Sunday, February 15, 2015

Sepucuk Surat Perpisahan

Dingin masih menusuk di pagi ini. Bola-bola embun di dedaunan hijau pun masih terlihat menempel. Ada sepucuk kebimbangan diantara sinar matahari yang mulai muncul kala itu. Aku, berdiri tepat di depan rumahmu. Berdiri dengan perasaan yang gaduh, penuh bimbang, dan gelisah.

Suatu hari aku pernah mengatakan bahwa jika aku pergi, maka aku tak benar-benar pergi. Jika pun tubuhku pergi, maka kamu akan kubawa di semesta kepalaku. Aku tak sedang bercanda pada saat mengatakan itu. Menempatkanmu sebagai wanita teristimewa kedua setelah ibuku adalah alasan mengapa kamu begitu aku cintai.

Aku ingat kalau kamu pernah bilang bahwa kamu sangat membenci sebuah perpisahan. Alasanmu karena dengan sebuah perpisahan, seseorang akan dibatasi oleh sekat yang bernama jarak. Diantara sekat itu nantinya akan terisi banyak kebohongan-kebohongan yang akhirnya membuat mereka benar-benar berpisah. Mungkin hal inilah yang membuat aku takut untuk mengucapkan salam perpisahan kepadamu.

Sekarang, tepat hari ini, aku –dengan keterpaksaan—harus mengucapkan salam perpisahan itu. Aku bukan benar-benar meninggalkanmu. Aku hanya pergi mengejar angan, mengejar apa yang ingin aku raih. Entah kapan kembali. Waktu pun seolah tak bisa menjawabnya. Karena dikota ini, jam-jam berhenti berdetak.

Namun ingatlah bahwa kadang kita harus mengalah pada sebuah keadaan. Bukan berarti kita menyerah. Tapi membiarkan apa yang sudah Tuhan rencanakan kadang lebih baik daripada menggerutu menyesali keadaan. Untuk itu, aku meminta kepadamu untuk tegar. Percayalah bahwa akan ada buah manis dari kesabaran menanti.

Mungkin –setelah perpisahan ini akan banyak hal yang tidak bisa kita lakukan bersama. Kita tidak bisa lagi menikmati segelas kopi hangat sembari menunggu hujan reda. Kita tidak bisa lagi bercerita tentang lagu kesukaanmu dan kemudian menyanyikannya bersama. Kita pun tidak bisa lagi bekejaran di bibir pantai hingga mentari menjemput malam. Begitulah. Kita harus sama-sama terbiasa untuk beberapa waktu. Hanya beberapa waktu.

Engkau tenanglah. Usah hiraukan tentang jarak yang memisahkan kita. Kelak suatu hari, aku akan melipat jarak itu seberapapun jauhnya. Kemudian kita bersua lagi pada kerinduan selepas perpisahan. Menikmati manisnya kepercayaan yang kita jaga erat selama ini. Engkaulah doa-doa itu. Engkaulah sajak yang tercipta dari ribuan kata selama ini.

Maafkan aku yang tak sempat mengucapkan salam perpisahan kepadamu secara langsung. Aku akan merindukanmu. Hadirlah dengan senyum di dalam mimpi. Aku akan datang lagi kepadamu, menghabiskan rindu-rindu yang pernah menderu.

Ps: aku menyelipkan sebuah iPod di dalam tas kecilmu sore kemarin. Didalamnya berisi lagu-lagu kesukaanmu dan foto-foto kita berdua. Semoga bisa menjadi penawar disaat rindu menderu. 



Terinspirasi dari lagu Leaving on the Jet Plane
Share:

3 comments:

  1. nice post, dan kampret (Kita tidak bisa lagi menikmati segelas kopi hangat sembari menunggu hujan reda) itu sama.
    Ah, jadi rindu.

    ReplyDelete
  2. maen juga kesini http://lintassenja.blogspot.com bro.

    ReplyDelete
  3. siiplah..


    http://www.imadoes.com/

    ReplyDelete

Tinggalkan jejak kalian disini. komen yaa :)