Saturday, February 27, 2016

Untuk Apa Menulis?

Untuk apa menulis?

Pertanyaan itu tiba-tiba muncul ketika saya lagi enak-enaknya makan indomie goreng pake kerupuk. Tapi pas kepikiran itu saya gak tiba-tiba langsung nulis ini. Habisin dulu indomie nya, minum dulu biar gak seret, duduk bentar sambil sendawa tiga kali, terus baru mikir lagi. Buat apa ya nulis?

Saya udah mulai suka nulis sejak SMP, sampai sekarang masih rajin nulis di blog. Nah terus kepikiran aja gitu buat apa ya saya selama ini nulis? Apa karena hobi? Atau karena hobi? Atau jangan-jangan karena hobi? Ya mungkin bisa jadi karena hobi. Tapi terlepas dari itu semua, pentingkah menulis untuk kita? Nah saya mau coba ngebahasnya disini.

Menulis itu kan adalah sebuah kegiatan menulis. MASA SIH?! Oke serius. Menurut saya, menulis itu adalah sebuah kegiatan menuangkan semua yang ada dalam pikiran kita. menulis juga bisa berarti luas. Menulis nama gebetan di batu kali, menulis nama facebook di meja belajar sekolah, menulis nomor hp di tembok wc, dll juga termasuk kegiatan menulis. Tapi saya menyederhanakannya dengan mengartikan menulis disini dengan menulis di blog.

Banyak orang menulis di blog. Mulai dari menulis curhatan, puisi, sajak, cerpen, dan banyak lagi. Kemudian tulisan tersebut di share, kemudian dibaca, traffic blog meningkat, dan mungkin ada yang ngasih komentar. Itu adalah siklus dari tulisan para blogger. Lalu setelah itu apa? Setelah itu pasti para blogger bahagia melihat traffic blognya meningkat. Jujur ya ini soalnya saya juga begitu. Berarti menulis di blog itu cuma sebatas meningkatkan jumlah pembaca aja dong kalo gitu? Ah nggak juga.

Untuk apa menulis?

Bagi sebagian orang, menulis di blog hanya sebatas untuk meningkatkan traffic pembaca, atau ada juga yang menulis di blog hanya ikut-ikutan. Tapi itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang nggak punya passion dalam menulis. Mereka menulis tanpa cinta di setiap tulisannya. Kenapa saya bilang begitu? Karena jika kegiatan menulis dilakukan dengan penuh cinta, maka tak ada rasa khawatir jika traffic blog menurun, tapi khawatir jika tulisan tak kunjung ada untuk diterbitkan. Bagi para blogger, atau khususnya bagi saya pribadi, kehabisan ide untuk ditulis lebih bahaya daripada kehabisan kuota internet. Kalo kehabisan kuota bisa minta wifi punya temen, lah kalo kehabisan ide nulis?

Menulis juga bukan hanya tentang berapa banyak orang yang membaca tulisanmu, lebih dari itu, menulis malah mengajarkanmu tentang bagaimana melihat sesuatu dari sudut pandang lain, mengajarkanmu tentang bagaimana berpikir secara tertata, dan juga mengajarkanmu menuangkan pikiran ke dalam tulisan tentunya. Karena banyak orang diluar sana merasa kesulitan jika harus menulis tentang apa yang ada dalam pikirannya.

Bayangin deh misalnya di masa muda sekarang kita rajin nulis tentang kehidupan kita di blog atau di diary. Apapun itu. Nanti, sekian puluh tahun lagi ketika kita udah memasuki usia senja, semua tulisan yang kita tulis dulunya adalah cara terbaik untuk kembali mengenang masa lalu. Percaya aja apapun yang kita tulis saat ini akan bermanfaat untuk kita sendiri nantinya. Ya minimal untuk sekadar pengingat bahwa dulu kita pernah seperti ini-itu. Jadi, masih tanya untuk apa menulis?


Kalau masih ada yang nanya untuk apa menulis, jawabannya adalah untuk melatih kebiasaan baik buat diri sendiri. Selain itu, menulis juga akan membuat kamu menjadi abadi. Karena semua tulisanmu takkan pernah tergerus waktu dan zaman. Tulisanmu akan abadi, meski kamu mati.
Share:

Sunday, February 7, 2016

Jangan Malas Hidup Sehat

Asrul adalah remaja tanggung yang kurang tampan. Seperti kebanyakan remaja lainnya, kehidupan Asrul bisa dibilang berantakan. Ia sering begadang bersama teman-temannya di siang hari eh malam hari maksudnya. Selain itu ia juga perokok yang sangat berat. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan rokok sebanyak 7 bungkus. Karena sudah ahli dalam merokok, asap rokoknya pun kadang-kadang dikeluarkan melalui lubang telinga atau pori-pori. Asrul yang perokok dan suka begadang ini makannya juga tidak teratur. Kadang sehari ia hanya makan sekali atau dua kali. Makanannya pun juga sembarangan. Kadang Asrul makan goreng paku, rebusan jigong kuda, tumis kutu beras. Semua kebiasaan buruk itu ditambah lagi dengan Asrul yang malas berolahraga.

Suatu hari Asrul pernah mengeluh tidak enak badan. Ia mengeluh pantatnya migrain, kepala ambeien, dan perutnya serasa ditusuk pedang Firaun. Ia kemudian pergi ke dokter hewan untuk periksa kesehatan. Setelah diperiksa selama 2 jam, Asrul dibolehkan pulang dan harus menebus obat seharga 2 miliar dollar Zimbabwe. Asrul kaget dan tak menyangka akan semahal itu. Karena tak sanggup membayar, ia memutuskan bunuh diri dengan meminum air pembersih lantai.

Apa hikmah yang dapat diambil dari cerita Asrul diatas? Hikmahnya adalah betapa pentingnya untuk kita hidup sehat. Hidup sehat, terutama di kalangan anak muda menjadi hal yang sangat susah sekarang. Banyak anak muda yang mengabaikan kehidupan sehat hingga nanti berdampak pada kehidupan tuanya. Anak muda masih sangat sering begadang dengan alasan bermain game. Anak muda juga banyak yang perokok aktif supaya dibilang keren. Anak muda makannya juga sering tidak teratur. Apalagi anak kosan. Yaa kalo bukan indomie goreng paling indomie rebus pake telor plus potongan cabe rawit. Jangan lupa tambah kerupuk. Dijamin keringat meleleh pertanda nikmat. Makannya pas hujan sambil nonton bola. Ah surga!

Kembali ke topik awal, ada baiknya kita mulai berfikir untuk merubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Bukannya untuk gaya atau apa-apa, tapi coba pikir lagi. Tidak ada jaminan kita bakal hidup sehat terus. Yang gaya hidupnya sehat aja bisa sakit apalagi yang nggak. Nah hidup sehat juga merupakan tanggung jawab kita terhadap tubuh sendiri. Coba bayangin kalo kita perokok, peminum miras, malas olahraga, dan sebagainya. Kemudian banyak penyakit yang datang seperti kanker paru-paru akibat merokok, kerusakan ginjal akibat miras, dll.  Mau nggak mau kita harus berobat kan? Ingat biaya berobat itu mahal, bung. Bisa sampai ratusan ribu. Itu cuma obat, belum lagi kalo kalian harus mondok di rumah sakit. Kalian rela para dokter jadi tambah kaya? Dan lucunya lagi para penderita penyakit tersebut mengeluh dengan obat yang mahal itu. Padahal dulu dia berani bayar mahal buat hal-hal yang berdampak buruk bagi tubuhnya. Ironis kan?

Nah berdasarkan hal itulah saya juga mulai memilih gaya hidup sehat. Gaya hidup sehat a la anak kos. Walaupun seadanya tapi niscaya sehat. Semoga menginspirasi.

Jadi mulai pertengahan tahun lalu, saya lupa tepatnya kapan, saya mulai membiasakan untuk hidup lebih sehat. Dimulai ketika saya mulai hobi untuk olahraga. Olahraga apa? Lari. Saya mulai hobi lari karena itu olahraga murah dan sehat. Selain itu, olahraga lari juga gak butuh biaya mahal. Cuma modal sepatu, baju, sama celana. Ohiya jangan lupa pake kolor. Biar si ‘dia’ aman dari guncangan saat lari. Saya rutin lari setiap minggu pagi. Buat yang tinggal di Bandung dan mau lari bareng, mangga atuh ke sabuga sekitar pukul 8 pagi. Kita lari bareng. Untuk membantu, saya juga menggunakan aplikasi Endomondo di ponsel. Fyi, aplikasi ini bisa mencatat semuanya ketika kita lari, mulai dari jarak, kecepatan, dehidrasi, dan banyak lagi. Lumayan membantu melihat progress kita dari waktu ke waktu. Selain lari, mulai dari awal tahun ini saya juga bikin jadwal buat berenang minimal sebulan sekali. Yaa siapa tau dengan rutin berenang saya bisa menyelami dalamnya hati kamu.

Selain lari dan renang, saya juga membiasakan diri dengan sarapan. Dulu sewaktu belum merantau, saya memang selalu sarapan, tapi semenjak jadi anak kos, sarapannya di gabung ke siang hari. Penyebabnya karena malas. Yaiyalah malas. Pagi-pagi masih ngantuk terus keluar cari sarapan. Mending tidur lagi kan sampai siang. Tapi sejak akhir tahun lalu, saya mulai membiasakan lagi buat sarapan. Nah karena mau simple dan gak mau repot buat keluar, saya sarapannya dengan oatmeal. Bikinnya gampang. Kita cuma butuh air panas dari dispenser dan susu. Saya juga biasa nambahin madu biar lebih manis kayak kamu. Kadang juga ditambahin pisang kalo lagi ada. Sarapan sehat plus praktis buat anak kosan.

Porsi oatmeal nya tergantung ukuran perut kamu. Kalo saya biasanya 10 sdm.
Sesudahnya baru minum segelas susu

Ohiya kalo mau sehat lagi jangan ngerokok deh. Kan sayang banget tuh kita udah olahraga rutin tiap minggu, sarapan rutin, tapi rokoknya juga rutin. Percuma. Jujur saya lupa kapan terakhir pernah mencicipi rokok. Udah lama banget. Semasa kuliah sekarang pun saya gak pernah tertarik buat ngerokok. Dan juga kurangi konsumsi minuman kafein semacam kopi. Tapi ini pilihan sih. Ada orang yang pecandu kopi dan merasa baik-baik aja. Tapi kalo saya lebih milih minum susu sehabis sarapan sama sebelum tidur. Lebih enak.

Terakhir nih kalo kalian udah mulai punya niat buat mulai hidup sehat, tambahin dengan mencari inspirasi buat ngejalaninya. Jujur niat kadang kuatnya cuma diawal aja, kebelakangnya niat itu bakalan luntur kalo nggak terus dijaga. Nah cara ngejaganya dengan harus punya inspirasi. Contohnya saya mendapatkan inspirasi untuk terus hidup sehat salah satunya dengan memfollow instagramnya Dian Sastro. Coba deh liat IG dia, tiap hari pasti dia posting tentang kegiatannya lagi olahraga. Keren gak tuh? Dia yang sibuk aja selalu punya waktu buat olahraga. Selain itu kita juga bisa dapat bonus dengan melihat wajah Dian Sastro lagi keringatan di sana. Makin cantik aja pokoknya sumpah. Rasanya pengen deh ngelapin keringatnya terus kasih minum terus bisikin deh ke telinganya “kamu kapan cerai?” *kemudian di smack down suaminya*

Yaudah segitu aja. Semoga bermanfaat. Ingat, jangan malas hidup sehat. Kesehatan itu penting. Sepenting kamu di kehidupan aku. Buat Dian Sastro, maaf ya, aku cuma bercanda. Lagian kamu juga terlalu baik buat aku.

Byee..
Share:

Thursday, February 4, 2016

Jatuh Cinta Sendirian

Setiap orang pernah jatuh cinta. Jatuh cinta kepada apapun, jatuh cinta kepada siapapun. Sebuah anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita manusia. Banyak dari kita yang kemudian memutuskan untuk jatuh cinta kepada pilihan yang kita anggap tepat. Kamu, kepada siapa kamu memutuskan untuk jatuh cinta? Terlepas dari cinta kepada keluarga sendiri.

Di awal februari ini, izinkan aku mengatakan bahwa aku pernah jatuh cinta. Jatuh cinta kepadamu. Pada senyummu, pada indah warna matamu. Tapi, aku jatuh cinta sendirian.

Jatuh cinta sendirian tak pernah mudah, nona. Akan selalu banyak khayalan-khayalan yang sulit kau wujudkan. Khayalan untuk bisa bersamanya dikala senja, berbicara mengenai senja yang datangnya selalu kau nanti. Khayalan untuk bisa bersamanya dikala hujan terlalu gaduh. Menenangkannya, menghangatkannya dengan setiap kehangatan kata yang kau ucap. Khayalan menggenggam tangannya. Memberikan kekuatan dalam menghadapi hari yang kadang kelabu. Tapi khayalan itu hanya bisa kau pendam sendiri, karena kau jatuh cinta sendirian.

Jatuh cinta sendirian itu menyakitkan, nona. Kau tak bisa berbuat apa-apa. Saat kau tau dia yang kau cintai terluka jiwanya, kau hanya bisa mendoakannya. Berharap luka yang menghilangkan senyum di wajahnya segera reda. Tuhan mungkin mendengarkan doa mu. Senyum di wajah dia yang kau cintai telah kembali utuh, tapi berkat orang lain, bukan kamu. Kau tak punya andil sedikitpun.

Jatuh cinta sendirian itu lelah, nona. Tak pernah merasa dianggap, tak pernah ada. Kau tak pernah ada di dalam hidupnya. Layaknya embun di pagi hari, kau hanya menyejukkan sebentar. Selebihnya kau hilang. Mungkin segera terlupakan oleh hangat mentari pukul tujuh. Layaknya bulan di kelam malam. Kau ada dan memberikannya cahaya meski temaram, tapi tak lama. Kau hanya dipandang sebentar, lalu dia memilih bermain pada bintang yang menjubahi langit.

Jatuh cinta sendirian itu hanya untuk orang-orang yang kuat, nona. Dia yang jatuh cinta sendirian hanya bisa tersenyum getir saat tau orang yang dia cintai bahagia tanpanya. Dia yang jatuh cinta sendirian hanya bisa menahan rindu, sementara orang yang ia rindukan tak pernah sedikitpun mengingatnya. Dia yang jatuh cinta sendirian harus rela manakala orang yang ia cinta menemukan pelabuhan untuk hatinya.

Jatuh cinta sendirian itu hanya untuk aku, nona. Kau tak perlu jatuh cinta sendirian. Biarlah aku yang jatuh cinta sendirian. Jika kamu yang jatuh cinta, pastikan dia yang kamu cintai juga mencintaimu. Karena aku tak pernah rela jika kau merasakan bagaimana tersiksanya jatuh cinta sendirian.

Tapi biarlah. Biarlah aku jatuh cinta sendirian. Menikmati setiap khayalku sendirian. Membiarkan anganku terbang dibawa setiap hembus nafas. Merelakan setiap cinta diwakili oleh orang lain. Menempatkan diri sebagai orang yang tak pernah dianggap. Setidaknya itu lebih baik. Sebab dengan jatuh cinta sendirian aku tak pernah merasa kesepian. Ada kamu yang selalu terfikirkan.
Share:

Friday, January 29, 2016

Programmer atau Penulis?

Dalam hidup, akan selalu ada dua pilihan atau lebih. Seperti orang-orang akan bingung untuk memilih disaat ia jatuh cinta dengan dua orang berbeda di waktu bersamaan, lalu para lelaki akan bingung pilih Raisa atau Pevita, yang jomblo akan bingung mau malam minggu ke mana, anak kosan bingung mau makan pake apa, atau para wanita juga akan sangat bingung pilih antara Al Ghazali atau saya. Tapi mending pilih saya aja deh. Lebih gurih.

Kalian gimana? Sudah berapa banyak kalian dihadapkan pada pilihan-pilihan? Dulu waktu kecil saya pernah dihadapkan pada pilihan antara main bola di lapangan atau main playstation, antara pilih mandi dulu baru main atau main dulu baru mandi, terus pilih ngambil duit Mama secara diam-diam atau duit Papa secara diam-diam. Itu pilihan dengan resiko yang berat. Tapi waktu itu saya milih untuk ngambil duit Mama karena letaknya yang lebih strategis. Lalu saat mulai beranjak dewasa, pilihannya mulai semakin rumit. Pilihan bukan hanya untuk saat itu, tapi juga untuk kedepannya. Seperti sekarang. Saya sekarang seperti sedang dihadapkan pada dua pilihan antara menjadi programmer atau penulis. Dunia yang sama-sama saya cintai di waktu yang bersamaan. Tapi apa programmer atau penulis itu adalah pilihan?

Saya jatuh cinta pada dunia IT kurang lebih sejak kelas 3 SMA. Entah gimana awalnya, tapi yang jelas setiap hari saya makin tertarik dengan teknologi-teknologi yang ada. Ibarat seorang jomblo yang sedang naksir gebetannya, pasti jomblo tersebut akan melakukan segala cara untuk mengetahui tentang gebetannya itu kan? Mulai dari stalking akun media sosialnya, nanya-nanya tentang dia, dan sebagainya. Saya juga gitu. Karena mulai tertarik dengan dunia IT, hampir tiap hari saya menambah informasi tentang dunia teknologi dari banyak sumber, baca sana sini, nanya-nanya, dan lain-lain. Karena itu, ketika lulus SMA saya dengan mantap memutuskan untuk kuliah di program studi teknik informatika. Sebuah pilihan yang tepat menurut saya (waktu itu). Ngebayangin setiap hari belajar tentang komputer, membuat program-program, dan lain-lain. Saya selalu membayangkan diri saya kelak menjadi programmer hebat, yaa meskipun sekarang kalo ngoding masih suka error.

Tapi jauh sebelum itu. Jauh sebelum saya jatuh hati pada dunia IT, saya lebih dulu jatuh hati pada dunia sastra. Yap, menulis. Saya mulai tertarik menjadi penulis sejak kelas 2 SMP. Apa aja waktu itu ditulis mulai dari cerpen, sajak-sajak, bahkan cerita keseharian. Dengan pede nya, semua tulisan waktu itu saya share ke catatan facebook karena belum punya blog dan belum ngerti main blog. Padahal kalo dibaca-baca lagi sekarang, tulisan saya di catatan facebook itu tingkat alay nya minta ampun. Sumpah geli kalo dibaca lagi. Tapi gak masalah. Semua adalah bukti bahwa saya pernah berada di tahap sana. Tahap ‘coba-coba’ menulis, tahap awal jatuh cinta menjadi seorang penulis. Sampai sekarang, meskipun belum menjadi penulis aktif, mimpi itu tetap ada. Mimpi suatu saat bisa menerbitkan sebuah buku dari hasil ide sendiri. Mimpi untuk menjadi seorang penulis.

Sekarang saya berada di kedua posisi tersebut secara bersamaan. Berada di dunia teknik dengan penuh perhitungan, juga berada di dunia sastra yang menjadi tempat tumpahan ide di kepala saya. Kalau pertanyaannya adalah apakah saya masih harus memilih antara menjadi programmer atau penulis, maka dengan mantap saya menjawab tidak. Saya tidak akan memilih antara keduanya. Yang pasti adalah saya akan menjalankan keduanya dengan semangat dan sepenuh hati. Saya mencintai dunia IT. Saya harus menjalankannya karena itu adalah kewajiban sebagai mahasiswa dan kewajiban terhadap orang tua yang membiayai kuliah saya. Tapi saya juga suka menulis. Menulis seolah menjadi kemampuan lain yang dianugerahkan Tuhan. Saya menikmati setiap proses menulis dan harus saya kembangkan karena saya sadar sebagian passion saya juga ada disana.


Sekarang, programmer atau penulis bukan masalah. Yang masalah adalah kalau kita membatasi kemampuan diri kita sendiri. Sadari dan kembangkan setiap passion yang ada. Nanti, bagaimanapun kedepannya, apapun yang akan menjadi “dunia” saya sesungguhnya, itulah yang terbaik. Percaya aja bahwa Tuhan tak pernah meletakkanmu di tempat yang salah.
Share:

Tuesday, January 19, 2016

Tugas vs Malas. Siapa yang Menang?

Mau curhat dulu nih. Sebagai seorang mahasiswa, pasti dong kita semua pernah dibebani oleh tugas. Eh mungkin lebih tepatnya bukan ‘dibebani’ oleh tugas ya, tapi diberikan tugas yang akhirnya membebani kita. Yaa gitulah pokoknya. Kata orang-orang sih, kalo gak mau dapat tugas, ya jangan kuliah. Kalian setuju? Aku mah enggak. Mau kuliah atau enggak kuliah juga pasti bakalan ada tugas. Pengangguran aja punya tugas kok, yaitu nyari kerja. Kerja buat apa? Buat nyari duit. Duit buat apa? Ditabung buat modal nikah. Nikah buat apa? Buat menyatukan keluarga aku dan Pevita. Okesip!

Kembali ke topik, sebenarnya apa sih tujuan utama dosen memberikan tugas kepada mahasiswanya? Iseng aja gitu ngasih tugas atau gimana? Yaa kayanya sih tujuan dosen memberikan tugas ke mahasiswanya itu lebih kepada menjalankan sebuah tradisi turun temurun. Loh kok bisa? Bisa banget. Jadi gini, dosen kan dulunya pasti seorang mahasiswa juga, nah pas dia masih menjadi mahasiswa, pasti dia juga pernah diberi tugas oleh dosennya. Nah dosennya itu pasti pernah jadi mahasiswa juga dan pernah diberi tugas juga oleh dosennya dulu. Nah dosennya dulu pasti seorang mahasiswa dan pasti pernah diberi tugas oleh dosennya yang lebih dahulu. Dan dosennya yang lebih dahulu pasti juga pernah mendapatkan tugas dari dosennya yang lebih dahulu lagi. Dan seterusnya. Nah begitulah kurang lebih. Gimana? Pusing? Jadi semuanya itu adalah motif balas dendam dan pemberian tugas kepada mahasiswa itu tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah tradisi belaka. Tradisi yang kalau tidak dijalankan akan membuat para mahasiswa bisa santai-santai di kosannya sambil mainin upil.

Karena tradisi itu, jadi aja kita para mahasiswa dibuatnya pusing. Tugas dari dosen datang tiap minggu, belum lagi tugas yang banyaknya sebanyak cinta aku ke kamu itu deadlinenya cuma seminggu. Enak sih kalo cuma satu, nah kalo misalnya ada 4 tugas dari 4 dosen yang beda gimana? Lelah tau! Kami juga mau nyantai. Peka dong. Nah karena tugas-tugas itu tuh mahasiswa jadinya kebanyakan begadang, lupa mandi, lupa makan, lupa sama utang, lupa bikin alis kalo yang cewek, lupa ngupil juga. Kan kalo lupa ngupil bahaya. Bisa-bisa upilnya menumpuk di lubang hidung terus gabisa nafas terus mati.

Memang sih ada kalanya mahasiswa itu rajin bikin tugas. Saya juga gitu kadang-kadang. Tapi kan itu sementara. Kalo udah datang gangguan dari luar ya beda cerita lagi. Misal nih lagi semangatnya ngerjain tugas, tiba-tiba ada sms temen ngajak main pes, atau lagi ngerjain tugas eh ingat belum nyerang di coc, atau lagi ngerjain tugas tiba-tiba ada chat dari gebetan, atau yang lebih ekstrem, lagi ngerjain tugas eh malah tugasnya yang ngerjain kita balik. Jadi semangat ngerjain tugasnya hilang lagi. Jadi malas lagi deh.

Jadi kalo ditanya tugas vs malas bakal menang yang mana, jawabannya akan dinamis alias bisa berubah-ubah. Tergantung situasi. Kalo deadline tugasnya masih jauh, maka malas akan menang telak. Pasti. Tapi kalo deadline tugasnya udah dekat, maka tugas yang menang. Malasnya mengalah sejenak demi nilai yang lebih baik. Tapi ada juga kok yang deadline tugasnya udah nyampe tapi tugas tak kunjung selesai. Nah kalo itu namanya seri alias draw.

Udahan dulu ah.
Bye.
Muachh seribu kali....
Share:

Friday, January 8, 2016

Pada Sebuah Temu, Kita Membisu

Suatu hari aku pernah sangat ingin menemuimu. Melihat segaris senyum yang menenangkan di wajahmu yang bulat. Melihat tatapmu yang tajam menusuk relung batin. Melihat tawamu. Oh iya, tawamu. Aku suka ketika melihat kamu tertawa sembari menutup mulutmu dengan kedua tangan.

Lalu aku mencarimu. Aku mencarimu di perpustakaan kampus, namun tak ada. Aku tak melihat kamu yang biasanya sedang membaca di sebuah sudut meja di perpustakaan itu. Ah mungkin semua novel di perpustakaan ini sudah habis kau baca, pikirku. Lalu aku mencarimu di sebuah tempat makan. Namun yang kudapati hanyalah orang-orang rakus berwajah lapar. Oh, mungkin kamu sudah lebih dulu menghabiskan Lobster Saus Tiram kesukaanmu disini, pikirku lagi. Petang tiba, namun aku belum menemuimu hingga akhirnya mentari tak lagi tampak.

Benar adanya bahwa kita hanya bisa berencana, selebihnya Tuhan yang menentukan. Esoknya, tanpa direncana, tanpa diduga, aku  menemuimu yang sedang duduk menunggu hujan reda. Kamu termenung kala itu. Tatapmu kosong ditengah dinginnya hujan. Aku ingin menghampirimu, mengajakmu mengobrol untuk sekedar menghangatkan gigilmu, membicarakan sebuah novel yang pernah kita baca kemudian menghardik si tokoh utama dalam novel tersebut karena terlalu egois. Lalu kita membicarakan hujan yang turun, hujan yang bukan menjadi tempat yang baik untuk seseorang yang ingin melupakan kenangan, hujan yang akan membawaku kepada satu kesimpulan bahwa senyummu adalah sebaik-baiknya penghangat bagi aku yang selalu merasakan dingin di dekatmu. Tapi semua itu urung terjadi. Aku lebih dulu kaku.

Disana, di sebuah sudut yang tak terlihat olehmu, Aku hanya diam memperhatikanmu. Tak berani menampakkan diri, apalagi menyapamu dan berbicara denganmu seperti di khayalanku. Begitulah akhirnya aku. Berharap untuk bisa dekat dengamu. Tapi nyatanya setiap aku menemuimu, aku hanya diam. Semua kata yang ada seolah tercekat di tenggorokan. Bahkan kadang dalam mimpi, aku dan kamu tak lebih dari seseorang yang hanya sebatas tau.

Pada sebuah temu, kita memang saling membisu. Tak pernah ada kata terucap, tak pernah ada kisah terukir, tak pernah ada sapa menyapa. Tapi percayalah, dalam doa-doaku yang panjang, aku menyapamu lebih sering. Dalam doa-doaku yang panjang, aku menjagamu tanpa lelah. Dan dalam doa-doaku yang panjang, aku berkata kepada Tuhan bahwa aku mencintaimu.


Biarlah sekarang kita membisu, hingga kelak setiap kata yang kita ucapankan adalah alasan untuk kita saling bertemu dikala rindu. Semoga begitu.
Share:

Tuesday, November 3, 2015

Temui Aku Senja Esok

Tadi malam kita bertemu lagi pada sebuah mimpi. Kita bertemu. Tak lama. Dan memang tak pernah lama. Diantara pertemuan singkat itu, tak ada kata yang terucap. Aku, hanya diam memandangimu. Diamku bukan karena bisu. Hanya saja aku terpaku pada ketidakberdayaanku. Pun kamu, hanya diam memandangiku yang sudah kaku. Mungkin kita diam untuk saling memberikan ruang. Ruang yang disesaki oleh banyak kenangan, ruang yang mengingatkan lagi bahwa dalam cinta, kita pernah sama-sama menang. Sesekali kamu memandangi sebuah arloji yang ada tepat di belakangku. Hingga akhirnya, entah pada detik keberapa, kamu pergi.

Aku terbangun. Tersenyum dan kemudian berterimakasih pada malam. Malam terlalu baik hingga tak jarang ia menemukan kita berdua didalam mimpi. Tapi, kadang malam juga terlalu jahat. Ia meninggalkanku sendiri bersama sunyi. Bersama gugusan rasi yang seolah menertawai. Bersama sepi yang enggan menepi. Membuatku memikirkanmu hingga pagi lagi.

Masih banyak pertanyaan yang engkau tinggalkan di mimpi tadi. Mengapa tak terdengar suaramu menyapaku lagi? Mengapa tak terlihat raut senyum di wajahmu? Mengapa seolah-olah kamu menjauh? Ah tapi aku juga bodoh. Mengapa tak kusapa kamu duluan, kemudian kita berbicara tentang kita di masa depan. Mengapa tak kubuat kamu tersenyum lagi, hingga hilang sedih-sedihmu. Mengapa aku tak mendekatimu, merangkul tanganmu dan memberikan sebuah kekuatan untuk menghadapi rintangan bersama.

Aku ingin bertemu. Membicarakan semua yang masih tertinggal diantara kita. Agar akhirnya aku dan kamu bisa mengerti bahwa mencintai adalah sebaik-baiknya cara untuk berbagi. Karena di dalam cinta, aku dan kamu adalah satu. Maka, agar tak banyak lagi tanya yang menyisa, aku menyiapkan satu waktu untuk bertemu denganmu. Waktu dimana mentari pulang memeluk bumi dan kelam mulai merangkul langit. Diwaktu senja.

Temui aku senja esok.
Diantara jingga yang mulai menapak langit. Diantara kepakan sayap burung yang memukuli udara. Temui aku. Akan aku ceritakan padamu tentang aku yang tak pernah lelah jatuh cinta kepadamu. Dari temu pertama hingga kelak. Kelak yang kuartikan selamanya.

Temui aku senja esok.
Di tempat pertama aku menatapmu. Di tempat aku mulai menjadi pecandu akan senyum di raut wajahmu. Temui aku. Akan aku ceritakan bagaimana aku melawati malam dengan melukiskan dirimu dalam sajak-sajak. Kemudian kurapalkan namamu dalam bait doa sebelum tidur. Hingga akhirnya kita bertemu, dalam sebuah mimpi yang telah kusiapkan.

Temui aku senja esok.
Diantara detak jantungku yang lebih cepat dari waktu. Diantara senja yang menyatu bersama rindu. Temui aku. Akan aku ceritakan bagaimana aku merindu akan dirimu. Lalu, aku ceritakan pula bagaimana aku mengenang tiap-tiap cerita kita dulu. Tentang kita yang pernah sama-sama tak ingin menjauh.

Temui aku senja esok.
Senja esok yang akan menjadi saksi bahwa diantara aku dan kamu, masih ada rasa untuk saling memiliki. Senja yang didalam biasnya kita lukis dengan banyak cerita dan cinta.

Temui aku senja esok.
Temui saja. Meski aku dan kamu telah bersekat pada dimensi berbeda.

Untuk kamu, yang telah 40 hari menjadi bidadari di surga.
Aku rindu.


P.S: Surat ini aku letakkan tepat diatas batu nisanmu. Semoga ada malaikat baik yang membacakannya untukmu.
Share: