Sunday, May 29, 2016

Filosofi Tahu Bulat

Belakangan ini, sebuah jajanan enak dan murah mendadak ramai dibicarakan. Bukan karena jajanan itu mengandung racun, bukan juga karena makana itu hasil dari fermentasi sianida. Tapi karena cara penjualannya yang unik.

Kalian yang tinggal di Jawa Barat atau Jabodetabek pasti udah kenal sama tahu bulat. Nah uniknya, kalo dulu tahu bulat itu di jualnya di gerobak-gerobak biasa, sekarang tahu bulat dijualnya pake mobil! Keren kan? Penjual tahu bulat aja udah bisa beli mobil. Uniknya lagi, mobil tahu bulat ini datang dengan jingle nya yang khas. Bahkan Adam Levine juga sempat menyanyikan lagu tahu bulat di instagramnya.

Tahu bulat... / Digoreng / dimobil / dina katel dadakan.. / Lima ratusan.. / gurih gurih enyoyyyy...

Coba cermati lirik tahu bulat yang hits diatas. Sederhana, simple, namun penuh godaan. Bayangin aja, dengan lirik yang seperti itu, penjual menawarkan sebuah tahu bulat yang gurih kepada pembeli karena tahunya masih fresh dari wajan. Beda dengan tahu bulat yang dijual di gerobak-gerobak yang tahunya udah digoreng duluan.

Pas pertama kali dengar suara khas tahu bulat, jujur saya kira itu suara orang pengajian. Sumpah. Jadi kan waktu itu lagi nonton tv di kosan, tiba-tiba ada suara tahu bulat. Kan saya yang baru pertama kali dengar masih cuek aja. Kirain itu suara dari toa masjid. Ehh tapi pas didengarin baik-baik, kok ada suara gurih gurih enyoy gitu. Karena penasaran, saya cek keluar. Eh ternyata itu penjual tahu bulat. Saya syok.

Dari pengamatan saya mengenai tahu bulat yang selalu muncul siang dan malam ini, saya mendapatkan bahwa tahu bulat tidak hanya jajanan yang enak, tapi dibalik itu semua ada filosofi di dalamnya. Bahwa dengan tahu bulat, kita dapat memahami kehidupan. Mau tau?

Pertama, di dalam jingle tahu bulat, terdapat lirik Digoreng Dimobil. Apa maksud dari kata tersebut? Maksudnya, meskipun tahu bulat ini digoreng di mobil, harga tahu bulat ini nggak serta merta melonjak mahal. Tetap sama dengan tahu bulat yang digoreng di gerobak-gerobak yaitu 500 rupiah per buah. Meskipun tahu bulat yang digoreng dimobil lebih keren, tapi ia tetap merendah. Istilahnya mah down to earth. Nah begitulah seharusnya kehidupan manusia. Meskipun telah mencapai kedudukan tinggi, punya nama besar, terpandang, dan terhormat, hendaknya manusia tetap tidak menyombongkan diri. Tetaplah menjadi pribadi yang sederhana. Dengan menjadi orang yang sederhana, kalian akan tetap disukai banyak orang. Tahu bulat contohnya. Maka, kalo ada orang yang sombong padahal dia nya biasa aja, suruh orang itu berkaca pada tahu bulat.

Selanjutnya filosofi yang didapat dari tahu bulat masih dari lirik jingle nya yaitu Dadakan. Apa maksud Dadakan? Jadi gini, meskipun tahu bulat ini digorengnya dadakan, tapi tahu bulat tetap menjadi bulat sempurna. Nggak gepeng, nggak juga berubah bentuk. Tahu bulat selalu siap menjadi bentuk terbaiknya meskipun digoreng dadakan. Begitupun seharusnya manusia. Kadang kala kita diberi ujian secara dadakan oleh Tuhan. Misalnya lagi buru-buru pergi, tiba-tiba ban motor pecah, atau lagi mau setrika baju, tiba-tiba listiknya mati, atau yang paling ekstrem, pas lagi nyantai di kosan, tiba-tiba ibu kos datang nagih duit. Itu ujian banget. Walaupun kita diberi ujian secara dadakan, sebaiknya kita tetap menenangkan diri kita. Tetap berpikir positif dan ambil hikmah dari tiap ujian yang dadakan itu. Supaya apa? Supaya kita tetap enyoy seperti tahu bulat yang digoreng dadakan.

Lalu filosofi yang terakhir. Coba perhatikan, kenapa tahu bulat yang digoreng di mobil lebih booming dibandingkan dengan tahu bulat gerobak? Padahal kan lebih dulu tahu bulat gerobak yang muncul. Jawabannya adalah karena tahu bulat yang digoreng di mobil memberikan inovasi baru. Anti mainstream kalo kata anak muda sekarang. Dengan dijual dimobil, keuntungan pasti lebih banyak. Begitu juga seharusnya manusia. Ide boleh sama, pemikiran juga boleh sama, tapi yang terpenting adalah eksekusi nya yang harus beda. Pilih jalan kalian sendiri dan jangan ikut-ikutan. Kalau misal gagal, kalian tidak menyalahkan orang lain, dan kalau berhasil, kalian berhasil dengan jalan yang kalian ciptakan sendiri. Keren bukan? Makanya harus beda, harus out of the box seperti tahu bulat yang digoreng di mobil. Biar hasilnya juga beda.

Udahan ah. Pesan saya kalo mau makan tahu bulat yang baru masak, jangan lupa di tiup dulu. Panas soalnya.
Share:

Friday, May 27, 2016

Kamu Bagiku

Kamu bagiku adalah puisi. Puisi yang tercipta dari aksara yang tak kenal akhir. Puisi yang tercipta dengan bait penuh cinta. Maka bagiku, senyummu adalah nyawa dari setiap puisiku. Yang menggambarkan keindahan yang tak fana. Senyummu adalah inspirasi yang tak pernah bertepi. Serupa ada eros disana.

Kamu bagiku adalah senja. Senja yang selalu merona diwaktu petang dengan jingganya. Senja yang meninggalkan kenangan meski telah digantikan malam. Maka bagiku, senja terbaik ada di matamu. Berwarna tak jingga tapi bercahaya. Tak pernah tenggelam meski hari telah kelam. Senja dimatamu yang berbinar, membuat rindu di kalbuku dikala kita tak bertemu. Aku tenggelam, di kedalaman matamu.

Kamu bagiku adalah hujan. Hujan yang datang memeluk bumi yang gersang. Hujan yang meredakan dahaga kaktus yang haus. Maka bagiku, pelukmu adalah hujan. Menyejukkan jiwa yang kadang amarah, menenangkan jiwa yang kadang goyah. Aku hanyut di arus pelukmu, lalu bermuara dihatimu.

Kamu bagiku adalah langit. Langit yang tinggi dan bersahaja tapi sedikitpun tak pernah angkuh. Langit yang selalu menjadi sahabat bagi matahari. Langit juga yang memeluk bulan dikala ia sendiri tanpa ditemani bintang. Maka bagiku, hatimu adalah langit. Luas dan lapang, tempatku menyandarkan segala angan. Dihatimu, aku menemukan kenyamanan. Maka, dihatimulah aku bertempat.

Lalu, siapa aku bagimu?
Share:

Monday, April 4, 2016

Apa Kabar Hatimu?

“Jangan pernah mempermainkan hati seseorang” Katamu. Kemudian kamu pergi dengan angkuh. Membawa benci dan prasangka yang hari ini menjadi penyesalanmu sendiri.

Pesan yang kau tinggalkan disaat sore pukul 4 itu masih terekam jelas dikepala. Saat itu kita berpisah. Aku – dan juga hatiku – kau tinggalkan bersama gerimis. Kesedihanku menggenang bersama air yang dimuntahkan oleh awan pekat. Terpikir untuk menyerah. Berharap hujan segera menenggelamkanku sore itu. Tapi kemudian aku sadar. Aku harus tetap kuat. Bahkan harus lebih kuat agar gemuruh tak membuatku semakin hancur.

Waktu berlalu meninggalkan masa itu dengan cepat. Kita – atau lebih tepatnya aku – mulai terbiasa hidup tanpa satu sama lain. Tak ada marah, pun tak ada sesal. Aku telah melupakan kamu beserta hatimu. Tapi ketahuilah, Kasih. Hal yang paling berat dalam hidupku adalah bukan untuk terbiasa hidup tanpamu, melainkan untuk melupakan setiap kenangan kita di banyak sudut di kota ini. Kasih, kamu sudah terlalu banyak memberi kenangan. Hingga menggenang di pikiran. Enggan pergi meski dengan tertatih.

Bersebab kenangan itu, maka aku ingin bertanya, apa kabar hatimu?
Masihkah ia terluka karena prasangka yang buta? Coba saja dulu engkau memberikan kesempatan untukku membenarkan semuanya, aku yakin hatimu akan tetap merona. Prasangkamu terhadapku adalah kesalahan, Kasih. Aku tak punya banyak waktu untuk mempermainkan hatimu. Bagiku, mendapatkan hatimu adalah sebuah anugrah. Pantaskah aku mempermainkannya hingga terluka?

Bersebab cinta yang dulu ada, maka aku ingin bertanya, apa kabar hatimu?
Masihkah hatimu kau bohongi? Aku mengetahuinya, Kasih. Kau tak pernah benar-benar ingin kita berpisah. Hatimu menolak, tapi egomu lantang menentang. Kau kalah mempertahankan apa yang seharusnya kau pertahankan. Kau lebih memilih mengikuti egomu, bukan mengikuti hati nuranimu. Kasih, aku mengetahuinya dari matamu yang tak pandai berbohong.

Bersebab rindu, maka aku ingin bertanya, apa kabar hatimu?
Masihkah hatimu diselimuti penyesalan? Penyesalan yang tak akan pernah berarti lagi. Hatimu kau lukai sendiri. Jiwamu kau hancurkan sendiri. Hari-harimu kelam meski mentari terik menyinari. Kasih, belajarlah untuk bangkit. Meski susah, meski lelah. Bangkitlah. Tapi bukan dengan bantuanku.

Apa kabar hatimu?

Maaf aku tak mengangkat telfon darimu beberapa hari ini, maaf juga aku tak membalas semua pesan-pesanmu, dan maaf juga aku tak membuka pintu disaat kau bertamu. Aku sudah tak berselera lagi kau sakiti dengan prasangkamu. Sekarang nikmatilah buah dari egomu. Nikmatilah luka yang kau buat sendiri. Semoga hatimu cepat pulih.

P.S : Jika kau menanyakan kabar hatiku, maka aku bersedia menjawabnya. Hatiku sudah lebih baik. Selepas kau hancurkan begitu saja, sekarang aku berhasil menatanya kembali. Jangan tanya bagaimana bisa, sebab hati yang dilukai mempunyai cara sendiri untuk bangkit lebih kuat.
Share:

Saturday, February 27, 2016

Untuk Apa Menulis?

Untuk apa menulis?

Pertanyaan itu tiba-tiba muncul ketika saya lagi enak-enaknya makan indomie goreng pake kerupuk. Tapi pas kepikiran itu saya gak tiba-tiba langsung nulis ini. Habisin dulu indomie nya, minum dulu biar gak seret, duduk bentar sambil sendawa tiga kali, terus baru mikir lagi. Buat apa ya nulis?

Saya udah mulai suka nulis sejak SMP, sampai sekarang masih rajin nulis di blog. Nah terus kepikiran aja gitu buat apa ya saya selama ini nulis? Apa karena hobi? Atau karena hobi? Atau jangan-jangan karena hobi? Ya mungkin bisa jadi karena hobi. Tapi terlepas dari itu semua, pentingkah menulis untuk kita? Nah saya mau coba ngebahasnya disini.

Menulis itu kan adalah sebuah kegiatan menulis. MASA SIH?! Oke serius. Menurut saya, menulis itu adalah sebuah kegiatan menuangkan semua yang ada dalam pikiran kita. menulis juga bisa berarti luas. Menulis nama gebetan di batu kali, menulis nama facebook di meja belajar sekolah, menulis nomor hp di tembok wc, dll juga termasuk kegiatan menulis. Tapi saya menyederhanakannya dengan mengartikan menulis disini dengan menulis di blog.

Banyak orang menulis di blog. Mulai dari menulis curhatan, puisi, sajak, cerpen, dan banyak lagi. Kemudian tulisan tersebut di share, kemudian dibaca, traffic blog meningkat, dan mungkin ada yang ngasih komentar. Itu adalah siklus dari tulisan para blogger. Lalu setelah itu apa? Setelah itu pasti para blogger bahagia melihat traffic blognya meningkat. Jujur ya ini soalnya saya juga begitu. Berarti menulis di blog itu cuma sebatas meningkatkan jumlah pembaca aja dong kalo gitu? Ah nggak juga.

Untuk apa menulis?

Bagi sebagian orang, menulis di blog hanya sebatas untuk meningkatkan traffic pembaca, atau ada juga yang menulis di blog hanya ikut-ikutan. Tapi itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang nggak punya passion dalam menulis. Mereka menulis tanpa cinta di setiap tulisannya. Kenapa saya bilang begitu? Karena jika kegiatan menulis dilakukan dengan penuh cinta, maka tak ada rasa khawatir jika traffic blog menurun, tapi khawatir jika tulisan tak kunjung ada untuk diterbitkan. Bagi para blogger, atau khususnya bagi saya pribadi, kehabisan ide untuk ditulis lebih bahaya daripada kehabisan kuota internet. Kalo kehabisan kuota bisa minta wifi punya temen, lah kalo kehabisan ide nulis?

Menulis juga bukan hanya tentang berapa banyak orang yang membaca tulisanmu, lebih dari itu, menulis malah mengajarkanmu tentang bagaimana melihat sesuatu dari sudut pandang lain, mengajarkanmu tentang bagaimana berpikir secara tertata, dan juga mengajarkanmu menuangkan pikiran ke dalam tulisan tentunya. Karena banyak orang diluar sana merasa kesulitan jika harus menulis tentang apa yang ada dalam pikirannya.

Bayangin deh misalnya di masa muda sekarang kita rajin nulis tentang kehidupan kita di blog atau di diary. Apapun itu. Nanti, sekian puluh tahun lagi ketika kita udah memasuki usia senja, semua tulisan yang kita tulis dulunya adalah cara terbaik untuk kembali mengenang masa lalu. Percaya aja apapun yang kita tulis saat ini akan bermanfaat untuk kita sendiri nantinya. Ya minimal untuk sekadar pengingat bahwa dulu kita pernah seperti ini-itu. Jadi, masih tanya untuk apa menulis?


Kalau masih ada yang nanya untuk apa menulis, jawabannya adalah untuk melatih kebiasaan baik buat diri sendiri. Selain itu, menulis juga akan membuat kamu menjadi abadi. Karena semua tulisanmu takkan pernah tergerus waktu dan zaman. Tulisanmu akan abadi, meski kamu mati.
Share:

Sunday, February 7, 2016

Jangan Malas Hidup Sehat

Asrul adalah remaja tanggung yang kurang tampan. Seperti kebanyakan remaja lainnya, kehidupan Asrul bisa dibilang berantakan. Ia sering begadang bersama teman-temannya di siang hari eh malam hari maksudnya. Selain itu ia juga perokok yang sangat berat. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan rokok sebanyak 7 bungkus. Karena sudah ahli dalam merokok, asap rokoknya pun kadang-kadang dikeluarkan melalui lubang telinga atau pori-pori. Asrul yang perokok dan suka begadang ini makannya juga tidak teratur. Kadang sehari ia hanya makan sekali atau dua kali. Makanannya pun juga sembarangan. Kadang Asrul makan goreng paku, rebusan jigong kuda, tumis kutu beras. Semua kebiasaan buruk itu ditambah lagi dengan Asrul yang malas berolahraga.

Suatu hari Asrul pernah mengeluh tidak enak badan. Ia mengeluh pantatnya migrain, kepala ambeien, dan perutnya serasa ditusuk pedang Firaun. Ia kemudian pergi ke dokter hewan untuk periksa kesehatan. Setelah diperiksa selama 2 jam, Asrul dibolehkan pulang dan harus menebus obat seharga 2 miliar dollar Zimbabwe. Asrul kaget dan tak menyangka akan semahal itu. Karena tak sanggup membayar, ia memutuskan bunuh diri dengan meminum air pembersih lantai.

Apa hikmah yang dapat diambil dari cerita Asrul diatas? Hikmahnya adalah betapa pentingnya untuk kita hidup sehat. Hidup sehat, terutama di kalangan anak muda menjadi hal yang sangat susah sekarang. Banyak anak muda yang mengabaikan kehidupan sehat hingga nanti berdampak pada kehidupan tuanya. Anak muda masih sangat sering begadang dengan alasan bermain game. Anak muda juga banyak yang perokok aktif supaya dibilang keren. Anak muda makannya juga sering tidak teratur. Apalagi anak kosan. Yaa kalo bukan indomie goreng paling indomie rebus pake telor plus potongan cabe rawit. Jangan lupa tambah kerupuk. Dijamin keringat meleleh pertanda nikmat. Makannya pas hujan sambil nonton bola. Ah surga!

Kembali ke topik awal, ada baiknya kita mulai berfikir untuk merubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Bukannya untuk gaya atau apa-apa, tapi coba pikir lagi. Tidak ada jaminan kita bakal hidup sehat terus. Yang gaya hidupnya sehat aja bisa sakit apalagi yang nggak. Nah hidup sehat juga merupakan tanggung jawab kita terhadap tubuh sendiri. Coba bayangin kalo kita perokok, peminum miras, malas olahraga, dan sebagainya. Kemudian banyak penyakit yang datang seperti kanker paru-paru akibat merokok, kerusakan ginjal akibat miras, dll.  Mau nggak mau kita harus berobat kan? Ingat biaya berobat itu mahal, bung. Bisa sampai ratusan ribu. Itu cuma obat, belum lagi kalo kalian harus mondok di rumah sakit. Kalian rela para dokter jadi tambah kaya? Dan lucunya lagi para penderita penyakit tersebut mengeluh dengan obat yang mahal itu. Padahal dulu dia berani bayar mahal buat hal-hal yang berdampak buruk bagi tubuhnya. Ironis kan?

Nah berdasarkan hal itulah saya juga mulai memilih gaya hidup sehat. Gaya hidup sehat a la anak kos. Walaupun seadanya tapi niscaya sehat. Semoga menginspirasi.

Jadi mulai pertengahan tahun lalu, saya lupa tepatnya kapan, saya mulai membiasakan untuk hidup lebih sehat. Dimulai ketika saya mulai hobi untuk olahraga. Olahraga apa? Lari. Saya mulai hobi lari karena itu olahraga murah dan sehat. Selain itu, olahraga lari juga gak butuh biaya mahal. Cuma modal sepatu, baju, sama celana. Ohiya jangan lupa pake kolor. Biar si ‘dia’ aman dari guncangan saat lari. Saya rutin lari setiap minggu pagi. Buat yang tinggal di Bandung dan mau lari bareng, mangga atuh ke sabuga sekitar pukul 8 pagi. Kita lari bareng. Untuk membantu, saya juga menggunakan aplikasi Endomondo di ponsel. Fyi, aplikasi ini bisa mencatat semuanya ketika kita lari, mulai dari jarak, kecepatan, dehidrasi, dan banyak lagi. Lumayan membantu melihat progress kita dari waktu ke waktu. Selain lari, mulai dari awal tahun ini saya juga bikin jadwal buat berenang minimal sebulan sekali. Yaa siapa tau dengan rutin berenang saya bisa menyelami dalamnya hati kamu.

Selain lari dan renang, saya juga membiasakan diri dengan sarapan. Dulu sewaktu belum merantau, saya memang selalu sarapan, tapi semenjak jadi anak kos, sarapannya di gabung ke siang hari. Penyebabnya karena malas. Yaiyalah malas. Pagi-pagi masih ngantuk terus keluar cari sarapan. Mending tidur lagi kan sampai siang. Tapi sejak akhir tahun lalu, saya mulai membiasakan lagi buat sarapan. Nah karena mau simple dan gak mau repot buat keluar, saya sarapannya dengan oatmeal. Bikinnya gampang. Kita cuma butuh air panas dari dispenser dan susu. Saya juga biasa nambahin madu biar lebih manis kayak kamu. Kadang juga ditambahin pisang kalo lagi ada. Sarapan sehat plus praktis buat anak kosan.

Porsi oatmeal nya tergantung ukuran perut kamu. Kalo saya biasanya 10 sdm.
Sesudahnya baru minum segelas susu

Ohiya kalo mau sehat lagi jangan ngerokok deh. Kan sayang banget tuh kita udah olahraga rutin tiap minggu, sarapan rutin, tapi rokoknya juga rutin. Percuma. Jujur saya lupa kapan terakhir pernah mencicipi rokok. Udah lama banget. Semasa kuliah sekarang pun saya gak pernah tertarik buat ngerokok. Dan juga kurangi konsumsi minuman kafein semacam kopi. Tapi ini pilihan sih. Ada orang yang pecandu kopi dan merasa baik-baik aja. Tapi kalo saya lebih milih minum susu sehabis sarapan sama sebelum tidur. Lebih enak.

Terakhir nih kalo kalian udah mulai punya niat buat mulai hidup sehat, tambahin dengan mencari inspirasi buat ngejalaninya. Jujur niat kadang kuatnya cuma diawal aja, kebelakangnya niat itu bakalan luntur kalo nggak terus dijaga. Nah cara ngejaganya dengan harus punya inspirasi. Contohnya saya mendapatkan inspirasi untuk terus hidup sehat salah satunya dengan memfollow instagramnya Dian Sastro. Coba deh liat IG dia, tiap hari pasti dia posting tentang kegiatannya lagi olahraga. Keren gak tuh? Dia yang sibuk aja selalu punya waktu buat olahraga. Selain itu kita juga bisa dapat bonus dengan melihat wajah Dian Sastro lagi keringatan di sana. Makin cantik aja pokoknya sumpah. Rasanya pengen deh ngelapin keringatnya terus kasih minum terus bisikin deh ke telinganya “kamu kapan cerai?” *kemudian di smack down suaminya*

Yaudah segitu aja. Semoga bermanfaat. Ingat, jangan malas hidup sehat. Kesehatan itu penting. Sepenting kamu di kehidupan aku. Buat Dian Sastro, maaf ya, aku cuma bercanda. Lagian kamu juga terlalu baik buat aku.

Byee..
Share:

Thursday, February 4, 2016

Jatuh Cinta Sendirian

Setiap orang pernah jatuh cinta. Jatuh cinta kepada apapun, jatuh cinta kepada siapapun. Sebuah anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita manusia. Banyak dari kita yang kemudian memutuskan untuk jatuh cinta kepada pilihan yang kita anggap tepat. Kamu, kepada siapa kamu memutuskan untuk jatuh cinta? Terlepas dari cinta kepada keluarga sendiri.

Di awal februari ini, izinkan aku mengatakan bahwa aku pernah jatuh cinta. Jatuh cinta kepadamu. Pada senyummu, pada indah warna matamu. Tapi, aku jatuh cinta sendirian.

Jatuh cinta sendirian tak pernah mudah, nona. Akan selalu banyak khayalan-khayalan yang sulit kau wujudkan. Khayalan untuk bisa bersamanya dikala senja, berbicara mengenai senja yang datangnya selalu kau nanti. Khayalan untuk bisa bersamanya dikala hujan terlalu gaduh. Menenangkannya, menghangatkannya dengan setiap kehangatan kata yang kau ucap. Khayalan menggenggam tangannya. Memberikan kekuatan dalam menghadapi hari yang kadang kelabu. Tapi khayalan itu hanya bisa kau pendam sendiri, karena kau jatuh cinta sendirian.

Jatuh cinta sendirian itu menyakitkan, nona. Kau tak bisa berbuat apa-apa. Saat kau tau dia yang kau cintai terluka jiwanya, kau hanya bisa mendoakannya. Berharap luka yang menghilangkan senyum di wajahnya segera reda. Tuhan mungkin mendengarkan doa mu. Senyum di wajah dia yang kau cintai telah kembali utuh, tapi berkat orang lain, bukan kamu. Kau tak punya andil sedikitpun.

Jatuh cinta sendirian itu lelah, nona. Tak pernah merasa dianggap, tak pernah ada. Kau tak pernah ada di dalam hidupnya. Layaknya embun di pagi hari, kau hanya menyejukkan sebentar. Selebihnya kau hilang. Mungkin segera terlupakan oleh hangat mentari pukul tujuh. Layaknya bulan di kelam malam. Kau ada dan memberikannya cahaya meski temaram, tapi tak lama. Kau hanya dipandang sebentar, lalu dia memilih bermain pada bintang yang menjubahi langit.

Jatuh cinta sendirian itu hanya untuk orang-orang yang kuat, nona. Dia yang jatuh cinta sendirian hanya bisa tersenyum getir saat tau orang yang dia cintai bahagia tanpanya. Dia yang jatuh cinta sendirian hanya bisa menahan rindu, sementara orang yang ia rindukan tak pernah sedikitpun mengingatnya. Dia yang jatuh cinta sendirian harus rela manakala orang yang ia cinta menemukan pelabuhan untuk hatinya.

Jatuh cinta sendirian itu hanya untuk aku, nona. Kau tak perlu jatuh cinta sendirian. Biarlah aku yang jatuh cinta sendirian. Jika kamu yang jatuh cinta, pastikan dia yang kamu cintai juga mencintaimu. Karena aku tak pernah rela jika kau merasakan bagaimana tersiksanya jatuh cinta sendirian.

Tapi biarlah. Biarlah aku jatuh cinta sendirian. Menikmati setiap khayalku sendirian. Membiarkan anganku terbang dibawa setiap hembus nafas. Merelakan setiap cinta diwakili oleh orang lain. Menempatkan diri sebagai orang yang tak pernah dianggap. Setidaknya itu lebih baik. Sebab dengan jatuh cinta sendirian aku tak pernah merasa kesepian. Ada kamu yang selalu terfikirkan.
Share:

Friday, January 29, 2016

Programmer atau Penulis?

Dalam hidup, akan selalu ada dua pilihan atau lebih. Seperti orang-orang akan bingung untuk memilih disaat ia jatuh cinta dengan dua orang berbeda di waktu bersamaan, lalu para lelaki akan bingung pilih Raisa atau Pevita, yang jomblo akan bingung mau malam minggu ke mana, anak kosan bingung mau makan pake apa, atau para wanita juga akan sangat bingung pilih antara Al Ghazali atau saya. Tapi mending pilih saya aja deh. Lebih gurih.

Kalian gimana? Sudah berapa banyak kalian dihadapkan pada pilihan-pilihan? Dulu waktu kecil saya pernah dihadapkan pada pilihan antara main bola di lapangan atau main playstation, antara pilih mandi dulu baru main atau main dulu baru mandi, terus pilih ngambil duit Mama secara diam-diam atau duit Papa secara diam-diam. Itu pilihan dengan resiko yang berat. Tapi waktu itu saya milih untuk ngambil duit Mama karena letaknya yang lebih strategis. Lalu saat mulai beranjak dewasa, pilihannya mulai semakin rumit. Pilihan bukan hanya untuk saat itu, tapi juga untuk kedepannya. Seperti sekarang. Saya sekarang seperti sedang dihadapkan pada dua pilihan antara menjadi programmer atau penulis. Dunia yang sama-sama saya cintai di waktu yang bersamaan. Tapi apa programmer atau penulis itu adalah pilihan?

Saya jatuh cinta pada dunia IT kurang lebih sejak kelas 3 SMA. Entah gimana awalnya, tapi yang jelas setiap hari saya makin tertarik dengan teknologi-teknologi yang ada. Ibarat seorang jomblo yang sedang naksir gebetannya, pasti jomblo tersebut akan melakukan segala cara untuk mengetahui tentang gebetannya itu kan? Mulai dari stalking akun media sosialnya, nanya-nanya tentang dia, dan sebagainya. Saya juga gitu. Karena mulai tertarik dengan dunia IT, hampir tiap hari saya menambah informasi tentang dunia teknologi dari banyak sumber, baca sana sini, nanya-nanya, dan lain-lain. Karena itu, ketika lulus SMA saya dengan mantap memutuskan untuk kuliah di program studi teknik informatika. Sebuah pilihan yang tepat menurut saya (waktu itu). Ngebayangin setiap hari belajar tentang komputer, membuat program-program, dan lain-lain. Saya selalu membayangkan diri saya kelak menjadi programmer hebat, yaa meskipun sekarang kalo ngoding masih suka error.

Tapi jauh sebelum itu. Jauh sebelum saya jatuh hati pada dunia IT, saya lebih dulu jatuh hati pada dunia sastra. Yap, menulis. Saya mulai tertarik menjadi penulis sejak kelas 2 SMP. Apa aja waktu itu ditulis mulai dari cerpen, sajak-sajak, bahkan cerita keseharian. Dengan pede nya, semua tulisan waktu itu saya share ke catatan facebook karena belum punya blog dan belum ngerti main blog. Padahal kalo dibaca-baca lagi sekarang, tulisan saya di catatan facebook itu tingkat alay nya minta ampun. Sumpah geli kalo dibaca lagi. Tapi gak masalah. Semua adalah bukti bahwa saya pernah berada di tahap sana. Tahap ‘coba-coba’ menulis, tahap awal jatuh cinta menjadi seorang penulis. Sampai sekarang, meskipun belum menjadi penulis aktif, mimpi itu tetap ada. Mimpi suatu saat bisa menerbitkan sebuah buku dari hasil ide sendiri. Mimpi untuk menjadi seorang penulis.

Sekarang saya berada di kedua posisi tersebut secara bersamaan. Berada di dunia teknik dengan penuh perhitungan, juga berada di dunia sastra yang menjadi tempat tumpahan ide di kepala saya. Kalau pertanyaannya adalah apakah saya masih harus memilih antara menjadi programmer atau penulis, maka dengan mantap saya menjawab tidak. Saya tidak akan memilih antara keduanya. Yang pasti adalah saya akan menjalankan keduanya dengan semangat dan sepenuh hati. Saya mencintai dunia IT. Saya harus menjalankannya karena itu adalah kewajiban sebagai mahasiswa dan kewajiban terhadap orang tua yang membiayai kuliah saya. Tapi saya juga suka menulis. Menulis seolah menjadi kemampuan lain yang dianugerahkan Tuhan. Saya menikmati setiap proses menulis dan harus saya kembangkan karena saya sadar sebagian passion saya juga ada disana.


Sekarang, programmer atau penulis bukan masalah. Yang masalah adalah kalau kita membatasi kemampuan diri kita sendiri. Sadari dan kembangkan setiap passion yang ada. Nanti, bagaimanapun kedepannya, apapun yang akan menjadi “dunia” saya sesungguhnya, itulah yang terbaik. Percaya aja bahwa Tuhan tak pernah meletakkanmu di tempat yang salah.
Share: