Sunday, August 2, 2020

Kau Adalah Apa yang Hatiku Pilih



Aku ingin jujur.
Sekali ini saja. Sebelum akhirnya aku akan pergi dan tak akan pernah kembali melihatmu.
Begini.
Aku kalah lagi. Kali ini oleh cinta yang ingin kumenangkan.
Banyak harap jatuh tanpa tapi.
Mengabaikan rasa.
Mengabaikan cinta yang perlahan aku tunjukkan.
Berdalih aku terlambat.
Padahal kau yang memang tak ingin melangkah bersamaku.
Cinta sebesar apa yang berhasil membawamu pergi?
Atau bual seperti apa yang buatmu berhasil mengabaikan?
Janji sehebat apa pula yang kemudian menghancurkan perahu yang tengah kusiapkan untuk kita berlayar bersama.
Tidak.
Aku sedang tidak menyalahkan pilihanmu.
Pergilah, lalu bahagialah.
Kelak kau juga akan tergantikan.
Aku hanya perlu waktu untuk kemudian bangkit dan melangkah.
Meski entah berapa lama.
Entah pula butuh berapa banyak lagi pura-pura.
Sebab bagian terbaik dari jatuh cinta adalah memiliki.
Dan aku kira, tak ada yang mampu langsung kembali setelah gagal memiliki.
Haruslah tertatih dahulu.
Apalagi kau adalah apa yang hatiku pilih, meski aku bukan apa yang ingin kau miliki.
Sudah.
Jujurku sudah.
Selamat tinggal, luka.

Share:

Saturday, July 4, 2020

Malaikat yang Terlihat


malaikat yang terlihat

Aku pernah terjatuh. Tersandung oleh kenyataan yang beda dari harap. Mendapati diri yang awalnya dipenuhi semangat tiba-tiba tersungkur di pojok kamar. Menangis. Memeluk lukaku sendiri. Alih-alih menyalahi, kau datang memberikan peluk yang sangat hangat. Olehmu, luka yang menganga perlahan sembuh.

Aku pernah mengecewakan, atau mungkin cukup sering. Aku sering memenangkan egoku sendiri. Akulah poros dari hidupku, pikirku kala itu. Bertingkah layaknya jagoan yang tak akan menemukan halang rintang. Lalu masalah-masalah hadir perlahan di jalan yang aku pilih. Aku mulai lelah, dan berpikir telah salah langkah. Namun alih-alih meninggalkanku dengan kecewa, kau masih berdiri di tempat yang sama. Menungguku pulang dengan segala beban di pundak. Kau dekap aku. Denganmu, langkah yang mulai goyah kembali gagah.

Aku pernah marah. Menganggap apa yang kau katakan adalah salah. Aku mengabaikan bahwa kau adalah sebaik-baiknya penuntun arah. Hingga aku lupa bahwa marahku berarti melukaimu. Marahku kemudian hanya menjadi sesal yang malu untuk diakui. Kau tersenyum, memaafkan tatkala aku harusnya bisa saja kau abaikan. Memaafkan disaat aku bahkan belum mengucapkan maaf. Memaafkanku lagi meskipun kelak aku marah lagi. Hatimu adalah muara terbesar dari kebaikan.

Kau tak pernah lelah, sekalipun aku penuh dengan salah. Kau selalu menuntun layaknya aku adalah anak umur 5 tahun. Kau selalu ada meski aku pulang dengan penuh darah. Kau meneduhkan disaat dunia penuh kejutan. Kau memeluk disaat yang lain mengutuk. Kau ada disaat yang lain memilih tiada. Kau api semangat yang tak akan pernah padam.

Dunia tak akan selalu baik kepadaku. Kelak, akan ada batu yang akan menyandung langkahku, akan ada badai yang siap menggoyahkan tegapku, akan ada gemuruh yang ingin menghentikan mimpiku. Disaat itu, aku tau kemana tempat untuk henti sejenak lalu kembali kuat : pada dekapmu yang hangat sekaligus menyejukkan serupa embun pukul 6 pagi. Aku menyayangimu. Menyayangi kalian, malaikatku yang terlihat.


Share:

Friday, June 12, 2020

Untuk Anakku

untuk anakku. desrezaarief.blogspot.com

Nak, dunia sedang tak baik-baik saja saat kamu pertama kali terbebas dari perut Ibu. Ada banyak kekacauan sejak awal tahun. Banyak tragedi dan kehilangan. Hingga ada sebuah wabah yang menyerang hampir seluruh dunia. Diantara kekacauan itu, kamu hadir, Nak. Tangismu membawa haru di ujung mata Ayah dan Ibu. Dunia sesungguhnya boleh saja sedang kalap, namun dunia kecil yang kita miliki bersama Ibu tidak.

Nak, ketakutan terbesar Ayah dan Ibu kala itu adalah kami tidak bisa melindungimu. Namun saat pertama kali kamu menangis di peluk Ibu, saat pertama kali tangan mungilmu menggenggam jari Ayah, saat itulah kami merasa bahwa kamulah yang menguatkan kami. Lemahmu memberi kami kekuatan untuk menjagamu dengan sepenuh-penuhnya sayang.

Ayah selalu mengingat tendangamu yang keras saat masih di dalam perut Ibu dulu. Tendangan yang selalu Ayah nantikan sesaat sebelum lelap. Kasian Ibu. Dia suka kaget kalau kamu menendang perutnya saat Ibu lagi bernyanyi. Suara Ibu jelek ya, Nak? Hahaha. Ayah juga tidak suka suara Ibu kamu kalo dia sedang marah-marah. Tapi tak apa, Nak. Nanti kalau kamu dimarahin karena kebanyakan makan es krim, bilang ke Ayah ya. Biar kita makan es krim diam-diam waktu Ibu lagi menyuci baju.

Nak, Ayah tak sabar melihat raut mukamu nanti saat pertama kali merasakan asamnya buah jeruk. Ayah juga sangat menantikan momen saat pertama kali kamu bisa melangkahkan kaki lalu berlari. Mendengarkan segala celotehmu saat mulai bisa berbicara, atau mendapatimu pulang menangis karena kelahi saat bermain. Nak, tumbuhlah menjadi sosok yang lebih hebat dari Ayah dan Ibu ya.

Jadilah kuat, Nak. Nanti luka bisa saja menikammu dari segala penjuru mata angin. Kelak mungkin kamu akan terjatuh karena kenyataan pahit. Kamu mungkin akan menangis di tengah malam karena lelah akan hidup. Langkahmu bisa saja goyah saat dihadapi banyak masalah. Kembali dan peluklah Ayah dan Ibu. Peluk Ibumu adalah tempat yang paling nyaman untuk segala luka, peluk Ayah adalah tempat yang paling hangat agar kau kembali kuat.

Nak, terima kasih telah menjadi pelengkap dunia kami. Terima kasih telah menjadikan Ayah dan Ibu lebih baik. Sekarang, izinkan Ayah dan Ibu menyayangimu lebih lama dari selamanya, lebih dari kami menyayangi diri kami sendiri.
Share:

Friday, May 22, 2020

Singkat Saja


Ternyata yang lebih singkat dari sementara adalah kisah kita.

Hanya sepenggal saja. Jikapun dijadikan sebuah buku, aku yakin hanya sampai kata pengantar saja. Sesingkat itu. Padahal awalnya kita merencanakan sebuah kisah yang bahkan orde barupun kalah lama.

Singkat saja. Kita saling jatuh cinta lalu tak lama kita saling jatuh luka. Penyebabnya adalah ketergesaan. Aku terlalu tergesa-gesa mencintaimu, tanpa memikirkan bahwa cinta haruslah diawali dengan perlahan. Tak perlu berkompetisi dengan waktu sebab mencintai sudah menghabiskan banyak waktu. Kita kehabisan bahan bakar untuk kembali bersama.

Singkat saja. Kita saling beradu unjuk untuk sekadar memperlihatkan bahwa akulah yang paling cinta. Kita lupa bahwa seharusnya tak perlu seperti itu. Berusaha menjadi yang paling hanya akan membuat kita semakin lemah. Padahal jika cinta ditunjukkan dengan sederhana akan semakin menguatkan.

Singkat saja. Pada saat kita di ambang bataspun kita masih berusaha untuk menunjukkan bahwa akulah yang paling patah. Seolah-olah semua jalan telah buntu. Kita lupa bahwa satu-satunya jalan untuk keluar dari kebuntuan tersebut adalah dengan menutup mata, lalu biarkan hati menuntun. Sebab pikiran tak dapat lagi diandalkan jika sudah dibanjiri amarah.

Pada akhirnya semua tak menjadi seperti apa yang pernah kita katakan. Mimpi kita larut bersama air mata yang mengalir melalui pipi. Satu-satunya hal yang tak akan aku lupa darimu adalah percakapan kita sore itu sepulang kerja. Disaat aku bertanya apa yang akan terjadi jika kita berhenti saling jatuh cinta, kamu menjawab “Kamu akan menderita”. Sesuai perkataanmu.

Seminggu setelahnya, kamu berhenti jatuh cinta. Sebab tak mungkin bagimu mencintai dua manusia sekaligus. Kamu terlalu lemah. Cinta hanya untuk manusia yang kuat agar mampu bertahan.
Sudah. Singkat saja. Aku tak ingin menulis kisah ini lebih dari 300 kata. Aku muak. Sebab terlalu singkat untuk kisah yang harusnya bisa selamanya.
Share:

Thursday, April 16, 2020

Aku Jatuh Hati Kepadamu Setiap Hari



“Aku jatuh hati kepadamu setiap hari” ucapku berbisik di telingamu. Angin berhembus pelan. Menggoyangkan anak-anak rambutmu.

“Haruskah setiap hari?” tanyamu kemudian. Aku menggangguk.

“Harus” jawabku. “Aku harus jatuh hati kepadamu setiap hari. Agar kelak jika kita telah tua dan aku hanya bisa terbaring di atas kasur, setidaknya aku masih punya satu kewajiban: mencintaimu” hening setelah itu. Semesta seolah mendengarkan dengan khidmat percakapan kita. Tak mau mengganggu dengan angin keras atau suara jangkrik. Aku menatap ke arahmu. Garis senyum di wajahmu adalah lengkung sempurna serupa pelangi.

Aku beruntung. Dua kata yang paling tepat untuk menggambarkan aku saat ini. Aku menemukan lautan tenang pada dalam tatapmu. Jantungku berdegup kencang tatkala aku mengetahui bahwa satu-satunya orang yang kau izinkan untuk menyelaminya adalah aku.

“Bagaimana kamu akan mencintaiku setiap hari jika kamu saat tua hanya bisa terbaring di atas kasur?” tanyamu serius sembari mengangkat alis kananmu.

“Kita akan berpetualang”

“Maksudmu?” kamu penasaran.

“Aku akan mengajakmu kembali pada masa awal kita bertemu. Di toko buku. Kita mencari satu buku yang sama kala itu. Namun buku yang tersisa hanya 1. Aku mengalah. Membiarkanmu memilikinya meskipun aku sangat ingin membaca buku tersebut saat itu. Karena merasa tak enak, kamu berjanji akan meminjamkannya begitu selesai membaca. Aku mengangguk. Kita bertukar nomor telfon setelahnya. Dengan mengalah, ternyata aku memenangkan hatimu” Kamu tertawa. Diikuti olehku.

“Kita akan berpetualang ke banyak kenangan saat kita tak bisa lagi melakukan apa-apa. Aku berjanji akan mengingatnya dengan baik untukku ceritakan lagi padamu kelak” lanjutku.

“Bagaimana kalau kenangannya telah habis” tanyamu lagi.

“Berarti aku telah pergi. Tenang kembali kepadaNya. Jika saat itu tiba, ketahuilah bahwa jeda antara kita berpisah hingga bertemu lagi adalah waktu yang akan sangat membosankan”

“Setelah kita bertemu lagi, apa kita akan jatuh cinta lagi?”

“Tentu. Masih setiap hari. Sebab denganmu, aku tak ingin hanya di dunia saja”

“Tapi, apa kamu juga akan mencintaiku setiap hari?” tanyaku kemudian.

“Tidak” jawabmu singkat. Aku menoleh aneh. “Aku akan mencintaimu setiap detik” tutupmu.

Aku beruntung. Dua kata yang sangat tepat ketika mengetahui bahwa kamu juga mencintaiku. Aku menemukan angka yang menggenapiku, aku menemukan arah mata anginku hingga aku tak perlu takut lagi tersesat, aku menemukan penenang dari debar jantungku hingga aku tak perlu takut lagi saat cemas, aku menemukan pelukmu yang lebih menenagkan dari suara debur ombak pagi hari. Aku beruntung. Aku menemukanmu. Kita menemukan akhir dari pencarian. Kita beruntung.
Share:

Sunday, March 29, 2020

Terserah Tuhan Saja


Aku benci mengenang, batinku dalam hati. Jalanan Jakarta macet sore itu. Aku berdiri dalam busway yang akan membawaku pulang ke rumah. Polusi suara klakson membuatku menyempalkan headset di kedua telinga. Memilih acak playlist lagu di aplikasi spotify yang sialnya memutarkan sebuah lagu dengan penuh kenangan. Aku menunduk. Aku benci ketidaksengajaan seperti ini.

Di antara lelah pulang kerja, di antara padat jalan raya, di antara desak dalam busway, kenangan itu membuncah tanpa ampun. Kembali berdatangan meski sebagian sudah buram. Aku menatap jauh ke luar jendela. Jakarta sedikit gerimis. Lebih jauh dari itu, hujan disertai gemuruh hebat terjadi di sekitar dadaku.

Hanya sesederhana dari sebuah lagu, sebuah kesedihan bisa menjadi sangat paripurna. Ingatan kita kadang terlalu kuat untuk hal-hal yang harusnya dilupakan saja. Syahdan, lagu yang aku dengar sudah memasuki bagian reffrein. Bagian inti dari lagu ini. Kenangan itu melaju kencang di antara kemacetan panjang. Menabrak dan meruntuhkan semua tembok-tembok pertahanan yang susah payah aku bangun. Aku kembali terbayang lesung di kedua pipinya, terbayang halus rambutnya yang sebahu, terbayang lembut suaranya meski sedang marah. Luka kembali menganga.

Ia memilih pergi hampir setahun yang lalu, tepat sehari sebelum hari ulang tahunku. Kado yang tak pernah diinginkan oleh semua orang. Ia memilih pergi, saat langkahku sudah siap membawanya pada kebahagiaan yang lebih. Ia memilih untuk mengakhiri, saat aku kira kita akan memulai lagi sebagai satu. Ia yang aku kira akan menjadi pendamping, malah memilih berpaling.

Ia meninggalkan bayang-bayang kelam tentang masa lalu. Membuat sebuah ketakutan akan memulai kembali. Lalu hidup kembali berjalan tidak sebagaimana mestinya. Beberapa harap yang terlanjur terbang, menukik tajam ke daratan. Hancur lebur bersama tetes air yang mengalir dari sudut mata. Hampir setahun berlalu, perihnya khianat masih saja menyayat.

Aku pernah meminta dengan sungguh kepada Tuhan. Berharap ia kembali lagi. Melanjutkan langkah kita yang sempat terhenti. Berharap ia menjemputku kembali, merangkul tanganku erat seolah tak ingin lepas. Merayu Tuhan sekuat tenaga. Mencoba meyakinkannya bahwa takdir ini salah. Aku mencoba menolak ketentuannya. Tapi Tuhan tetap menjawab tidak pada akhirnya.

Lagu yang aku dengarkan telah habis. Aku melepas headset di telingaku. Bising cakap manusia kembali terdengar. Aku menghela napas panjang. Sekarang terserah Tuhan saja. Aku tak ingin lagi meminta yang memang bukan untukku. Aku ingin bahagia saja. Meski ia telah pergi, sedang aku terus saja jatuh hati.

It's funny how everything I dreamed about
Starts to seem so empty without you

Penggalan lirik lagu Ben Rector – Love Like This yang tadi aku dengar masih terngiang jelas.

Share:

Thursday, February 27, 2020

Kita Yang Kembali Menjadi Asing



Bagaimana kemudian cara cinta bekerja adalah sebuah tanda tanya besar yang sulit untuk dijawab. Seseorang bisa saja jatuh berkali-kali meski disakiti berkali-kali pula. Alasannya kadang aneh. Padahal jatuh hati tak seharusnya diikuti dengan luka. Seseorang juga bisa pergi meninggalkan hati yang menjaganya. Hanya karena tak ingin lagi, enggan bersama. Padahal cinta harusnya hingga selamanya bukan sementara. Seseorang bisa saja jatuh cinta dengan banyak hati. Kesana-sini mengumbar setia. Padahal cinta sejatinya cukup satu. Menetap adalah perkara mudah namun tak dipilih.

Begitu pula kemudian cinta bekerja pada kita berdua. Sepasang yang tak lama. Genap yang urung. Seperti sia-sia semua yang kita perjuangkan. Namun begitulah cara kerjanya. Menggagalkan rencana-rencana. Membuat hujan di kedua sudut mata. Cinta ternyata tak hanya berkisah tentang keberhasilan namun juga kegagalan. Adalah keniscayaan jika kita menolak untuk menyadari.

Kamu adalah sebaik-baiknya tempat yang pernah aku jadikan rumah. Denganmu, akhir dari pencarian pernah begitu dekat. Lebih dekat dari debar jantung kita saat berpelukan. Denganmu, cinta pernah bertahta pada aksara berlafal kita. Yang pernah kita jaga bersama-sama, meski pada akhirnya usai juga. Denganmu, semua yang aku ingin adalah kita renta bersama. Menggenggam meski tak lagi kuat namun tetap hangat.

Kamu adalah alasan dari tiap raguku.

Kamu adalah henti dari langkahku.

Kamu adalah tiang dari langitku.

Kamu adalah isi dari hampa yang menggerogotiku.

Kamu adalah lecut dari lelahku.

Tapi kamu tak lebih dari sekadar cerita masa lalu. Embara kita telah berhenti. Pada sebuah persimpangan, kita memilih berpisah. Melanjutkan langkah masing-masing sambil membawa luka. Cinta bekerja tak seperti yang kita inginkan.

Aku berterima kasih kepada takdir, karena telah baik hati mempertemukan kita meski dalam waktu yang singkat. Kau adalah peluk yang selalu aku inginkan. Kau pernah menjadi segalaku atas semua kurangku. Meski hanya sebentar, meski tak lebih lama dari yang kita inginkan. Sekarang, mari cari bahagia kita sendiri-sendiri. Aku yang tanpamu dan kau yang tanpa aku. Kita yang kembali menjadi asing.

Share: