Friday, June 26, 2015

Maaf Aku Melepaskanmu

Dulu, saat kita masih bersama, ada banyak keceriaan yang tercipta setiap harinya. Dari pagi, petang, hingga malam, aku dan kamu selalu menemukan cara untuk ceria.

Dulu, saat kita saling memiliki satu sama lain, aku tak pernah sepi menghadapi hari-hari. Saat aku bosan, kamu dengan sabar menemaniku. Membuatku hidup lagi layaknya gersang menemui hujan.

Dulu, saat kita tak pernah jauh, aku merasa itulah saat terbaik bersamamu. Aku melihat dunia melaluimu. Melalui kebaikanmu.

Kata orang, cinta itu adalah tentang bagaimana kita saling melengkapi satu sama lain. Tapi bagiku, cinta bukan hanya tentang saling melengkapi. Lebih dari itu, cinta juga mengajarkan bagaimana cara terbaik untuk berpisah.

Saat pertama menemukanmu, aku langsung jatuh hati kala itu. Kagum pada kemampuanmu, terpikat pada magismu. Memang banyak yang aku temui, tapi akhirnya pilihan jatuh kepadamu. Saat itu—saat mulai memilikimu—aku mulai merasakan kebahagiaan tiap harinya. Bersamamu, aku melihat dunia dengan mudah. Karenamu, semuanya menjadi lebih indah.

Dan benar saja, putusanku untuk memilihmu tak pernah salah. Kita bertemu untuk saling melengkapi. Aku tanpa kamu hanyalah hampa. Kamu tanpa aku pun hampa. Setahun lebih kita saling bersama. Aku mencintaimu dengan sepenuh hati. Tanpa henti dan pamrih, aku mencintaimu tak bertepi. Hingga hidup menemui mati.

Sekarang semuanya telah berakhir. Kita—atau lebih tepatnya aku—memutuskan untuk tak lagi bersamamu. Berat memang. Tapi seperti kataku, cinta juga mengajarkan cara terbaik untuk berpisah. Mungkin inilah cara yang terbaik itu. Kita memang ditakdirkan bersama, tapi kita juga ditakdirkan untuk berpisah setelah kebersamaan itu. Merelakanmu untuk bahagia bersama yang lain adalah bentuk cintaku yang baru kepadamu. Sulit untuk melepaskanmu yang telah lama menemani hari-hariku. Sulit juga untuk melupakan setiap goresan kenangan yang dulu pernah kita ukir bersama. Tapi percayalah, ini yang terbaik.

Saat kita jatuh cinta, kita siap untuk mencintai. Tapi saat kita berpisah, kita tak pernah benar-benar siap untuk melupakan. Karena cinta bukan ingatan yang bisa dilupakan, cinta adalah perasaan yang akan sempurna jika ada yang memiliki. Maaf, aku melepaskanmu.


Untukmu, Handphone Samsung yang kemarin aku jual. Aku menjualmu bukan karena aku tak lagi mencintaimu. Aku takut tak merawatmu lagi. Hanya itu. Kamu pantas lebih bahagia dari sekarang. Bahagialah bersama pemilikmu yang baru. Penuhi pintanya. Bahagiakan ia seperti kamu dulu membahagiakanku. Aku akan baik-baik saja. Mungkin sebentar lagi aku akan mendapatkan penggantimu. Handphone baru dengan performa yang lebih yahud. Tapi percayalah, sedikitpun aku tak akan melupakanmu. Maaf kalau aku sering menjatuhkanmu dari atas kasur. Aku tak sengaja. Sumpah.
Share:

Saturday, June 20, 2015

Puasa di Tempat Baru

Puasa tahun ini adalah puasa yang paling beda bagi saya pribadi. Kenapa? Apa karena saya udah bisa puasa full? Atau karena saya udah punya pacar jadi ada yang bangunin sahur? Apa jangan-jangan karena saya puasanya 26 jam? Bukan. Bukan karena itu. Bedanya karena puasa tahun ini adalah puasa pertama saya sebagai anak kos. Yap, rasanya beda. Lebih berwarna meskipun merana. Lebih berkesan meskipun pas-pasan. Yaa walaupun biasanya kita udah sering puasa juga ditanggal tua.

Karena masih baru menjadi anak kos, ada banyak pertanyaan dikepala saya saat mau masuk bulan puasa. Apa ada warteg yang buka pada jam sahur? Kalo nggak ada gimana? Masa saya sahur pake indomie lagi? Terus apa bisa saya bangun jam 3 hanya dengan bantuan alarm hp? Dirumah aja kalo belum ditarik-tarik sama orang tua nggak bakal bangun. Akhirnya pertanyaan-pertanyaan itu terjawab di hari pertama puasa.

Hari pertama puasa, alhamdulillah bangunnya tepat waktu. Ternyata kalo sebelum tidur memang di-niat-kan buat bangun sahur pasti bangunnya gampang kok. Percaya deh buat yang susah bangun. Semua tergantung niat. Habis bangun dan ngebangunin teman-teman kosan, saya dan lima teman kosan lainnya berangkat buat nyari makan sahur. Dan ternyata apa yang saya kira salah. Jam 3 subuh udah banyak banget mahasiswa-mahasiswa yang berkeliaran nyari makan sahur. Dan ternyata banyak juga warteg yang buka. Hampir seluruh lah. Sampe ngantri loh kalo mau beli makannya. Serius. Ini suatu hal yang unik dan menarik bagi saya. Kalo bukan karena iman kita kepada Tuhan, mana mau kan kita keluar subuh-subuh dengan cuaca yang dingin cuma buat nyari makan. Mending tidur sambil selimutan di kamar. Kalo bukan karena iman, bisa aja kita makan diam-diam didalam kamar kos. Toh nggak akan ada yang ngeliat juga kan? Jadi buat anak-anak kos diluar sana yang berpuasa, kita hebat bro hahaha.

Nah pas buka puasa beda lagi. Seperti pada umumnya bulan puasa, pasti banyak dong orang yang jualan ta’jil khas puasa. Bedanya kalo kalian tinggal di sekitaran kampus, itu yang rame berkeliaran dan beli ta’jilnya adalah kumpulan mahasiswa-mahasiswa. Yap, ini sebuah pemandangan yang jarang. Kalo biasanya tempat jualan ta’jil itu rame sama ibu-ibu, sekarang segerombolan muda-mudi yang ngeramein pinggir jalan. Jadi buat kita anak kos ini jadi semacam ngabuburit. Rame-rame nyari bukaan sambil canda-canda ehh nggak kerasa pas nyampe kosan udah adzan. Beda loh rasanya kalo kita beli makan buat buka puasa sama tinggal makan aja masakan orang tua. Satu hal yang nggak bisa kalian dapatkan kalo bukan jadi anak kos hehehe. Itulah kenapa saya bersyukur bisa kuliah jauh, jadi anak kos, keluar dari zona nyaman selama ini. Ada banyak hal baru yang bisa didapat, suasana baru yang tercipta, dan bikin sadar bahwa kita belum apa-apa kalo hanya diam ditempat.

Tapi, seenak-enaknya makanan di warteg, seasyik-asyiknya nyari bukaan bareng teman-teman kos, dan sebahagia-bahagianya berada zona baru ini, ada satu hal yang dikangenin sama anak kos, yaitu rumah. Tetap aja saya kangen banget sahur dan buka puasa dirumah bareng orang tua dan saudara. Meskipun senang berada ditempat baru, percayalah rumah adalah sebaik-baiknya tempat untuk pulang. Ada cinta tanpa pamrih disana, ada suasana yang nggak bakal ada ditempat lain, dan ada masakan ibu yang lezatnya tiada tara menanti.


Terakhir, gak penting kalian sahur sama apa, buka puasa sama apa, atau dibangunin sama siapa. Yang penting kalo kalian udah puasa, jangan cuma sekedar puasa. Sempurnakan juga dengan shalat dan amalan lainnya. Bukannya ingin menggurui, tapi sekedar ingin mengingatkan. Selamat berpuasa.. :)
Share:

Tuesday, May 19, 2015

Cara Mudah Memahami Soal Tes SBMPTN Analogi Kata

Bagaimana persiapan kalian dalam menghadapi SBMPTN? wahh mungkin sudah banyak yang tancap gas nih mulai dari beli buku SBMPTN, mungkin juga ada yang kalian sudah mempersiapkan dengan mengikuti Bimbel. Ya boleh saja, memang dalam SBMPTN kita harus maksimal mempersiapkannya.


Kali ini kita akan coba membahas mengenai Tips dan Cara Mudah Mengerjakan Soal Tes Potensi Akademik dengan materi Tes Analogi Kata. Mungkin bagi yang sudah pernah mengikuti SBMPTN tahun lalu sudah melihat bagaimana soalnya dan mungkin sudah tahu bagaimana triknya. Perlu diingat nih, Tes Analogi ini merupakan Tes yang paling sering diujikan dalam gelaran SBMPTN. 

Dalam Tes Analogi Kata ini menguji kemampuan kalian dalam ber-Logika Ria. Tes Analogi ini juga dipakai dalam menguji kemampuan seseorang dalam mencari kata-kata yang setara dan saling berhubungan. Jadi dalam Tes ini yang diuji ialah Kemampuan Bahasa (Verbal) dan daya nalar kalian dalam menjawab soal TPA Analogi Kata.

Soal-soal yang keluar dalam TPA Analogi kata ini bermacam-macam, bisa saja mengenai Sinonim atau Antonim atau juga mengenai Fungsi dan Asosiasi Kata. Namun, dalam beberapa soal TPA terakhir banyak keluar tipe soal seperti:
  1. Urutan
  2. Definisi
  3. Ukuran
  4. Golongan
  5. Habitat
  6. Sebab-Akibat
  7. Sifat Objek
  8. Fungsi Objek
  9. Asosiasi Objek
  10. Media
  11. Urutan
  12. dll
Soal TPA Analogi Kata juga tiap tahunnya beragam bentuknya. Hal ini dikarenakan tiap tahunnya beragam kemampuan orang yang diujinya, namun jangan khawatir tipe soal TPA Analogi Kata ini takkan keluar dari koridor rujukkan pembuatan soal.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya diatas bahwa Tes Analogi ialah mencari Hubungan Kata yang pas dengan Kata yang lainnya, misal
A : B = C : D
Kita harus mencari hubungan kata antara A dengan C dan B dengan D. Ada beberapa Jenis Soal TPA Analogi Kata yang Ikubaru's Blogzia temukkan dalam TPA Analogi Kata, yakni seperti berikut:



Sudah ada gambaran mengenai Soal TPA Analogi Kata ini, kita bahas dulu yuk!! Sebelumnya kita harus tahu dulu Apa Jenis Hubungan Katanya.

Nomor 1 ialah Hubungan Kata Jenis Sebab-Akibat, jadi Penyebab Buta ialah diakibatkan karena Kurang Penglihatan,  Penyebab Kelaparan ialah karena Kurang Makanan

Nomor 2 ialah Hubungan Kata Jenis Sifat dan Profesinya, jadi Orang yang Cerdas ialah Ilmuwan, sedangkan Orang yang Lentur ialah Pesenam

Nomor 3 ialah Hubungan Kata Jenis Asosiasi, jadi Hutan ialah Kumpulan Pohon, sedangkan Armadamerupakan Kumpulan Kapal.

Nomor 4 ialah Hubungan Kata Jenis Makhluk, Alat Nafas, Habitat, jadi Ikan bernafas dengan Insang dan Hidup di Laut, maka Manusia bernafas dengan Paru-Paru dan Hidup di Darat

Bagaimana gampang kan? Banyak berlatih saja pasti kalian bisa sob, optimis selalu !!


TIPS DAN TRIK 

  1. Kenali dulu Jenis dan Tipe Soalnya, karena langkah ini dapat memudahkan kita dalam mengerjakan soal.
  2. Jangan terpaku pada Pilihan Jawaban, karena banyak jebakan sehingga kita harus berhati-hati
  3. Fokuskanlah pada Analogi Kata yang ada, misal A : B = C : D, maka fokuskanlah pada A dan D, maka kalian akan menemukan tipe soalnya.
  4. Sebagaimana dengan Soal TPA lainnya, soal ini juga dpaat membuat kita merasa penasaran, hingga dapat menghabiskan waktu. Oleh karena itu, maka jangan sampai terlalu terlena dengan soal ini. Dalam mengerjakan satu soal kita hanya bisa mengerjakan dalam waktu 10-20 setik saja.
  5. Yang ga kalah penting ialah, Rajinlah Latihan soal-soal TPA, khususnya soal Analogi ini, semakin kita rajin maka semakin cepat kita meng-ANALOGI-kan kata yang ada.
Nah itulah tadi sedikit Tips da Trik dalam menghadapi soal SBMPTN tes analogi kata. Semoga kalian yang tahun ini mengikuti tes SBMPTN diterima yaa di PTN favoritnya. Semangat terus! Usaha keras tidak akan pernah menghianati hasil. :)

source: http://ikubarunovryan.blogspot.com/2014/04/cara-mudah-mengerjakan-soal-tpa-tes.html
Share:

Saturday, April 25, 2015

Yakin, aku yang terbaik

Aku bukanlah superhero yang punya kekuatan hebat untuk melawan musuh. Punya jurus sakti yang bisa menangkal bahaya. Punya banyak tenaga untuk menghancurkan lawan. Aku hanya lelaki biasa. Lelaki yang mungkin bukan istimewa bagimu. Aku hanyalah aku. Jangan mengharapkan aku untuk menjadi hebat seperti superhero kesukaanmu. Aku bukan superhero.  Tapi aku akan melindungi ragamu sebaik-baiknya perlindungan, menjaga hatimu dengan kasih berwujud cinta. Karena aku mencintaimu. Bahkan lebih hebat dari superhero kesukaanmu.

Aku bukan juga miliarder. Aku mungkin tidak punya banyak uang untuk menciptakan kebahagiaan untukmu, membelikanmu ini itu. Aku tidak punya istana sebagai tempatmu istirahat, sebagai tempatmu berteduh dikala hujan terlalu gaduh. Aku juga tidak punya butiran berlian untukmu. Aku hanyalah aku. Lelaki biasa tanpa harta berlimpah. Tapi aku akan berusaha. Aku mungkin tidak bisa menciptakan kebahagiaan untukmu dengan cepat. Tapi aku janji, aku akan membangun kebahagiaan untukmu. Perlahan. Bersama-sama. Hingga aku akan menjadikanmu ratu di istana kita kelak.

Aku bukanlah pujangga. Aku mungkin tidak bisa menciptakan sajak-sajak romantis untuk mengagumi dirimu. Aku tidak bisa menciptakan ribuan kalimat puitis dengan irama ritmis. Menjadikan dirimu sebagai sumber dari kata-kata romantis. Aku hanyalah aku. Memang aku bukan seorang pujangga. Tapi karena cintamu, aku mengerti bahwa cinta tidak hanya tentang bagaimana sebuah sajak indah tercipta karenanya. Lebih dari itu, cinta mengajarkan kita untuk menjadi diri sendiri. Meski tanpa puisi elegi. Karena cinta menuntut kejujuran diri, bukan sekedar puisi.

Aku bukanlah lelaki yang bisa kamu ajak berdansa. Aku tidak bisa mengajakmu berdansa dibawah sinar lampu temaram yang kerlap kerlip sembari diiringi musik nan lembut, mengecup keningmu dengan penuh kasih, hingga lelah tiba dan kita tak sanggup lagi untuk berdansa. Aku hanyalah aku. Aku hanya bisa berdiri satu shaf di depanmu, tidak saling berhadapan tetapi menghadap ke satu arah yang sama, kemudian mengajakmu bersujud memuji Sang Maha Cinta. Mensyukuri setiap kebaikan yang Dia berikan. Karena berkat-Nya lah aku mencintaimu. Maka, kuserahkan hatiku kepada-Nya hingga nanti hati kita bertaut, bertahta, dan bersemi indah karena ridha-Nya.

Aku hanyalah aku.

Aku memang bukan superhero, bukan miliarder, bukan pula pujangga. Aku lelaki biasa. Banyak kekurangan. Tidak sempurna. Jika superhero punya banyak kekuatan untuk melawan musuh, aku hanya punya kekuatan untuk terus mencintaimu secara utuh. Jika miliarder punya banyak uang untuk menciptakan kebahagiaan untukmu, aku cuma bisa mengajakmu untuk membangun kebahagiaan bersama. Jika pujangga punya banyak kata-kata cinta untukmu, aku hanya punya satu kata untukmu, yaitu: Sempurna. Dan, aku tak akan pernah bisa mengajakmu pergi untuk berdansa, merangkul pinggangmu sembari bertatap mata. Aku hanya bisa menuntunmu menuju nirwana. Hingga kita kekal bersama di dalamnya.

Aku mencintaimu tanpa jeda. Tanpa lelah. Tanpa keluh kesah. Hingga raga berpisah. Hingga debar jantung tak lagi terasa. Namun percayalah, cinta ini akan terus ada.


Walaupun aku belum bisa menjadi hebat seperti yang kamu impikan, menjadi istimewa seperti yang kamu harapkan, tapi yakin, aku yang terbaik.
Share:

Friday, April 10, 2015

Cerita Anak Kost

Suatu hari Asrul yang sedang kelaparan hanya bisa guling-guling di kamar kostnya. Tak ada makanan, tak ada minuman, bahkan duit pun tak ada. Yang ada hanya Asrul dan sebongkah harapan untuk tetap bertahan hidup. Karena tak kuat lagi menahan lapar, akhirnya Asrul pergi ke kosan temannya untuk menumpang makan.

“Jer, minta makan dong. Gue udah tiga hari nih nggak makan” Pinta Asrul memelas. Matanya berbinar mengeluarkan air soda.

“Sama, Srul. Gua malah udah empat hari nggak makan. Nih dari kemaren cuma ngemil detergen doang. Mau?” Tawar Jeri yang lebih mengenaskan. Tubuhnya terlihat dipenuhi lalat. Ternyata dua orang sahabat ini sama-sama dalam kondisi sulit sebagai anak kost.

“Wah kok detergen lo rasa bawang goreng. Beli dimana?” Tanya Asrul penasaran.

“Udah jangan banyak tanya. Sikat aja”

“Eh gimana kalo kita keliling nyari makan? Kali aja ada pesta pernikahan. Kan lumayan bergizi tuh” Ajak Asrul semangat.

“Bener juga lo. Yuk berangkat. Jangan lupa bawa tas. Kita bungkus banyak buat bekal di kosan”

Kedua sahabat tersebut akhirnya bergegas mencari tempat pesta pernikahan.

*****

Nahh, apa inti dari cerita singkat diatas? Intinya, anak kost itu punya banyak cara untuk bertahan hidup. Seperti yang diketahui pada umumnya, jadi anak kost itu tidak selalu menyenangkan. Ada kalanya anak kost menderita dan susah. Apalagi kalo sudah mendekati akhir bulan. Kalo nggak pinter-pinter menghadapinya, tamat sudah riwayat.

Seperti yang dibilang di atas, jadi anak kost itu harus pinter-pinter. Pinter dalam semua hal yaa, termasuk dalam mengelola keuangan. Kecuali kalo kalian sebulannya dikirim satu miliar sama orang tua. Itu mau ngapain juga gak masalah. Masalahnya gimana kalo yang sebulannya dikirim pas-pasan? Nah disinilah anak kost harus pinter mengelola duitnya. Maksudnya gini, jangan mentang-mentang awal bulan, ATM masih gemuk, terus kalian tiap hari makan di restaurant, nge-mall, beli batu akik, batu bata, semen, ngeborong deodorant. Ngapain coba? Emang ketek kalian ada berapa? Kalo kayak gitu, rasa-rasanya mau berapapun dikirim uang sama orang tua juga gak bakalan cukup. Kenapa? Karena gaya hidup kalian terlalu tinggi.

Jadi anak kost itu perlu kesadaran diri juga. Boleh bergaya hidup mewah, tinggi, tapi itu kalo kalian udah berpenghasilan saat jadi anak kost atau yang tadi, yang sebulan dikirim satu miliar. Nah buat yang gak bisa, jangan dipaksain. Jangan mementingkan ego. Ingat aja kuliah atau sekolah itu mahal. Gak kasian sama orang tua yang udah banting tulang siang malam demi kita anaknya? Nah kalo udah ada kesadaran diri kayak gitu, yakin deh kalian pasti akan terus merasa cukup. Karena cukup atau tidaknya itu bukan tergantung dari besar kecilnya uang yang dikasih sama orang tua kita, tapi tergantung bagaimana kita mengelolanya.

Selain masalah keuangan, anak kost itu juga identik dengan yang namanya jorok, kamarnya berantakan, baju jarang dicuci, dan semacamnya. Nah saya sebagai lelaki yang cinta kebersihan ingin merubah pandangan buruk itu. Hari minggu saya tetapkan sebagai hari bersih-bersih. Memang hari minggu itu biasanya jadi hari bersih-bersih buat sebagian anak kost. ‘Sebagian’ yaa. Sebagian lagi bersih-bersihnya sebulan sekali. Nah saat inilah saya kadang merasa mirip sama ibu-ibu rumah tangga. Jadi pagi hari udah mulai bersih-bersih kamar. Dimulai dari merendam pakaian yang udah menggunung. Udah itu dilanjutin dengan nyuci piring. Beres nyuci piring lanjut lagi sama nyapu dan ngepel kamar kost. Kamar udah bersih, baru deh nyuci pakaian yang udah direndam tadi. Udah itu baru deh nyusuin anak, mandiin anak. Oke dua point terakhir abaikan. Mirip kan sama kegiatan ibu-ibu rumah tangga? Bedanya kalo ibu rumah tangga nyucinya bersih, nggak masalah lama. Kalo anak kost nyucinya yang penting cepat selesai, bersih nomer dua. Yang penting bajunya wangi. Itu aja.


Oke saya punya pesan nih buat anak kost terutama yang masih newbie. Pesannya, kalo kalian ngekost, hadapilah hidup dengan gagah, bro. Bawa happy aja. Mungkin awal-awalnya memang berat. Harus beradaptasi dengan makanan warteg yang kadang keasinan kadang juga gak ada rasanya, harus terbiasa nyuci baju sendiri, harus terbiasa ngurus diri sendiri, harus terbiasa mandiri. Tapi lama kelamaan pasti asyik. Banyak pengalaman yang bisa didapat saat jadi anak kost. Intinya dinikmati aja. Jadi anak kost cuma sekali seumur hidup kok. Kita juga harus bersyukur karena ada orang di luar sana yang mau merasakan jadi anak kost tapi nggak kesampaian. Anggap aja ini latihan mendewasakan diri buat masa depan hahaha. Satu lagi, kurangi makan indomie. Jangan dijadiin makanan pokok.
Share:

Sunday, April 5, 2015

Mencintai dengan Sempurna

Cinta mengajarkan kita akan banyak hal. Tentang menerima, menghargai, saling memaafkan, saling menyebut dalam doa saat merindu, tentang suka duka, egoisme, dan banyak lagi. Satu yang jelas aku rasakan, cinta mengajarkanku bahwa jatuh hati padamu adalah bentuk dari kebahagiaan.

Aku bahagia bisa mengenalmu. Kamu adalah wanita terindah yang pernah tersorot oleh bola mataku. Kamu ialah ombak yang menenggelamkanku ke dalam relung hatimu. Aku tahu bahwa ada banyak perbedaan diantara kita. Perbedaan yang paling jelas adalah: Kamu sempurna, aku banyak kekurangan. Kamu bidadari, aku hamba. Namun apakah itu salah? Salahkan katak yang merindukan bulan?

Sejak mencintaimu, aku menjadi orang yang selalu menginginkanmu hadir di dalam mimpi. Menjadi orang yang selalu ingin melihat senyummu mewarnai hari. Menjadi orang yang selalu ingin mendengarkan suaramu menyanyikan lagu-lagu bernuansa klasik. Sejak mencintaimu, aku tak ingin kehilanganmu.

Aku mencintaimu dalam kesungguhan. Kesungguhan untuk memilikimu seutuhnya. Sungguh. Entah sudah berapa kali aku menyampaikan ini lewat tulisanku yang usang. Tapi yang jelas, dalam hatiku yang terdalam, ada keyakinan bahwa engkaulah cinta itu. Engkaulah cinta yang akan menemaniku menuju kebahagiaan. Engkaulah pelabuhan yang aku cari selama ini. Pelabuhan tempatku menyandarkan hati disana selamanya. Hingga aku tak mau pergi. Hingga aku mati. Engkaulah pelengkap dari semua kurangku. Aku mencintaimu sungguh-sungguh. Tanpa ragu.

Aku mencintaimu dalam keheningan. Dalam hening, aku menjelma menjadi doa yang melindungimu, dari pagi hingga petang datang, dan dari petang hingga pagi datang lagi. Dalam hening, aku menjadi sibuk karena terus memikirkanmu. Membiarkan seluruh ruang kepala dipenuhi oleh bayangmu, hingga cinta menyebar masuk ke dalam hati. Dalam hening, kamu seolah menjadi lentera yang menyinari gelapku. aku mencintaimu. Hingga hening menjadi riuh dan gaduh, aku akan tetap mencintaimu. Utuh.


Kamu adalah sebuah nama yang sudah tereja lama. Sebuah rupa yang telah tersketsa didalam hati. Sebuah tujuan yang ingin aku gapai dan raih. Dalam semua kekuranganku, aku mencintaimu dengan sempurna.
Share:

Monday, March 30, 2015

Nara dan Secangkir Kopi Pahit

Dirga melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Genangan air yang ada di sepanjang trotoar membuatnya tak bisa melangkah leluasa seperti biasanya. Hujan yang turun sejak tadi siang  membuat sepatu pantofelnya yang mengkilat menjadi sedikit kotor.

“Ahh kok hujannya gak berenti-berenti sih?” Gumam Dirga kesal.

Lelaki yang berparas tampan ini ingin menuju sebuah kedai kopi yang terletak tidak jauh dari kantornya. Setiap sore selepas pulang kantor, ia memang selalu menghabiskan waktunya di kedai kopi tersebut. Selain Dirga memang penikmat kopi, posisi kedai yang terletak strategis di dekat taman ini membuatnya betah berlama-lama duduk disana hanya untuk melepas lelah.

“Yang ini ya, mbak” Dirga menunjuk Latte Macchiato untuk dipesan. Itu adalah kopi kesukaannya. Latte Macchiato yang terbuat dari kopi yang dicampur espresso dan susu ini membuatnya kecanduan. Ia bisa menghabiskan 10 cangkir jenis kopi yang sama dalam sehari.

“Ini mas pesanannya. Selamat menikmati..” Sapa pramusaji kedai kopi tersebut. Dirga hanya membalasnya dengan senyum. Dari name tag yang terpasang di dada kirinya, ia bisa tahu pramusaji tersebut bernama Sandra.

30 menit berlalu. Dirga  masih sibuk menikmati kopi yang dipesannya sembari mencium aroma kopi yang menurutnya tiada tara. Sesekali tangan kirinya mengaduk kopi tersebut.  Disisi lain, kedai kopi ini semakin ramai dikunjungi oleh orang-orang. Dirga  memperhatikan keadaan sekitarnya. Terlihat orang-orang disana sangat terbawa oleh suasana kedai yang bernuansa klasik. Namun perhatian Dirga terfokus pada sudut kedai ini. Disana ada seorang wanita bermuka tirus yang terlihat sedih. Tak ada kecerian terpancar dari wajahnya. Matanya hanya fokus menatap secangkir kopi yang ada di mejanya. Dirga  terus saja memperhatikan wanita itu hingga kopi miliknya habis. Diliriknya jam tangan yang menempel di tangan kirinya, sudah pukul 6:15 sore. Artinya sudah satu jam lebih wanita itu hanya diam termangu hingga kopinya mendingin. Dirga tak menghiraukannya. Ia kemudian pulang meninggalkan kedai tersebut.

Seminggu telah berlalu. Sejak Dirga melihat perempuan itu di sudut kedai kopi minggu lalu, sampai sekarang ia masih saja melihat hal yang serupa setiap harinya. Perempuan yang hanya duduk diam di sebuah sudut kedai dengan wajah penuh rana dan hanya memandangi secangkir kopi yang ia pesan. Disamping kopi tersebut terlihat pula sebuah surat beramplop merah.

“Ini mas pesanannya” Suara pramusaji mengagetkan Dirga yang sedari tadi memperhatikan wanita di sudut itu.

“Oh iya, Mbak. Terimakasih. Uhm, saya boleh nanya?”

“Tanya apa ya?”

“Itu perempuan yang disudut sana pesan apa ya? Kok kalo saya perhatiin dia gak pernah minum kopi pesanannya” Tanya Dirga sembari menunjukkan jarinya ke arah perempuan tersebut.

“Ohh mbak yang itu. Iya, dia dari seminggu yang lalu pesennya cuma kopi pahit. Tapi sampai dia pulang kopinya gak diminum sedikitpun. Aneh ya?” Jawab sang pramusaji yang merasa aneh dengan salah satu pelanggannya tersebut.

“Oh gitu ya, Mbak. Makasih yaa” Dirga  lagi-lagi mengucapkan terimakasih kepada pramusaji yang bernama Sandra itu.

Seperti biasa, Dirga  menikmati Latte Macchiato yang ia pesan. Tidak ada kenikmatan lain bagi Dirga selain merasakan setiap tegukan kopi yang melenggang mulus menuju lambungnya. Ia seolah memasrahkan tubuhnya dimasuki kafein setiap hari. Namun keasyikan Dirga menikmati kopi masih saja terganggu oleh seorang wanita yang diperhatikannya. Ia masih belum habis fikir bagaimana bisa seseorang memesan secangkir kopi pahit tapi tak pernah meminumnya sedikitpun. Dirga yang akhirnya penasaran kemudian membawa kopinya menuju sudut kedai tersebut.

“Kenapa masih saja bersedih?” Ucap Dirga yang langsung duduk dihadapan wanita berambut lurus itu. Wanita tersebut kaget dengan kehadiran Dirga. Ia langsung menyeka air matanya.

“Aku tidak bersedih” Jawab si wanita. Matanya masih belum berani menatap Dirga.

“Lalu apa arti dari air mata itu jika engkau tidak bersedih?”

“Ini air mata kekecewaan. Dulu aku pikir cinta itu hanya diciptakan dengan kebahagiaan saja. Bertahun-tahun aku merasakan kebaikan yang didasari atas cinta. Selama itulah aku percaya bahwa cinta adalah cara lain Tuhan membahagiakan kita. Tapi ternyata semuanya salah. Tuhan juga menciptakan cinta dengan kesedihan. Dan sekarang aku merasakannya. Merasakannya cinta yang dahulunya manis menjadi pahit. Aku membenci cinta sejak aku kehilangan cinta itu sendiri”

“Kamu tidak perlu membenci cinta. Ikhlaskan hatimu untuk melepas cinta seberapapun susahnya itu. Lupakan. Hatimu terlalu baik jika hanya merasakan duka setiap harinya. Belajarlah dari secangkir kopi pahit ini. Mungkin kamu akan merasakan pahit yang sangat luar biasa pada tegukan pertama. Tapi kemudian kamu akan terbiasa pada tegukan selanjutnya. Pun begitu dengan mengikhlaskan. Kamu akan tertatih awalnya, hingga kemudian kamu mulai bisa terbiasa”

“Melupakan tidak semudah yang engkau bilang” Ucap wanita itu sembari menatap Dirga dengan tajam. “Aku telah berkali-kali berusaha melupakan. Tapi alih-alih bisa, aku malah semakin terjatuh pada kubangan yang bernama kenangan”

“Kamu belum melakukan apa-apa untuk melupakan, Nara. Bagaimana kamu bisa lupa jika kamu selalu kembali ke tempat yang mengingatkanmu kembali kepada kenangan. Beri hatimu ruang untuk menerima kenyataan, karena sesungguhnya cinta itu hanya tentang menerima atau melepaskan”

“Terimakasih atas wejangannya, Dirga. Seperti yang kamu tahu, sejak kamu meninggalkan aku hari itu, aku sampai saat ini masih berusaha untuk melupakanmu. Tapi bagaimana bisa aku melupakanmu sementara kamu saat ini duduk dihadapanku memberi kekuatan untuk melupakan? Tapi aku akan berusaha. Berusaha melupakan kenangan pahit yang engkau berikan bersama dengan secangkir kopi pahit ini” Nara menghabiskan kopi pahit yang sudah mulai mendingin itu. Dari raut wajahnya tersirat ada sebuah kenangan pahit yang ingin ia lupakan.

“Ini surat terakhirku untukmu. Bacalah. Engkau akan tahu semuanya” Nara meninggalkan Dirga dengan surat beramplop merah tadi. Ada kelegaan yang terpancar dari setiap langkahnya yang meninggalkan Dirga. Dirga yang terpaku kemudian membuka surat beramplop merah itu dan dengan seksama membacanya.

Untuk Dirga. Lelaki yang dulu aku cintai.

Dulu di kedai kopi ini ada cinta yang tumbuh bersama dengan setiap kopi yang kita pesan. Aku mengenalmu sebagai lelaki yang hebat. Memang itu tidak salah. Kamu adalah satu-satunya yang mampu membuat aku jatuh cinta berkali-kali pada hati yang sama. Saat itu aku mencintaimu secara utuh.

Namun cinta akhirnya memaksaku untuk sadar bahwa selama ini aku salah. Kamu meninggalkanku begitu saja. Meninggalkan aku dengan cinta yang sepenuhnya untukmu. Aku yang dulunya tak tahu bagaimana caranya berhenti mencintaimu, sekrang menjadi tak tahu bagaimana caranya melupakanmu. Tapi aku akan berusaha. Berusaha melupakan semua kenangan pahit bersamaan dengan setiap tegukan kopi pahit yang aku minum.

Dari aku, Nara.

Wanita yang hatinya kau sakiti.
Share: