengetahuinya dari matamu yang tak pandai berbohong.

Bersebab rindu, maka aku ingin bertanya, apa kabar hatimu?
Masihkah hatimu diselimuti penyesalan? Penyesalan yang tak akan pernah berarti lagi. Hatimu kau lukai sendiri. Jiwamu kau hancurkan sendiri. Hari-harimu kelam meski mentari terik menyinari. Kasih, belajarlah untuk bangkit. Meski susah, meski lelah. Bangkitlah. Tapi bukan dengan bantuanku.

Apa kabar hatimu?

Maaf aku tak mengangkat telfon darimu beberapa hari ini, maaf juga aku tak membalas semua pesan-pesanmu, dan maaf juga aku tak membuka pintu disaat kau bertamu. Aku sudah tak berselera lagi kau sakiti dengan prasangkamu. Sekarang nikmatilah buah dari egomu. Nikmatilah luka yang kau buat sendiri. Semoga hatimu cepat pulih.

P.S : Jika kau menanyakan kabar hatiku, maka aku bersedia menjawabnya. Hatiku sudah lebih baik. Selepas kau hancurkan begitu saja, sekarang aku berhasil menatanya kembali. Jangan tanya bagaimana bisa, sebab hati yang dilukai mempunyai cara sendiri untuk bangkit lebih kuat.
Share:

Saturday, February 27, 2016

Untuk Apa Menulis?

Untuk apa menulis?

Pertanyaan itu tiba-tiba muncul ketika saya lagi enak-enaknya makan indomie goreng pake kerupuk. Tapi pas kepikiran itu saya gak tiba-tiba langsung nulis ini. Habisin dulu indomie nya, minum dulu biar gak seret, duduk bentar sambil sendawa tiga kali, terus baru mikir lagi. Buat apa ya nulis?

Saya udah mulai suka nulis sejak SMP, sampai sekarang masih rajin nulis di blog. Nah terus kepikiran aja gitu buat apa ya saya selama ini nulis? Apa karena hobi? Atau karena hobi? Atau jangan-jangan karena hobi? Ya mungkin bisa jadi karena hobi. Tapi terlepas dari itu semua, pentingkah menulis untuk kita? Nah saya mau coba ngebahasnya disini.

Menulis itu kan adalah sebuah kegiatan menulis. MASA SIH?! Oke serius. Menurut saya, menulis itu adalah sebuah kegiatan menuangkan semua yang ada dalam pikiran kita. menulis juga bisa berarti luas. Menulis nama gebetan di batu kali, menulis nama facebook di meja belajar sekolah, menulis nomor hp di tembok wc, dll juga termasuk kegiatan menulis. Tapi saya menyederhanakannya dengan mengartikan menulis disini dengan menulis di blog.

Banyak orang menulis di blog. Mulai dari menulis curhatan, puisi, sajak, cerpen, dan banyak lagi. Kemudian tulisan tersebut di share, kemudian dibaca, traffic blog meningkat, dan mungkin ada yang ngasih komentar. Itu adalah siklus dari tulisan para blogger. Lalu setelah itu apa? Setelah itu pasti para blogger bahagia melihat traffic blognya meningkat. Jujur ya ini soalnya saya juga begitu. Berarti menulis di blog itu cuma sebatas meningkatkan jumlah pembaca aja dong kalo gitu? Ah nggak juga.

Untuk apa menulis?

Bagi sebagian orang, menulis di blog hanya sebatas untuk meningkatkan traffic pembaca, atau ada juga yang menulis di blog hanya ikut-ikutan. Tapi itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang nggak punya passion dalam menulis. Mereka menulis tanpa cinta di setiap tulisannya. Kenapa saya bilang begitu? Karena jika kegiatan menulis dilakukan dengan penuh cinta, maka tak ada rasa khawatir jika traffic blog menurun, tapi khawatir jika tulisan tak kunjung ada untuk diterbitkan. Bagi para blogger, atau khususnya bagi saya pribadi, kehabisan ide untuk ditulis lebih bahaya daripada kehabisan kuota internet. Kalo kehabisan kuota bisa minta wifi punya temen, lah kalo kehabisan ide nulis?

Menulis juga bukan hanya tentang berapa banyak orang yang membaca tulisanmu, lebih dari itu, menulis malah mengajarkanmu tentang bagaimana melihat sesuatu dari sudut pandang lain, mengajarkanmu tentang bagaimana berpikir secara tertata, dan juga mengajarkanmu menuangkan pikiran ke dalam tulisan tentunya. Karena banyak orang diluar sana merasa kesulitan jika harus menulis tentang apa yang ada dalam pikirannya.

Bayangin deh misalnya di masa muda sekarang kita rajin nulis tentang kehidupan kita di blog atau di diary. Apapun itu. Nanti, sekian puluh tahun lagi ketika kita udah memasuki usia senja, semua tulisan yang kita tulis dulunya adalah cara terbaik untuk kembali mengenang masa lalu. Percaya aja apapun yang kita tulis saat ini akan bermanfaat untuk kita sendiri nantinya. Ya minimal untuk sekadar pengingat bahwa dulu kita pernah seperti ini-itu. Jadi, masih tanya untuk apa menulis?


Kalau masih ada yang nanya untuk apa menulis, jawabannya adalah untuk melatih kebiasaan baik buat diri sendiri. Selain itu, menulis juga akan membuat kamu menjadi abadi. Karena semua tulisanmu takkan pernah tergerus waktu dan zaman. Tulisanmu akan abadi, meski kamu mati.
Share: