Friday, January 8, 2016

Pada Sebuah Temu, Kita Membisu

Suatu hari aku pernah sangat ingin menemuimu. Melihat segaris senyum yang menenangkan di wajahmu yang bulat. Melihat tatapmu yang tajam menusuk relung batin. Melihat tawamu. Oh iya, tawamu. Aku suka ketika melihat kamu tertawa sembari menutup mulutmu dengan kedua tangan.

Lalu aku mencarimu. Aku mencarimu di perpustakaan kampus, namun tak ada. Aku tak melihat kamu yang biasanya sedang membaca di sebuah sudut meja di perpustakaan itu. Ah mungkin semua novel di perpustakaan ini sudah habis kau baca, pikirku. Lalu aku mencarimu di sebuah tempat makan. Namun yang kudapati hanyalah orang-orang rakus berwajah lapar. Oh, mungkin kamu sudah lebih dulu menghabiskan Lobster Saus Tiram kesukaanmu disini, pikirku lagi. Petang tiba, namun aku belum menemuimu hingga akhirnya mentari tak lagi tampak.

Benar adanya bahwa kita hanya bisa berencana, selebihnya Tuhan yang menentukan. Esoknya, tanpa direncana, tanpa diduga, aku  menemuimu yang sedang duduk menunggu hujan reda. Kamu termenung kala itu. Tatapmu kosong ditengah dinginnya hujan. Aku ingin menghampirimu, mengajakmu mengobrol untuk sekedar menghangatkan gigilmu, membicarakan sebuah novel yang pernah kita baca kemudian menghardik si tokoh utama dalam novel tersebut karena terlalu egois. Lalu kita membicarakan hujan yang turun, hujan yang bukan menjadi tempat yang baik untuk seseorang yang ingin melupakan kenangan, hujan yang akan membawaku kepada satu kesimpulan bahwa senyummu adalah sebaik-baiknya penghangat bagi aku yang selalu merasakan dingin di dekatmu. Tapi semua itu urung terjadi. Aku lebih dulu kaku.

Disana, di sebuah sudut yang tak terlihat olehmu, Aku hanya diam memperhatikanmu. Tak berani menampakkan diri, apalagi menyapamu dan berbicara denganmu seperti di khayalanku. Begitulah akhirnya aku. Berharap untuk bisa dekat dengamu. Tapi nyatanya setiap aku menemuimu, aku hanya diam. Semua kata yang ada seolah tercekat di tenggorokan. Bahkan kadang dalam mimpi, aku dan kamu tak lebih dari seseorang yang hanya sebatas tau.

Pada sebuah temu, kita memang saling membisu. Tak pernah ada kata terucap, tak pernah ada kisah terukir, tak pernah ada sapa menyapa. Tapi percayalah, dalam doa-doaku yang panjang, aku menyapamu lebih sering. Dalam doa-doaku yang panjang, aku menjagamu tanpa lelah. Dan dalam doa-doaku yang panjang, aku berkata kepada Tuhan bahwa aku mencintaimu.


Biarlah sekarang kita membisu, hingga kelak setiap kata yang kita ucapankan adalah alasan untuk kita saling bertemu dikala rindu. Semoga begitu.
Share:

Tuesday, November 3, 2015

Temui Aku Senja Esok

Tadi malam kita bertemu lagi pada sebuah mimpi. Kita bertemu. Tak lama. Dan memang tak pernah lama. Diantara pertemuan singkat itu, tak ada kata yang terucap. Aku, hanya diam memandangimu. Diamku bukan karena bisu. Hanya saja aku terpaku pada ketidakberdayaanku. Pun kamu, hanya diam memandangiku yang sudah kaku. Mungkin kita diam untuk saling memberikan ruang. Ruang yang disesaki oleh banyak kenangan, ruang yang mengingatkan lagi bahwa dalam cinta, kita pernah sama-sama menang. Sesekali kamu memandangi sebuah arloji yang ada tepat di belakangku. Hingga akhirnya, entah pada detik keberapa, kamu pergi.

Aku terbangun. Tersenyum dan kemudian berterimakasih pada malam. Malam terlalu baik hingga tak jarang ia menemukan kita berdua didalam mimpi. Tapi, kadang malam juga terlalu jahat. Ia meninggalkanku sendiri bersama sunyi. Bersama gugusan rasi yang seolah menertawai. Bersama sepi yang enggan menepi. Membuatku memikirkanmu hingga pagi lagi.

Masih banyak pertanyaan yang engkau tinggalkan di mimpi tadi. Mengapa tak terdengar suaramu menyapaku lagi? Mengapa tak terlihat raut senyum di wajahmu? Mengapa seolah-olah kamu menjauh? Ah tapi aku juga bodoh. Mengapa tak kusapa kamu duluan, kemudian kita berbicara tentang kita di masa depan. Mengapa tak kubuat kamu tersenyum lagi, hingga hilang sedih-sedihmu. Mengapa aku tak mendekatimu, merangkul tanganmu dan memberikan sebuah kekuatan untuk menghadapi rintangan bersama.

Aku ingin bertemu. Membicarakan semua yang masih tertinggal diantara kita. Agar akhirnya aku dan kamu bisa mengerti bahwa mencintai adalah sebaik-baiknya cara untuk berbagi. Karena di dalam cinta, aku dan kamu adalah satu. Maka, agar tak banyak lagi tanya yang menyisa, aku menyiapkan satu waktu untuk bertemu denganmu. Waktu dimana mentari pulang memeluk bumi dan kelam mulai merangkul langit. Diwaktu senja.

Temui aku senja esok.
Diantara jingga yang mulai menapak langit. Diantara kepakan sayap burung yang memukuli udara. Temui aku. Akan aku ceritakan padamu tentang aku yang tak pernah lelah jatuh cinta kepadamu. Dari temu pertama hingga kelak. Kelak yang kuartikan selamanya.

Temui aku senja esok.
Di tempat pertama aku menatapmu. Di tempat aku mulai menjadi pecandu akan senyum di raut wajahmu. Temui aku. Akan aku ceritakan bagaimana aku melawati malam dengan melukiskan dirimu dalam sajak-sajak. Kemudian kurapalkan namamu dalam bait doa sebelum tidur. Hingga akhirnya kita bertemu, dalam sebuah mimpi yang telah kusiapkan.

Temui aku senja esok.
Diantara detak jantungku yang lebih cepat dari waktu. Diantara senja yang menyatu bersama rindu. Temui aku. Akan aku ceritakan bagaimana aku merindu akan dirimu. Lalu, aku ceritakan pula bagaimana aku mengenang tiap-tiap cerita kita dulu. Tentang kita yang pernah sama-sama tak ingin menjauh.

Temui aku senja esok.
Senja esok yang akan menjadi saksi bahwa diantara aku dan kamu, masih ada rasa untuk saling memiliki. Senja yang didalam biasnya kita lukis dengan banyak cerita dan cinta.

Temui aku senja esok.
Temui saja. Meski aku dan kamu telah bersekat pada dimensi berbeda.

Untuk kamu, yang telah 40 hari menjadi bidadari di surga.
Aku rindu.


P.S: Surat ini aku letakkan tepat diatas batu nisanmu. Semoga ada malaikat baik yang membacakannya untukmu.
Share:

Friday, October 9, 2015

Jatuh Cinta Tak Pernah Direncanakan

Untuk kamu, yang hatinya ingin kumiliki.

Apa kamu pernah merencanakan untuk jatuh cinta? Sekali saja? Kepada siapapun itu. Pernah? Kalau tidak, berarti aku benar. Jatuh cinta tak pernah bisa direncanakan.

Dulu, aku tak pernah sedikitpun berfikir untuk jatuh cinta kepadamu. Hanya mengetahuimu saja sudah cukup bagiku kala itu. Tak lebih. Dan aku memang tak berharap lebih. Itu dulu. Namun soal hati siapa yang tahu. Perasaan yang biasa-biasa saja itu berubah tak lama setelah kita menjauh.

Aku mulai mencintaimu. Entah sejak kapan tepatnya. Tapi bagiku itu adalah hal yang terbaik dalam hidup. Kenapa? Karena engkau memang pantas untuk dicintai. Maka tak heran banyak yang jatuh cinta kepadamu. Aku salah satunya. Tapi aku belum mau bilang ke kamu. Nanti saja. Tunggu aku sudah pantas untuk kamu. Tunggu aku memang layak untuk kau miliki. Tunggu aku memang pantas untuk mendapatkan hati seorang bidadari. Kapan? Nanti. Sabar dulu.

Aku gak mau asal bilang cinta. Bukan apa-apa. Aku sudah cukup dewasa, pun kamu. Kita sudah bukan remaja alay yang dengan mudah terjebak cinta semu. Tiba-tiba saja cinta eh tiba-tiba juga putus. Percuma. Ngabisin waktu. Nanti deh aku tunjukin sama kamu bagaimana cinta itu yang sebenarnya. Cinta yang berkualitas. Cinta yang memang pantas untuk disebut sebagai cinta. Cinta yang tak pernah menuntut kesempurnaan, tapi cinta yang melengkapi kekurangan.

Aku tak pernah berencana untuk mencintaimu. Kalaupun aku berencana, mungkin aku akan berencana untuk jatuh cinta kepada Raisa, Pevita, atau Dian Sastro. Kenapa enggak? Toh cuma rencana. Gagal gak masalah. Masih ada Chelsea Islan.

Aneh mungkin. Kamu, yang tak pernah masuk dalam rencanaku, tiba-tiba saja aku cintai begitu dalam. Tiba-tiba saja aku cintai sepenuh hati. Tiba-tiba saja aku cintai sampai kini. Ahh jatuh cinta memang seperti itu. Kamu, nih, ya, aku kasih tau, kalau ada orang yang bilang mencintai kamu, tanya dulu itu rencananya apa bukan. Bukan apa-apa, belajar deh dari yang namanya perjalanan. Banyak kan suatu perjalanan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari tapi ujung-ujungnya malah batal. Nggak jadi. Iya kan? Nah coba lihat juga berapa banyak sebuah perjalanan yang tak direncanakan sedikitpun tapi berakhir lebih mengaesankan. Pasti lebih menarik kan daripada yang direncanakan sekalipun? Iya. Tapi kalo yang bilang cinta ke kamu itu aku, gak usah ditanya lagi. Itu bukan rencana. Itu keputusan. Ingat keputusan itu mutlak. Kalo rencana bisa berubah, bahkan bisa gagal. Hehehe.

Untuk kamu.
Aku punya hati. Tak banyak. Hanya satu. Aku ingin memberikannya kepada seseorang. Entah kepada siapa. Kamu mau? Mau aja deh. Karena aku juga mau kamu. Jadi, buat kamu, coba deh jatuh cinta sama aku. Gak usah direncanakan. Sama kayak aku. kita jatuh cinta aja tiba-tiba. Terus kita jalani hari-harinya. Aku tak banyak memberikan hal-hal yang romantis mungkin, tapi yakinlah kalau semua akan berjalan indah.

Tenang aja kok. mungkin kalau kelak kita bersama, aku tak banyak memberikan kejutan romantis buat kamu. Aku terlalu kaku buat itu. Tapi kita bisa ganti dengan cara lain kok. Dengan cara yang lebih menyenangkan. Dengan cara yang hanya aku dan kamu yang pernah melakukannya di dunia ini. Mungkin aja. Kita bisa memancing di planet Mars kalo kamu mau. Atau mungkin kalau kamu tertarik, kita bisa menghitung jumlah roket yang meluncur di jalur Gaza. Gimana? Lebih asyik kan?

Nikmati saja caraku mencintaimu. Tak sesempurna yang kamu bayangkan mungkin, banyak kekurangan, tapi aku mencintaimu apa adanya. Dengan caraku. Karena cinta yang sesungguhnya tak menuntut kesempurnaan. Ia hanya butuh kasih sayang, yang dijubahi kesetiaan.

Jadi,
Jangan marah kalau aku mencintaimu
Jangan tanya kenapa aku mencintaimu
Jangan pula tanya sejak kapan aku mencintaimu
Karena jatuh cinta tak pernah direncanakan. Ia jatuh begitu saja. 
Kehatimu
Sejak dulu
Hingga kini
Dan entah sampai kapan.
Share:

Thursday, July 16, 2015

Pulang adalah Menang

Setelah hampir setahun merantau di Bandung, akhirnya mimpi untuk segera pulang ke kampung halaman terwujud. Pulang adalah sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu bagi semua perantau di segala penjuru.

Ada banyak pelajaran yang didapat dari sebuah kata yang dieja merantau. Saat kamu merantau, tidak peduli betapa indahnya kota tempatmu pergi, kesederhanaan akan kota kelahiranmu jauh lebih mewah daripada semuanya. Saat kamu merantau, tidak peduli betapa enak kuliner yang kamu makan disana, masakan ibu yang dimasak dengan penuh cinta adalah masakan terlezat di dunia. Saat kamu merantau, ada banyak hal-hal baru yang kamu lakukan bersama kepala-kepala baru, tapi melakukan hal-hal lama bersama teman-teman lama membuatmu lebih bahagia. Kebahagiaan sederhana yang sudah mulai sulit dirasakan.

Saat pertama sampai ke rumah, satu yang saya cari-cari adalah Asrul Gonzales. Bagi yang belum kenal siapa itu Asrul Gonzales bisa baca disini. Ada kerinduan yang sangat dahsyat dengan kucing kesayangan yang satu ini. Caelah. Kangen main bareng, kangen dicakar beliau, kangen liat dia tidur sambil menjulurkan lidah hahahaa. Setahun ditinggal pergi, Asrul mengalami perubahan yang pesat terutama dari tubuhnya. Otot bisep dan trisepnya terlihat lebih gagah dibalik bulu-bulunya yang halus. Ia sudah mulai tumbuh menjadi kucing remaja dengan ketampanan memikat. Tapi ada satu hal yang tidak berubah, ia tetap suka makan wafer coklat.

Selain Asrul, ada satu tempat yang juga saya rindukan selama merantau. Tempat merenung, tempat bermimpi menjadi orang hebat, tempat cita-cita dan harapan mulai tumbuh, tempat mencari ketenangan. Bukan, saya tidak merindukan toilet. Saya merindukan kamar tidur. Kamar tidur yang bau nya khas, bau baygon semprot. Maklum banyak nyamuk. Cukup lama ditinggal, ada banyak barang-barang yang “semi-berguna” yang menumpuk di kamar saya, mulai dari mainan waktu kecil, komputer rusak, printer rusak, piano rusak, radio rusak, dan tumpukan buku-buku. Entahlah ini kamar atau gudang.

Di kamar, saya punya satu benda kesayangan. Benda yang sudah ada sejak masih SD, benda yang selalu ada menemani, benda yang tak pernah mengeluh karena tak tahu caranya mengeluh. Bantal guling. Saking lamanya dipake, bantal guling ini sudah kempes, dekil, dan tak layaknya bantal guling lagi. Tapi tetap enak dipeluk. Dari dulu sebenarnya  sudah ada wacana mau diganti tapi saya nggak pernah mau. Buat apa diganti kalo dengan yang lama kita sudah nyaman? Saat ini bantal guling malang itu sudah terletak di gudang. Berdebu, tak terurus, dan tak pernah dipeluk lagi. Rest in peace.

Sekarang adalah waktunya menikmati kehangatan rumah. Menikmati setiap sudutnya yang dipenuhi dengan cinta. Karena rumah adalah sebaik-baiknya tempat untuk pulang setelah berlelah-lelah menapaki jalan baru. Melepaskan semua rutinitas, melupakan semua tugas, dan memulai semua aktifitas dengan bebas. Rumah selalu mempunyai daya magis untuk dirindukan setiap saat.


Pulang adalah menang. Menang melawan rindu yang telah lama menderu. Selamat berlibur!
Share:

Friday, June 26, 2015

Maaf Aku Melepaskanmu

Dulu, saat kita masih bersama, ada banyak keceriaan yang tercipta setiap harinya. Dari pagi, petang, hingga malam, aku dan kamu selalu menemukan cara untuk ceria.

Dulu, saat kita saling memiliki satu sama lain, aku tak pernah sepi menghadapi hari-hari. Saat aku bosan, kamu dengan sabar menemaniku. Membuatku hidup lagi layaknya gersang menemui hujan.

Dulu, saat kita tak pernah jauh, aku merasa itulah saat terbaik bersamamu. Aku melihat dunia melaluimu. Melalui kebaikanmu.

Kata orang, cinta itu adalah tentang bagaimana kita saling melengkapi satu sama lain. Tapi bagiku, cinta bukan hanya tentang saling melengkapi. Lebih dari itu, cinta juga mengajarkan bagaimana cara terbaik untuk berpisah.

Saat pertama menemukanmu, aku langsung jatuh hati kala itu. Kagum pada kemampuanmu, terpikat pada magismu. Memang banyak yang aku temui, tapi akhirnya pilihan jatuh kepadamu. Saat itu—saat mulai memilikimu—aku mulai merasakan kebahagiaan tiap harinya. Bersamamu, aku melihat dunia dengan mudah. Karenamu, semuanya menjadi lebih indah.

Dan benar saja, putusanku untuk memilihmu tak pernah salah. Kita bertemu untuk saling melengkapi. Aku tanpa kamu hanyalah hampa. Kamu tanpa aku pun hampa. Setahun lebih kita saling bersama. Aku mencintaimu dengan sepenuh hati. Tanpa henti dan pamrih, aku mencintaimu tak bertepi. Hingga hidup menemui mati.

Sekarang semuanya telah berakhir. Kita—atau lebih tepatnya aku—memutuskan untuk tak lagi bersamamu. Berat memang. Tapi seperti kataku, cinta juga mengajarkan cara terbaik untuk berpisah. Mungkin inilah cara yang terbaik itu. Kita memang ditakdirkan bersama, tapi kita juga ditakdirkan untuk berpisah setelah kebersamaan itu. Merelakanmu untuk bahagia bersama yang lain adalah bentuk cintaku yang baru kepadamu. Sulit untuk melepaskanmu yang telah lama menemani hari-hariku. Sulit juga untuk melupakan setiap goresan kenangan yang dulu pernah kita ukir bersama. Tapi percayalah, ini yang terbaik.

Saat kita jatuh cinta, kita siap untuk mencintai. Tapi saat kita berpisah, kita tak pernah benar-benar siap untuk melupakan. Karena cinta bukan ingatan yang bisa dilupakan, cinta adalah perasaan yang akan sempurna jika ada yang memiliki. Maaf, aku melepaskanmu.


Untukmu, Handphone Samsung yang kemarin aku jual. Aku menjualmu bukan karena aku tak lagi mencintaimu. Aku takut tak merawatmu lagi. Hanya itu. Kamu pantas lebih bahagia dari sekarang. Bahagialah bersama pemilikmu yang baru. Penuhi pintanya. Bahagiakan ia seperti kamu dulu membahagiakanku. Aku akan baik-baik saja. Mungkin sebentar lagi aku akan mendapatkan penggantimu. Handphone baru dengan performa yang lebih yahud. Tapi percayalah, sedikitpun aku tak akan melupakanmu. Maaf kalau aku sering menjatuhkanmu dari atas kasur. Aku tak sengaja. Sumpah.
Share:

Saturday, June 20, 2015

Puasa di Tempat Baru

Puasa tahun ini adalah puasa yang paling beda bagi saya pribadi. Kenapa? Apa karena saya udah bisa puasa full? Atau karena saya udah punya pacar jadi ada yang bangunin sahur? Apa jangan-jangan karena saya puasanya 26 jam? Bukan. Bukan karena itu. Bedanya karena puasa tahun ini adalah puasa pertama saya sebagai anak kos. Yap, rasanya beda. Lebih berwarna meskipun merana. Lebih berkesan meskipun pas-pasan. Yaa walaupun biasanya kita udah sering puasa juga ditanggal tua.

Karena masih baru menjadi anak kos, ada banyak pertanyaan dikepala saya saat mau masuk bulan puasa. Apa ada warteg yang buka pada jam sahur? Kalo nggak ada gimana? Masa saya sahur pake indomie lagi? Terus apa bisa saya bangun jam 3 hanya dengan bantuan alarm hp? Dirumah aja kalo belum ditarik-tarik sama orang tua nggak bakal bangun. Akhirnya pertanyaan-pertanyaan itu terjawab di hari pertama puasa.

Hari pertama puasa, alhamdulillah bangunnya tepat waktu. Ternyata kalo sebelum tidur memang di-niat-kan buat bangun sahur pasti bangunnya gampang kok. Percaya deh buat yang susah bangun. Semua tergantung niat. Habis bangun dan ngebangunin teman-teman kosan, saya dan lima teman kosan lainnya berangkat buat nyari makan sahur. Dan ternyata apa yang saya kira salah. Jam 3 subuh udah banyak banget mahasiswa-mahasiswa yang berkeliaran nyari makan sahur. Dan ternyata banyak juga warteg yang buka. Hampir seluruh lah. Sampe ngantri loh kalo mau beli makannya. Serius. Ini suatu hal yang unik dan menarik bagi saya. Kalo bukan karena iman kita kepada Tuhan, mana mau kan kita keluar subuh-subuh dengan cuaca yang dingin cuma buat nyari makan. Mending tidur sambil selimutan di kamar. Kalo bukan karena iman, bisa aja kita makan diam-diam didalam kamar kos. Toh nggak akan ada yang ngeliat juga kan? Jadi buat anak-anak kos diluar sana yang berpuasa, kita hebat bro hahaha.

Nah pas buka puasa beda lagi. Seperti pada umumnya bulan puasa, pasti banyak dong orang yang jualan ta’jil khas puasa. Bedanya kalo kalian tinggal di sekitaran kampus, itu yang rame berkeliaran dan beli ta’jilnya adalah kumpulan mahasiswa-mahasiswa. Yap, ini sebuah pemandangan yang jarang. Kalo biasanya tempat jualan ta’jil itu rame sama ibu-ibu, sekarang segerombolan muda-mudi yang ngeramein pinggir jalan. Jadi buat kita anak kos ini jadi semacam ngabuburit. Rame-rame nyari bukaan sambil canda-canda ehh nggak kerasa pas nyampe kosan udah adzan. Beda loh rasanya kalo kita beli makan buat buka puasa sama tinggal makan aja masakan orang tua. Satu hal yang nggak bisa kalian dapatkan kalo bukan jadi anak kos hehehe. Itulah kenapa saya bersyukur bisa kuliah jauh, jadi anak kos, keluar dari zona nyaman selama ini. Ada banyak hal baru yang bisa didapat, suasana baru yang tercipta, dan bikin sadar bahwa kita belum apa-apa kalo hanya diam ditempat.

Tapi, seenak-enaknya makanan di warteg, seasyik-asyiknya nyari bukaan bareng teman-teman kos, dan sebahagia-bahagianya berada zona baru ini, ada satu hal yang dikangenin sama anak kos, yaitu rumah. Tetap aja saya kangen banget sahur dan buka puasa dirumah bareng orang tua dan saudara. Meskipun senang berada ditempat baru, percayalah rumah adalah sebaik-baiknya tempat untuk pulang. Ada cinta tanpa pamrih disana, ada suasana yang nggak bakal ada ditempat lain, dan ada masakan ibu yang lezatnya tiada tara menanti.


Terakhir, gak penting kalian sahur sama apa, buka puasa sama apa, atau dibangunin sama siapa. Yang penting kalo kalian udah puasa, jangan cuma sekedar puasa. Sempurnakan juga dengan shalat dan amalan lainnya. Bukannya ingin menggurui, tapi sekedar ingin mengingatkan. Selamat berpuasa.. :)
Share:

Tuesday, May 19, 2015

Cara Mudah Memahami Soal Tes SBMPTN Analogi Kata

Bagaimana persiapan kalian dalam menghadapi SBMPTN? wahh mungkin sudah banyak yang tancap gas nih mulai dari beli buku SBMPTN, mungkin juga ada yang kalian sudah mempersiapkan dengan mengikuti Bimbel. Ya boleh saja, memang dalam SBMPTN kita harus maksimal mempersiapkannya.


Kali ini kita akan coba membahas mengenai Tips dan Cara Mudah Mengerjakan Soal Tes Potensi Akademik dengan materi Tes Analogi Kata. Mungkin bagi yang sudah pernah mengikuti SBMPTN tahun lalu sudah melihat bagaimana soalnya dan mungkin sudah tahu bagaimana triknya. Perlu diingat nih, Tes Analogi ini merupakan Tes yang paling sering diujikan dalam gelaran SBMPTN. 

Dalam Tes Analogi Kata ini menguji kemampuan kalian dalam ber-Logika Ria. Tes Analogi ini juga dipakai dalam menguji kemampuan seseorang dalam mencari kata-kata yang setara dan saling berhubungan. Jadi dalam Tes ini yang diuji ialah Kemampuan Bahasa (Verbal) dan daya nalar kalian dalam menjawab soal TPA Analogi Kata.

Soal-soal yang keluar dalam TPA Analogi kata ini bermacam-macam, bisa saja mengenai Sinonim atau Antonim atau juga mengenai Fungsi dan Asosiasi Kata. Namun, dalam beberapa soal TPA terakhir banyak keluar tipe soal seperti:
  1. Urutan
  2. Definisi
  3. Ukuran
  4. Golongan
  5. Habitat
  6. Sebab-Akibat
  7. Sifat Objek
  8. Fungsi Objek
  9. Asosiasi Objek
  10. Media
  11. Urutan
  12. dll
Soal TPA Analogi Kata juga tiap tahunnya beragam bentuknya. Hal ini dikarenakan tiap tahunnya beragam kemampuan orang yang diujinya, namun jangan khawatir tipe soal TPA Analogi Kata ini takkan keluar dari koridor rujukkan pembuatan soal.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya diatas bahwa Tes Analogi ialah mencari Hubungan Kata yang pas dengan Kata yang lainnya, misal
A : B = C : D
Kita harus mencari hubungan kata antara A dengan C dan B dengan D. Ada beberapa Jenis Soal TPA Analogi Kata yang Ikubaru's Blogzia temukkan dalam TPA Analogi Kata, yakni seperti berikut:



Sudah ada gambaran mengenai Soal TPA Analogi Kata ini, kita bahas dulu yuk!! Sebelumnya kita harus tahu dulu Apa Jenis Hubungan Katanya.

Nomor 1 ialah Hubungan Kata Jenis Sebab-Akibat, jadi Penyebab Buta ialah diakibatkan karena Kurang Penglihatan,  Penyebab Kelaparan ialah karena Kurang Makanan

Nomor 2 ialah Hubungan Kata Jenis Sifat dan Profesinya, jadi Orang yang Cerdas ialah Ilmuwan, sedangkan Orang yang Lentur ialah Pesenam

Nomor 3 ialah Hubungan Kata Jenis Asosiasi, jadi Hutan ialah Kumpulan Pohon, sedangkan Armadamerupakan Kumpulan Kapal.

Nomor 4 ialah Hubungan Kata Jenis Makhluk, Alat Nafas, Habitat, jadi Ikan bernafas dengan Insang dan Hidup di Laut, maka Manusia bernafas dengan Paru-Paru dan Hidup di Darat

Bagaimana gampang kan? Banyak berlatih saja pasti kalian bisa sob, optimis selalu !!


TIPS DAN TRIK 

  1. Kenali dulu Jenis dan Tipe Soalnya, karena langkah ini dapat memudahkan kita dalam mengerjakan soal.
  2. Jangan terpaku pada Pilihan Jawaban, karena banyak jebakan sehingga kita harus berhati-hati
  3. Fokuskanlah pada Analogi Kata yang ada, misal A : B = C : D, maka fokuskanlah pada A dan D, maka kalian akan menemukan tipe soalnya.
  4. Sebagaimana dengan Soal TPA lainnya, soal ini juga dpaat membuat kita merasa penasaran, hingga dapat menghabiskan waktu. Oleh karena itu, maka jangan sampai terlalu terlena dengan soal ini. Dalam mengerjakan satu soal kita hanya bisa mengerjakan dalam waktu 10-20 setik saja.
  5. Yang ga kalah penting ialah, Rajinlah Latihan soal-soal TPA, khususnya soal Analogi ini, semakin kita rajin maka semakin cepat kita meng-ANALOGI-kan kata yang ada.
Nah itulah tadi sedikit Tips da Trik dalam menghadapi soal SBMPTN tes analogi kata. Semoga kalian yang tahun ini mengikuti tes SBMPTN diterima yaa di PTN favoritnya. Semangat terus! Usaha keras tidak akan pernah menghianati hasil. :)

source: http://ikubarunovryan.blogspot.com/2014/04/cara-mudah-mengerjakan-soal-tpa-tes.html
Share: